SURABAYA | duta.co – Belajar di luar kelas, tak kalah penting. Itulah yang tercermin dari kunjungan edukatif MTs Progresif Al-Musthofa, Mojokerto, Jawa Timur ke Museum Nahdlatul Ulama (NU) Surabaya, Kamis, 13 November 2025 kemarin. Mereka dengan tekun melihat benda-benda peninggalkan para kiai.

“Dengan kunjungan edukatif ini, para guru ingin murid-murid mengenal lebih dekat sejarah perjuangan para ulama NU. Ini sekaligus memperdalam pemahaman mereka tentang nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) an-nahdliyah,” demikian disampaikan Faris Habiburrahman, petugas Museum NU, Kamis (20/11/25).

Hal yang sama disampaikan Ustad M Zainul Rofi. Menurut Ustad Zainul, yang memimpin rombongan siswa MTs Progesif Al-Musthofa itu, bahwa, kunjungan ini penting untuk mengenal langsung jejak perjuangan para kiai. “Kami berharap pengalaman ini bisa menumbuhkan kebanggan, kecintaan serta pemahaman terhadap nilai-nilai Islam Aswaja An-Nahdliyah,” tegasnya.

Masih menurut Ustad Zainul, ini bisa menjadi pondasi yang kokoh dalam memahami tradisi keilmuan para ulama. “Dengan melihat langsung dokumentasi sejarah NU, mereka bisa memahami, bahwa Aswaja An-nahdliyah bukan sekedar ajaran, tetapi sekaligus teladan perjuangan dalam merawat moderasi Islam di Indonesia,” tambahnya.

Anak didik dari MTs Progresif Al-Musthofa ini, harus menyisihkan waktu khusus untuk bisa sampai ke Museum NU. Begitu di Museum NU, mereka disambut Faris (sebagai pemandu) dan lima mahasiswa mereka dari UNESA. “Kebetulan mereka tengah menuntaskan magang di Museum NU, mereka adalah mahasiswa jurusan Sejarah UNESA,” tegas Faris.

Mereka diajak keliling Museum NU. Para siswa diperlihatkan berbagai koleksi penting, seperti foto-foto tokoh pendiri NU, manuskrip keagamaan, dokumentasi perjuangan masa kolonial, serta artefak yang menggambarkan kiprah ulama NU dalam membangun peradaban bangsa. “Ada dokumen Komite Hijaz, berupa surat dari Raja Saud (Arab Saudi) tentang diperbolehkan 4 mazhab diamalkan di tanah suci,” tambahnya.

Kunjungan ditutup dengan sesi foto bersama dan refleksi singkat. Para siswa merasa lebih bangga menjadi bagian dari tradisi keilmuan Aswaja An-nahdliyah setelah menyaksikan langsung jejak perjuangan para ulama NU. “Pak guru berharap kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan secara rutin agar kita semakin kaya wawasan dan memiliki kecintaan yang lebih mendalam terhadap sejarah serta nilai-nilai keislaman,” demikian kesan salah seorang siswa usai sesi foto bersama. (ris)