TRENGGALEK | duta.co – Masih misteri, apa yang menyebabkan Tukiyem (51) warga Dusun Jeruk Gulung Desa Surenlor Kecamatan Bendungan Kabupaten Trenggalek, tewas mengenaskan.

Dugaan sementara Tukiyem menjadi korban penganiayaan dan pengeroyokan tujuh orang yang masih keluarganya. Konon satu orang di antaranya merupakan anak korban sendiri.

Modus yang dilakukan ketujuh orang anggota keluarga korban itu. dengan memperagakan diri masing-masing dalam kondisi tidak sadar alias kesurupan. Kini kasus yang langka tersebut masih ditangani secara insentif pihak Polres Trenggalek dengan menggelar olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) bersama dengan mengkorek keterangan terduga pelaku.

Kapolres Trenggalek AKBP Didit Bambang Wibowo S melalui Kastreskrim AKP Sumi Andana membenarkan peristiwa tersebut. “Untuk saat ini semuanya telah diamankan di Polres Trenggalek dan kasus masih dalam proses penyelidikan petugas,” terangnya, Senin (5/3/2018).

AKP Sumi membeberkan, awal kejadian itu pada Jum’at , (2/3) di mana terduga pelaku, Ani Aprilia, (20) yang masih anak kandungnya sendiri mengalami kesurupan hebat. Entah karena faktor apa, keesokan harinya , Rini Astuti, (25), Agus (30), Dewi, (23), Andris, (28) dan N, (16) kesemuanya masih saudara, ini juga mengalami hal yang sama.

“Awalnya satu orang yang kesurupan, namun esoknya disusul enam orang yang lain yang masih keluarganya,” katanya.

AKP Sumi mengaku pihaknya masih mendalami kasus ini dan berjanji akan menuntaskan secara tuntas agar kejadian yang melibatkan empat rumah yang masih serumpun ini cepat terkuak. “Itu semua dari satu rumpun dan kita masih gali motifnya,” tandasnya.

Aneh, mereka yang mengeroyok nenek Tukiyem kondisinya kesurupan semua. (FT/DUTA.CO)

Guna memastikan penyebab keamatian korban, masih keterangan Sumi, petugas mengambil langkah dengan melakukan outopsi tehadap jenazah. Berdasarkan hasil outopsi dari dokter ahli forensik Bhayangkara Kediri, korban tewas tidak wajar dan diduga telah dianiaya.

“Dari hasil outopsi, pada tubuh korban telah ditemukan tanda-tanda kekerasan dan aliran udara tertutup oleh air, kekerasan pada mulut serta rongga dada dan paru-paru penuh dengan cairan. Diduga korban ini telah digelonggong air, kemudian lemas dan meninggal dunia,” ucapnya.

Sementara menurut Katirin (52) tetangga korban menuturkan, peristiwa naas itu berawal pada Minggu (4/3) ke 6 orang tersebut kesurupan. Kemudian mereka mengeroyok korban dengan membabi buta seperti di luar akal pikiran sehat.

“Sebenarnya kejadian kesurupan sudah sering terjadi dan berlangsung sudah dua hari sebelum peristiwa naas. Kami dan warga lain tidak berani mendekat, karena jika mendekat mereka mengeroyok. Kejadian itu berhenti, setelah petugas Polsek Bendungan tiba di lokasi dan langsung mengamankan,” pungkasnya. (pb/jok/ham)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.