MASA DEPAN BUMI --  Dua bulan tim peneliti yang terdiri 64 orang, tergabung dalam Japan Antartic Research Expedition (JARE) meneliti masa depan bumi. Mereka sebagai observer melalui program Asian Forum for Polar Sciences (AFOPS). Tampak mereka berada di medan yang dingin. (FT/humas-ugm)

NUGROHO IMAM SETIAWAN MENGABARKAN DARI BUMI ANTARTIKA

 

MASA DEPAN BUMI —  Dua bulan tim peneliti yang terdiri 64 orang, tergabung dalam Japan Antartic Research Expedition (JARE) meneliti masa depan bumi. Mereka sebagai observer melalui program Asian Forum for Polar Sciences (AFOPS). Tampak mereka berada di medan yang dingin. (FT/humas-ugm)

Hampir sebulan, Peneliti UGM, Nugroho Imam Setiawan, PhD, berada di Antartika. Dosen di Departemen Teknik Geologi UGM itu terpilih mengikuti kegiatan penelitian masa depan planet bumi yang diadakan Japan Antartic Research Expedition (JARE). Kemarin ia sempat menulis kabar baru dari belahan bumi super dingin ini.

YOGJAKARTA – Ada kabar baik dari Nugroho Imam Setiawan, ST, MT, PhD, dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) yang kini sedang berada di Antartika. Menurut Nugroho, penelitian perihal masa depan bumi, yang telah dilakukan sejak Jumat (23/12) berjalan lancar.

“Sudah 17 hari tahap pertama fieldwork di Antartika. Rehat sejenak selama 1 hari di kapal setelah 17 hari fieldwork di lapangan dengan tiga lokasi berbeda. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan dari segi geologi, medan, iklim, dan lokasi base camp. Rehat 1 hari kali ini di Kapal Shirase, kami gunakan untuk mandi (akhirnya mandi juga), cuci pakaian, input data, menyiapkan peta kerja  selanjutnya, dan kembali melihat hiruk-pikuk dunia,” tulis Nugroho Jumat (13/1) kemarin.

Nugroho memang beruntung, ia terpilih mengikuti kegiatan penelitian masa depan planet bumi di Antartika. Penelitian selama dua bulan ini diadakan Japan Antartic Research Expedition (JARE). Nugroho bersama sejumlah (64) peneliti lainnya tergabung dalam tim JARE 58. Selain dirinya, ada peneliti dari Jepang ada dua peneliti lain dari Mongolia dan Srilanka.

Nugroho memulai perjalanan menggunakan kapal ekspedisi Shirase pada akhir Desember 2016 menuju Antartika. Selama bulan Januari hingga Februari 2017 dia melakukan penelitian mengenai berbagai batuan geologi. Pada paruh bulan Januari ini, dia membagikan cerita pengalamannya selama di Antartika. Cerita pengalaman ini dikirimkan melalui email ke Humas UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogjakarta.

Hari ini, kata Nugroho, masih ada waktu satu bulan fieldwork. Besok kalau cuaca baik, kembali ke lapangan untuk 15 hari selanjutnya. Untuk pindah lokasi base camp, kami
diantar-jemput dengan dua helikopter secara bergantian.

 

Tidak ada tipe batuan lain di lokasi penelitian selain batuan metamorf (gneissik) dan granitoids (pluton maupun pegmatit) ataupun perpaduan keduanya (migmatit). Honeycomb structure sering dijumpai pada batuan akibat gerusan angin dengan iklim kering di permukaan batuan,” jelasnya.

Tiap hari, lanjutnya, kami mengoleksi 10-20 kg sampel batuan dengan jarak tempuh 5-10 km. Basecamp dibangun dengan 1 tenda besar untuk kegiatan bersama (makan dan bekerja). Tujuh tenda kecil untuk masing-masing peserta ekspedisi dan 2 tenda toilet. 

