Endang Sulistiyani, M.Kom – Dosen Program Studi S1 Sistem Informasi Fakultas Teknik

Orang di Indonesia memilih berselanjar di media sosial (87%) dan chatting (84%) dalam menggunakan smartphone. Data ini bersumber dari survey yang dilakukan oleh DI Marketing. Aktivitas ini dilakukan oleh semua golongan umur, mulai di bawah 18 tahun sampai di atas 30 tahun. Fenomena ini menjadikan hamper sebagian besar pengguna internet mengakses sosial media dan chatting

Pada dasarnya, media sosial merupakan media dalam jaringan yang memungkinkan penggunanya untuk berpartisipasi, berbagi, bahkan membuat konten. Melihat definisi tersebut, jelas pada awalnya media sosial ditujukan agar umat manusia mudah dalam berkomunikasi tanpa terbatas jarak dan waktu. Akan tetapi tidak jarang kebermanfaatan media sosial disalahartikan.

Sampai tahun 2018 silam, paling tidak ada 7 kasus tentang status di media sosial yang sampai ke ranah hukum. Kasus tersebut melibatkan ibu rumah tangga, PNS, bahkan dosen. Bentuk pelanggaran beraneka rgam, mulai curhatan pribadi, pencemaran nama baik, dan juga ujaran kebencian.

 Tidak hanya orang dewasa, remaja bahkan anak-anak pun ikut terlibat kasus penyalahgunaan media sosial. Sebagai contoh, pada Bulan Februari terjadi tawuran yang menewaskan 2 pelajar SD dan SMP, dimana penyebabnya adalah saling ejek di media sosial.  Sebelumnya pada tahun 2014, enam anak menjadi korban kasus pornografi anak online oleh seorang dokter palsu.

Fenomena yang ada sampai saat ini, menimbulkan pertanyaan menggelitik, “secara teknologi tentu semakin cerdas, lantas mengapa kasus pelanggaran semakin banyak bermunculan”. Jangan-jangan pengguna belum “smart” dalam menggunakan teknologi yang smart. Kalau sudah seperti ini, bagaimana orang tua dapat mengarahkan anaknya untuk bermedia sosial yang sehat.

Kenyataannya, kemajuan inovasi digital dan kemudahan akses internet saat ini masih belum diiringi dengan kualitas sumber daya manusia. Kesenjangan usia digital sering kali menyulitkan bagi orang tua tau guru untuk menasihati anak tentang penggunaan yang aman dan bertanggung jawab.

Hal ini terjadi karena orang tua lahir ketika media sosial masih belum booming, sedangkan anak-anak sudah mengenal media digital sejak mereka lahir.

Lantas apa solusinya?

Digital Quotient atau dalam bahasa indonesia yaitu kecerdasan digital adalah solusinya. Himpunan kemampuan sosial, emosional dan kognitif yang memungkinkan individu untuk menghadapi tantangan dan beradaptasi dengan tuntutan kehidupan digital menjadi sebuah kebutuhan. Kecerdasan ini terdiri dari 8 buah, yaitu identitas, pemanfaatan, keselamatan, keamanan, kecerdasan emosional, komunikasi, literasi, dan hak digital.

  1. Identitas digital, merupakan kemampuan untuk membuat dan mengelola identitas dan reputasi online.
  2. Pemanfaatan digital, merupakan kemampuan untuk menggunakan perangkat dan media digital termasuk control untuk mencapai keseimbangan yang sehat antara kehidupa online dan offline.
  3. Keselamatan digital, merupakan kemampuan untuk mengelola resiko secara online.
  4. Keamanan digital, merupakan kemampuan untuk mendeteksi ancaman cyber.
  5. Kecerdasan emosional, merupakan kemampuan untuk berempati dan membangun hubungan yang baik dengan orang lain secara online.
  6. Komunikasi digital, merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain dalam menggunakan teknologi dan media digital.
  7. Literasi digital, merupakan kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, berbagi dan membuat konten sebaik kompetensi dalam berpikir komputasi.
  8. Hak digital, merupakan kemampuan untuk memahami dan menjunjung tinggi hak hak pribadi dan hukum termasuk hak untuk privacy, kekayaan intelektual, kebebasan berbicara dan perlindungan dari ujaran kebencian.

Kecerdasan digital bukanlah suatu kemampuan yang dapat dibangun dalam satu atau dua hari. Kecerdasankan ini butuh untuk ditanamkan sejak dini sedini anak-anak mengakses perangkat atau dunia digital.

Oleh karena itu, untuk kedepannya diharapkan ada program secara khusus yang diterapkan di sekolah pada semua jenjang untuk mengenalkan kecerdasan digital. *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.