
SURABAYA | duta.co – Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Jawa Timur, H Helmy M Noor ‘melempar’ ide menarik. Bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025, bagaimana kiprah Nahdlatut Thurot – yang, selama ini hanya ‘dinikmati’ pecinta Filolog (pecinta sejarah) Pesantren — bisa untuk masayarakat umum? Ini sekaligus mengantisipasi kecanggihan artificial intellegence (Al) atau kecerdasan buatan, yang terus menggerogoti disiplin belajar.
“Menarik, belum pernah ada. Anak-anak bisa melihat langsung betapa hasanah klasik berupa kitab-kitab kuno, menarik dikaji. Lebih bagus lagi disertai quote (quotation atau kutipan) menarik,” jelasnya mengapresiasi paparan Ir Tiat S Suwarsudi MSi (Kepala Disperpusip Jatim) tentang Nahdlatuh Turath dan penjelasan Sherlita Ratna Dewi Agustin Kepala Diskominfo Jatim perihal kecanggihan teknologi AI di Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil), Sabtu (10/05/2025).
Hadir dalam Rakorwil yang berlangsung di Aula KH Bisri Syansuri itu, seluruh perwakilan LTN PCNU se Jawa Timur. Selain Tiat dan Sherlita, ada Fajar Wahyu Hermawan, mantan wartawan Tempo yang hadir mewakili Ketua LTN PBNU Dr Ishaq Zubaedi Raqib. “Saya telah mendengarkan paparan beliau. Memang butuh percepatan litrerasi digital, apalagi dengan munculnya teknologi ‘Gus’ AI. Ini memang tantangan. Tetapi, kalau AI kita intimidasi, ternyata juga ragu,” kata Fajar yang tampil secara daring (dalam jaringan) komputer.
Diakui Sherlita Ratna, bahwa semakin canggih teknologi, maka, semakin membantu pekerjaan kita. Yang patut dicermati, perkembangan teknologi sekarang begitu cepat. Kalau 2022 kita mengenal yang namanya ChatGPT, setahun kemudian sudah berubah GPT-4. “Satu belum selesai dipelajari, sudah muncul versi baru,” tegasnya.
Sherlita juga memaparkan sejumlah risiko yang harus dihadapi. Misalnya, pekerjaan seseorang akan mudah digantikan AI. Bahkan, tugas-tugas dokter sekalipun bisa digantikan AI. “Ibu-ibu sekarang kalau bingung masak apa, bisa tanya AI. Tetapi, ingat, AI juga bisa capek. Kalau sudah capek, jawabnya ngawur. Masalah: mengapa AI mudah capek? Biasanya tergantung bayarnya,” katanya disambut tawa hadirin.
Bicara soal AI memang tidak ada habisnya. Tekonologi ini bukan hanya menyasar pabrik, tetapi, juga menyasar kampus-kampus, bahkan belakangan dunia jurnalistik juga terdampak oleh AI. “Tetapi, percayalah, bahwa, reportase lapangan, laporan diskripsi tidak bisa digantikan oleh AI,” tegas Fajar Wahyu Hermawan.
H Helmy M Noor yang juga pengasuh Pesantren Al-Yasmin, mengapresiasi kerja keras panitia Rakorwil. Menurutnya, LTN NU memang memiliki tugas sebagaimana tugas Bu Ir Tiat S Suwarsudi MSi (Kepala Disperpusip Jatim) dan Bu Sherlita Ratna Dewi Agustin sebagai Kepala Diskominfo. “Yang hadir ini adalah marcom (marketing communication) NU. Mereka memiliki tugas menyampaikan informasi kepada seluruh warga NU,” tegasnya.
Di akhir acara, Helmy menguatkan kesimpulan Sherlita, bahwa, AI tidak akan bisa menggantikan pekerjaan kita, tetapi, orang yang menguasai AI dengan mudah menggantikan pekerjaan kita. “Artinya, kita memang harus menguasai tekonologi ini,” pungkasnya. (mky)





