“Kalau beruntung dapat tempat datar dengan alas pasir kasar dari gerusan angin pada batuan. Karena tidak ada pilihan lain biasanya dapat alas batu-batu runcing dengan kondisi miring. Baru 1 hari alas tenda an matras sudah robek. Pada musim panas kali ini, suhu udara bervariasi dari (minus) – 5 derajat hingga 5 derajat celcius dengan kelembaban udara 40 hingga 60 persen.  Beberapa kali kami harus bekerja seharian dalam kondisi minus 2 derajat ditambah angin dingin dan hujan salju,” katanya.

 

Pada malam hari, menjelang tidur, di dalam tenda-pun suhu masih -1 hingga nol derajat. Untung ada sleeping bag hangat sebagai penjamin tidur tetap nyenyak.  Medan berat dengan bebatuan runcing membuat 15 hari pertama kami cukup melelahkan dan sepatu baru kami sudah robek di sana-sini.

 

“24 jam non-stop matahari menghajar kami dan membuat wajah menjadi belang kehitaman walaupun sudah pakai sun-blok spf 50++ setiap hari. Kelembaban yang rendah membuat kulit di tepi kuku mudah mengelupas dan perih. Tapi rasa lelah itu tidak sebanding dengan pengalaman, ilmu, dan rasa kagum akan keagungan Tuhan,” tambahnya.

 

Berita soal Antartika memang cukup memprihatinkan. Ada kabar retakan besar dan panjang di beting es Larsen C, Antartika, kutub selatan, kini kondisinya bertambah drastis dalam sebulan terakhir. Akibatnya, Larsen C terancam kehilangan sekitar 10 persen areanya atau seluas 5.000 kilometer persegi. Pecahnya beting es ini menjadi salah satu disintegrasi terbesar dalam sejarah.

Pertumbuhan rekahan di Larsen C telah diamati dalam 10 tahun terakhir. Saat ini hanya tersisa lapisan es sepanjang 20 kilometer yang mencegah bongkahan besar itu lepas dari Larsen C.  “Retakan itu mendadak bertambah panjang hingga 18 kilometer sepanjang paruh kedua Desember 2016,” kata Profesor Adrian Luckman, kepala tim proyek riset MIDAS, seperti ditulis Livescience, Jumat pekan lalu.

Beting es di Antartika adalah lapisan luas yang mengapung di laut. Lapisan es itu bisa memiliki ketebalan ratusan meter dan menjadi penahan lapisan glasier beku di belakangnya. Ada enam beting es di Antartika yang luasnya lebih dari 40 ribu kilometer persegi. Luas Larsen C, beting es terbesar keempat di Antartika, mencapai 48.600 kilometer persegi dengan ketebalan hingga 500 meter.

Larsen C adalah pertahanan terakhir glasier beku di daratan Antartika agar tak jatuh ke laut. Jika lapisan es yang luasnya hampir sama dengan Pulau Bali itu lepas dari Larsen C, menurut Luckman, lanskap Semenanjung Antartika bakal berubah total. Peristiwa itu juga bisa memicu keruntuhan yang lebih masif lagi pada lapisan es di bagian utara Antartika.

Martin O’Leary, peneliti dari Universitas Swansea, Inggris, mengatakan pecahnya beting es Larsen C bisa membuat kawasan itu tak stabil. “Jika lapisan itu kolaps, tak ada yang menahan glasier lagi dan es bisa mengalir ke laut lebih cepat,” katanya.

Kerusakan serupa pernah terjadi di kawasan Larsen B yang relatif stabil selama 10 ribu tahun terakhir. Pada 2002, sebagian area Larsen B seluas 3.250 kilometer persegi dengan ketebalan 200 meter kolaps dan hanyut ke laut. Area Larsen B yang tersisa kini hanya 1.600 kilometer persegi. Adapun kawasan Larsen A sudah mengalami disintegrasi pada 1995.

Menurut O’Leary, seperti ditulis The Guardian, 6 Januari lalu, pembelahan lapisan es merupakan proses alami yang terjadi setiap beberapa dekade. Fenomena ini bisa terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim. Masalahnya, disintegrasi lapisan es dalam jumlah besar justru mempercepat melelehnya glasier yang juga dipengaruhi oleh air laut yang menghangat.

Ancaman retakan lapisan Larsen C juga mempengaruhi proyek riset di sana. Badan Survei Antartika Inggris sudah merilis laporan yang menunjukkan bongkahan es besar siap “terbelah” dari Larsen C. “Karena kondisi yang tak menentu di area Larsen C, kami tak bermukim di sana kali ini,” kata Direktur Bidang Sains, David Vaughan.

Bongkahan es alias iceberg yang lepas dan hanyut ke laut, menurut Luckman, tidak serta-merta meningkatkan ketinggian permukaan air laut. Tapi risiko semakin besar jika glasier yang selama ini ditahan beting es luruh ke laut. Jika seluruh es yang ada di Larsen C masuk ke laut, ketinggian permukaan air bisa meningkat hingga 10 sentimeter.

Untungnya, Semenanjung Antartika tidak mengandung es sebanyak di bagian barat dan timur kawasan itu. Potensi kenaikan permukaan air laut jika Larsen C lenyap masih bisa dihitung dalam skala sentimeter.

Para peneliti di proyek MIDAS belum menyatakan adanya relasi keruntuhan Larsen C dengan perubahan iklim. Tapi hasil riset kolaborasi Badan Survei Antartika Inggris Badan Geologi Amerika Serikat tahun lalu menunjukkan Larsen C kehilangan lapisan setebal 4 meter. Menghangatnya temperatur Semenanjung Antartika berkontribusi terhadap melelehnya es di kawasan itu. Laut yang menghangat juga dinilai membawa dampak besar pada Larsen C.

Kabar buruk Semenanjung Antartika ini tidak membuat para peneliti menyerah. Meski diakui kondisinya semakin berat. “Kondisi di luar kapal sangat dingin dengan suhu rata-rata -5 derajat celcius. Alhamdullilah tidak ada badai dan kami sudah tidak bisa lagi menjumpai malam hari lagi karena matahari selalu bersinar 24 jam,” papar Nugroho yang akan mengakhiri penelitiannya 5 Februari mendatang.

Ia menambahkan kapal Shirase yang dipakai, dilengkapi teknologi memecah es sehingga jalur pelayaran di atas es menjadi lautan terbuka selebar tubuh kapal. Hal ini dimanfaatkan rombongan penguin berspesies Adelie untuk mencari ikan di sepanjang jejak yang ditinggalkan oleh Shirase. Akibatnya, bagian belakang kapal menjadi tempat berkumpul para penguin.

Ada fakta menarik seputar Antartika yang tak banyak diketahui orang. Antartika adalah gurun terluas di dunia. Inilah satu-satunya benua tanpa reptil. Antartika  juga menjadi tempat terdingin di bumi, di mana suhunya bisa mencapai minus 93,2 derajat celcius. Beberapa bagian dari Antartika tidak terguyur hujan atau salju selama 2 juta tahun terakhir. Ada air terjun di Antartika yang airnya berwarna merah. Sembilan puluh persen kandungan air tawar dunia ada di Antartika. Anda tidak bisa bekerja di Antartika kecuali Anda memiliki riwayat kesehatan gigi dan tulang terbaik. Inilah satu-satunya benua tanpa zona waktu.

Pada tahun 1977, Argentina mengirim seorang ibu hamil ke Antartika dalam upaya untuk mengklaim kepemilikan sebagian dari benua. Anak dari wanita tersebut dinobatkan sebagai manusia pertama yang lahir di Antartika. Pertanyaan berikutnya seberapa parah bumi ini dipandang dari Antartika? Inilah yang akan dibawa pulang 64 peneliti handal. (dt,ugm,tmp,tg)

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan