Kepala BKKBN Pusat, Hasto Wardoyo (kiri) disambut Kepala Perwakilan BKKBN Jatim, Sunaryo Teguh Santoso (tengah). DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Pandemi Coid-19, membuat angka drop out (DO) KB sangat tinggi, termasuk di Jawa Timur. Dengan tingginya angka DO KB itu, berkontribusi terhadap tingginya angka kehamilan.

Padahal, hamil di saat pandemi dikhawatirkan menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan. Misalnya janin dan ibu kurang gizi,  kualitas kehamilan  rendah dan sebagainya.

Karena itu, pemerintah berupaya menekan angka kehamilan dengan program KB yang intensif dan gencar disosialisasikan. Berbagai cara dilakukan para Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) agar program Dua Anak Lebih Baik ini, bisa berhasil.

“Kami jemput bola. Pandemi memang menghalangi gerak kami. Tapi kami tidak menyerah. Sosialisasi tetap kami lakukan dengan menerapkan protokol kesehatan. Karena masyarakat itu kalau tidak didatangi petugas, sulit untuk bisa paham masalah ini,” ujar Kepala Perwakilan BKKBN Jatim, Sunaryo Teguh Santoso.

Selain dengan tatap muka, BKKBN Jatim juga berinovasi dengan membuat web khusus agar masyarakat yang ingin bertanya tentang KB bisa melalui aplikasi resmi yang disediakan. Sehingga masyarakat yang masih ragu untuk bertatap muka dengan petugas KB bisa memanfaatkan aplikasi Siap Bahagia itu.

Dengan gencarnya program yang digelar BKKBN Jatim, mendapatkan apresiasi dari Kemenpar RB. Bahkan BKKBN Pusat turut mengapresiasi hal yang sama.

Tidak mengherankan jika BKKBN Jatim mendapatkan anggaran lebih banyak untuk mencegah tingginya angka kehamilan itu. Anggaran yang digelontorkan BKKBN Pusat sebesar Rp 55 miliar.

Tambahan dana itu diungkapkan Kepala BKKBN Pusat, Hasto Wardoyo saat melakukan kunjungan kerja (kunker) ke kantor Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Minggu (22/11/2020).

“Dulu anggaran di Jatim hanya Rp 5 miliar, sekarang Rp55 miliar. Ini salah satu upaya untuk mencegah kehamilan. Dana sebesar itu untuk aseptor,” katanya.

Hasto menjelaskan, anggaran senilai Rp55 miliar tersebut untuk mengakomodir masyarakat agar tidak drop out KB dengan cara suntik, pasang susuk dan lainnya.

Dengan adanya pandemi Covid-19 alat kontrasepsi sudah bisa diantar ke bidan-bidan negeri dan swasta. Menurutnya hal itu diperbolehkan asal dengan prosedur, yakni menghibahkan barang milik negeri ke swasta.

“Karena kami menghawatirkan tahun depan jika pandemi belum selesai dan banyak angka drop out KB di masyarakat, maka angka kehamilan akan tinggi. Maka sekarang kami pro aktif ke masyarakat,” ujarnya.

Dijelaskan Hasto, angka drop out KB secara nasional saat pandemi COVID-19 masih mendekati sembilan persen, tapi Surabaya bisa sampai 13 persen.

Kami sangat memperhatikan itu. Kalau ada tiga juta orang yang minum pil KB tapi tidak minum, suntik pil KB tapi tidak suntik, maka diperkirakan angka kehamilan akan naik. Itu yang harus diantisipasi,” ujarnya.

Selain itu terjadi angka penuruan aseptor KB pada bulan Maret-April. Pada bulan itu, Hasto memprediksi ada tambahan angka kehamilan sekitar 400 ribu.

“Kita akan lihat pada bulan Januari 2021 seperti apa. Dengan anggaran Rp55 miliar ini semoga dapat mencegah tingginya kehamilan di Jatim,” katanya. end/ril

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry