JAKARTA | duta.co – Allah SWT perlahan menunjukkan kebenaran kepada bangsa Indonesia. Banyak orang ditangkap karena dituduh memposting ujaran kebencian dan dijerat pasal karet UU ITE, tapi sebaliknya banyak juga yang lolos sebab disebut sebagai bagian dari penguasa.

Hal itu terlihat dari kebijakan raksasa media sosial Facebook atas maraknya kasus ujaran kebencian di Indonesia via media sosial. Saat menangkap gelagat  ada perilaku pengguna Facebook yang mencurigakan, petingginya pun bersikap tegas.

Kepala Kebijakan Kemananan Siber Facebook, Nathaniel Gleicher, mengatakan, pihaknya  telah menutup ratusan akun Facebook di Indonesia pada 31 Januari 2019. Salah satunya halaman milik Permadi Arya atau Abu Janda.

Ditutupnya akun media sosial Facebook milik Permadi alias Abu Janda ini disyukuri banyak kalangan sebagai sebuah langkah penyelamatan NKRI dari perpecahan. Langkah yang diambil oleh Facebook sendiri itu karena menganggap Abu Janda terlibat dari bagian Saracen. Yang unik, orang-orang Saracen sudah ditangkap. Tapi mengapa Abu Janda bisa lolos? Yang jelas Janda membantah terlibat Saracen. Namun masyarakat tidak sepenuhnya percaya bantahannya.

“Abu Janda dengan fitnah-fitnahnya, sembunyi di balik Islam memecah bangsa ini. Beruntung Facebook sendiri yang kemudian menutup akun gratis milik si Abu Janda,” kata Ketua GNPF Ulama Binjai, Ustaz Sani Abdul Fattah, Sabtu (9/2/2019).

Adapun Saracen, menurut Sani, adalah sebuah bagian skenario untuk melemahkan dan menghancurkan umat islam di Indonesia.

“Kami berkeyakinan bahwa akun ini mengatasnamakan Islam tapi hakikatnya untuk menghancurkan islam,” lanjut Sani.

Kasus Saracen yang menggantung itu, sambung Sani, mesti dilanjutkan dengan adanya penutupan akun milik Abu Janda oleh Facebook. Maksudnya, polisi bisa menyelidiki Abu Janda sebab yang tahu masalah konten negatif adalah pemilik medsos tersebut dalam kasus ini adalah facebook.

“Tak ada pemangku kekuasaan yang inisiatif tertibkan akun semacam milik Abu Janda, jadi Facebook lebih cinta NKRI. Mereka tutup akun seperti milik Abu Janda akun yang sangat meresahkan Bangsa Indonesia, khususnya umat islam. Bongkar topeng Saracen sebenarnya,” demikan Ustaz Sani.

Abu Janda sendiri mengancam akan menggugat Facebook Rp 1 triliun karena dituding mencemarkan nama baiknya. Ia merasa platform media sosial ini membuat tuduhan tak beralasan karena mengaitkan akunnya dengan Saracen. Ia bahkan sudah melayangkan somasi ke Facebook.

Lewat laman resmi pemberitaan mereka, newsroom.fb.com, media sosial besutan Mark Zuckerberg ini mengatakan ada 207 halaman Facebook, 800 akun, dan 546 grup di Facebook yang mereka tutup. Alasannya, Facebook melihat akun-akun ini memiliki kecenderungan perilaku yang tidak otentik.

Perilaku tidak otentik ini kemudian berpotensi menyesatkan orang lain tentang siapa mereka dan apa yang mereka lakukan. Semua halaman, akun, dan grup ini ditautkan ke Grup Saracen, sindikat online di Indonesia.

“Kami mencatat halaman, grup, dan akun berdasarkan perilaku mereka, bukan konten yang mereka posting. Dalam hal ini, orang-orang di belakang kegiatan ini berkoordinasi satu sama lain dan menggunakan akun palsu untuk merepresentasikan diri mereka sendiri, dan itu adalah dasar dari tindakan kami,” tulis Facebook.

Media sosial ini pun mengungkapkan telah berupaya mendeteksi dan menghentikan aktivitas tersebut karena tidak ingin layanan mereka digunakan untuk memanipulasi orang.

“Pengumuman hari ini hanyalah salah satu dari banyak langkah yang telah kami ambil untuk mencegah aktor jahat menyalahgunakan platform kami,” kata Facebook dalam situs resminya. “Kami akan terus berinvestasi dalam keselamatan dan keamanan untuk memastikan bahwa orang dapat terus mempercayai koneksi yang mereka buat di Facebook.”

Abu Janda selama ini merupakan pendukung Capres Jokowi. Dia pernah  membuat heboh lantaran berbicara dalam sebuah rekaman video yang tersebar di media sosial dan telah ditonton 18 ribu kali itu.

Dalam video itu Abu Janda menyapa komunitas yang tergabung dalam grup WhatsApp Aceh Love Jokowi.

Lantas ia mengajak netizen atau warga Aceh untuk memilih Jokowi satu periode lagi dalam Pilpres 2019 mendatang.

Alasannya, menurut Abu Janda, memperjuangkan Jokowi bukan hanya soal politik atau pertarungan dengan Capres Prabowo yang menjadi rivalnya.

Abu Janda juga menuliskan cuitannya yang menyindir lawan politik Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019.

Dilansir TribunWow.com, melalui akun Twitter pribadinya @permadiaktivis yang ia tuliskan pada Jumat (20/4/2018).

Beberapa waktu ini, beredar beberapa atribut seperti gelang, kaus dengan #2019GantiPresiden. Presiden Jokowi juga berkomentar soal kaus ganti presiden ini.

Abu Janda lalu menyebut jika kampanye soal kaus itu lantaran sejumlah oknum tersebut tidak memiliki calon yang jelas dan tidak berprestasi.

“Kenapa mereka nyablon kaos? karena belom tau yang mau nyalon siapa.

Kenapa mereka nyablon kaos? karena yang mau nyalon gak jelas prestasinya apa.

Kenapa mereka nyablon kaos? karena gak kebeli jaket, jadi kaos aja,” tulis Abu Janda.

 (RMOL/wis)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.