Gubernur Khofifah Indar Parawansa saat melihat koleksi batik Madura Al-Warits. foto ; zal

Pandemi Covid-19 menjadi badai yang sangat kuat menghantam ekonomi Indonesia. Sejumlah sektor harus bertekuk lutut terhempas pandemi. Namun, banyak juga yang bertahan meski sempat oleng. Mereka adalah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang berusaha berdiri dengan rapuhnya kaki.

Uluran tangan pemerintahlah yang menjadi salah satu harapan.  Hal ini dirasakan para perajin batik Madura. Seperti diungkapkan perajin batik madura, Warisatul Hasanah (31). Meski produknya mencapai pasar manca negara, dirinya juga merasakan kuatnya benturan pandemi.

Produsi batik berlabel Al-Warits ini turun hingga 90 persen. Sebelum pandemi, batik asal Tanjungbumi Bangkalan ini mampu memproduksi batik hingga 5.000 lembar per bulan. Sedangkan saat pandemi covid-19 produksinya turun sekitar 30-50 lembar per bulan.

“Saat itu kan ndak ada yang beli batik. Produksi kita sekitar 1 lembar per pengrajin. Bahkan kami sempat off, pengerjaannya dibawa pulang para perajin,” ungkap perempuan kelahiran Bangkalan 10 Maret 1989 ini.

Bagaimana bisa bertahan? Menurutnya, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa lah salah satu yang memberi kekuatan para pengrajin batik di Madura. Aksi borong yang kerap dilakukan saat berkunjung ke Madura berdampak langsung pada UMKM Batik di Madura.

“Alhamdulillah beberapa tahun ini kita ada terbantu dengan bu Khofifah. Beliau pesan langsung batik di Madura. Bu Khofifah ini memang turun langsung ke lapangan jadi beliaunya tahu kondisi pelaku UMKM,” cerita Waris dengan semangat.

Gubernur Khofifah memang dikenal sebagai sosok yang sangat mencintai batik dan memiliki banyak koleksi batik di nusantara.

Sebagai perajin batik, ia mengaku sangat terbantu memiliki gubernur yang sangat mencintai batik. Apalagi, Gubernur Khofifah secara langsung memesan dan membeli batik langsung ke UMKM. Termasuk ke galeri Al-Warits Batik Aromatherapy,Jalan Raya Klampis Timur, Bangkalan Madura

“Bu Khofifah sering beli batik-batik di Madura. Dibeliin semua sama beliau, itu sangat membantu. Dan hanya bu Khofifah yang seperti ini. Kami pengrajin batik sangat terbantu sekali dengan tindakan bu Khofifah,” ungkapnya dengan logat Madura yang kental.

Selain itu, dirinya juga tetap menjaga kualitas agar pelanggannya tetap setia pada produknya. Khususnya pada produk kelas premium. Usaha yang dirintis sejak tahun 2008 ini, telah mampu mengembangkan batik dengan Aromatherapy sebagai salah satu kelas premium.

Batik Aromatherapy ini, kata Waris merupakan batik tulis Madura yaitu Batik Tanjung Bumi yang mengandung aroma. ” Aromanya macam-macam mas, aroma rempah khas Indonesia seperti aroma mawar, melati, cempaka dan aroma lainnya,” jelasnya.

Untuk menghasilkan produk batik aromaterapi yang berkualitas, prosesnya tidak mudah. Butuh waktu sekitar  1-6 bulan. Ketahanan aromanya mencapai 4 tahun, meski telah dicuci.

Selain batik aromaterapi, usahanya juga memproduksi sejumlah batik tulis dengan bermacam motif mulai oghet, sabhut, sekmelaya dan motif yang lainnya. Harganya mulai ratusan ribu, hingga puluhan juta rupiah. ” Tergantung dari motif dan kalitasnya,” tandasnya.

Untuk pemasaran, selain offline dirinya juga memanfaatkan platform digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas. ” Alhamdulillah kalau pasarnya sudah lokal, nasional bahkan sudah internasional,” bebernya.

Pengrajin batik Madura yang diajak kerjasama oleh Al-Warits untuk di pasarkan ke mancanegara. foto; ist

Dalam menjalankan usahanya, Waris bekerjasama dengan ratusan pengrajin batik yang ada di daerahnya. Selain itu, ia juga mempekerjakan 17 karyawan. “Ini yang menjaga toko dan ada juga marketing di Malaysia dan Korea,” imbuh alumni Perbanas Surabaya ini.

Promosi batik Madura juga sering dilakukannya hingga manca negara. Yang terbaru dirinya mengikuti Indonesia Fair di Bangkok Thailand. Di event yang didominasi fashion ini dirinya mengungkapkan mendapatkan banyak pesanan.

“Alhamdulillah pesanannya banyak. Tidak hanya produk saya saja yang saya jual. Saya bekerjasama dengan pengrajin batik di Madura. Produk mereka saya jualkan, membawa nama seluruh pengrajin batik di madura. saya sebagai ketua IKM (Industri Kecil Menengah) Bangkalan harus mendukung dan support juga IKM kecil. Kalau mau ekspor, saya umumkan di grup spesifikasinya. Jadi semuanya (batiknya para pengrajin) bisa laku,” terang Waris.

Berkat ketekunan dalam merintis usaha, tahun 2016, Waris mendapatkan penghargaan dari Crative Women Of The Word atau Wanita Kreatif Dunia di AS.

Bingung tentukan harga

Sekitar Maret 2022, perekonomian mulai menggeliat lepas dari pandemi covid-19. Pesanan batik tulis Al – Warits perlahan mulai kembali ke jalurnya. Pesananan kembali meningkat hingga pernah masuk di angka 3.000 lembar per bulan. Tak selang lama, sekitar 6 bulan kemudian pemerintah mengeluarkan kebijakan kenaikan harga BBM.

Tak ingin kembali terpuruk, dirinya berusaha menjaga kualitas produknya. Untuk menutup biasa operasional yang meningkat imbas kenaikan harga BBM, dirinya menaikkan harga.

Untuk menjaga pelanggannya agar tidak berpaling, ia menyediakan packaging yang lebih bagus. Diantaranya bentuk box hingga paper bag yang menarik. Sehingga naiknya harga karena ada kemasan yang kebih bagus. “Ini adalah cara untuk bisa menaikkan harga. Karena, biaya operasional naik, cat naik, kain juga naik harganya,” ujarnya.

Selain itu, dirinya juga mulai menghapus program free ongkir(ongkos kirim) untuk mengantisipasi membengkaknya biaya operasional. “Untungnya kenaikan harga BBM tidak berpengaruh pada jumlah pesanan. Tinggal menata kembali membengkaknya biaya operasional,” pungkasnya.

Sementara itu, Gubernur Khofifah mengajak semua pihak untuk membangun satu cita-cita bersama mewujudkan batik Jatim dikenal, digemari dan digunakan masyarakat Indonesia bahkan internasional.

“Ada harapan dan semangat bersama agar batik Jawa Timur nantinya  bisa menjadi bagian dari pengayaan di Paris Fashion Week atau New York Fashion Week , why not? Saya rasa kesempatan-kesempatan itu harus kita bangun dan kita siapkan,” kata Khofifah.

Menurut Khofifah, batik akan lebih memiliki nilai jual dan estetika yang tinggi  ketika mendapat sentuhan dari figur yang tepat. Baik desainer, model dan jejaring market yang kuat, akan bisa memberikan referensi bagi masyarakat luas.

“Saya rasa semangat kita untuk bisa membuat batik 38 Kab/Kota di Jawa Timur naik kelas sangat luar biasa. Memang harus ada sentuhan desainer kondang, harus ada sentuhan dari peraga busana, para model, dan harus ada jejaring market yang kuat untuk bisa membuat batik kita makin dikenal,” tuturnya.

Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UKM Jatim, jumlah UMKM di Jatim untuk usaha menengah dengan omzet di atas Rp2,5 miliar tercatat sebanyak 68.835 unit, dan usaha kecil dengan omzet Rp300 juta – Rp2,5 miliar sebanyak 579.567 unit, sedangkan usaha mikro dengan omzet di bawah Rp300 juta ada 9,13 juta unit.

Khusus akselerasi pemasaran produk dan mendorong digitalisasi koperasi UMKM, Gubernur Khofifah mengatakan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkolaborasi dengan sejumlah platform e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, Lazada, Gojek, dan Grab. Bahkan sudah ada Kampus UMKM Shopee Ekspor yang ada di UPT Pelatihan Koperasi dan UKM yang bertempat di Malang.

“Jawa Timur salah satunya bekerja sama dengan shopee. Bahkan ada kampus UMKM shopee dan dalam satu batch bisa 40 orang. Sekali proses 3 bulan dan itu free of charge. Karena itu proses literasi digital dilakukan sangat detail bagaimana cara memotret, hingga diajarkan bagaimana live streaming cara memasarkan produk sistem managemen FIFO (first in first out) ,” urainya.

Lebih lanjut, Gubernur Khofifah menekankan pentingnya literasi digital bagi pelaku UMKM. Selama ini, Pemprov Jatim dibantu Bank Indonesia telah menyiapkan rumah kurasi untuk mengkurasi produk-produk UMKM sehingga standar dari produk UKM ini relatif baik dan mengetahui bagaimana grade dari produk mereka. (Zal)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry