Puluhan mahasiswa dan petani tembakau di Kabupaten Probolinggo menggelar unjuk rasa di gudang tembakau Paiton (duta.co/fathul)

PROBOLINGGO | duta.co – Puluhan mahasiswa dan petani tembakau di Kabupaten Probolinggo menggelar unjuk rasa di gudang tembakau Paiton, Rabu (15/9/2020). Mereka juga berunjuk rasa di kantor bupati dan DPRD setempat.

Bagaimana tanggapan pihak gudang? Usai menemui demonstran, supervisor Gudang Tembakau PT GG di Paiton Boy Jonathan mengatakan, pihaknya membeli tembakau seharga Rp 27.000 hingga Rp35.000 per kilogram.

Tak menutup kemungkinan pihaknya akan membeli dengan harga lebih tinggi karena tembakau yang akan dijual petani bagian atas. Pihaknya tentu membeli tembakau secara proporsional dan sepantasnya.

Boy juga menjamin akan membeli tembakau lokal alias tembakau milik petani Kabupaten Probolinggo. Sebab gudangnya berada di wilayah Kabupaten Probolinggo.

“Kami tidak akan membeli tembakau dari luar kota, kami fokus pada tembakau lokal. Sejak buka sampai sekarang kami sudah membeli sekitar 1000 ton. Target kami sesuai kebutuhan gudang, akan membeli tembakau 2.500 ton,” kata Boy kepada duta.co.

Boy yang bekerja di ģudang tembakau GG Paiton sehak 1986 ini berharap agar petani tenang. Gudang saat ini sedang berebut membeli tembakau petani karena memang sedang butuh tembakau. Apalagi tembakaunya berkualitas, tentu lebih antusias melakukan pembelian.

Tamimuddin, salah seorang petani yang ikut berunjuk rasa mengatakan, aksi damai tersebut menuntut empat hal.

Pertama, gudang harus buka sampai seluruh tembakau milik petani habis. Kedua, gudang membeli tembakau petani seharga paling rendah Rp 35.000 sampai Rp 45.000 per kg.

Ketiga,menuntut DPRD dan Bupati membuat Perda dan Perbup yang melindungi para petani tembakau. Keempat, menuntut agar DPRD dan Bupati memperjuangkan nasib petani di Kabupaten Probolinggo.

“Saat ini tembakau petani dihargai Rp 17 ribu hingga Rp 24 ribu per kilogram. Harga itu merugikan petani,” kata Tamimuddin. hul

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry