SURABAYA | duta.co – Sebanyak 45 siswa-siswi Yayasan Pendidikan ITTAQU Surabaya, Kamis (24/7/25) bertandang ke Museum Nahdlatul Ulama (NU) di Kelurahan Menanggal, Kecamatan Gayungan, Kota Surabaya. Mereka melihat langsung, sejumlah peninggalan kiai dari pusaka (keris) sampai kitab-kitab klasik. Mereka juga membaca visi-misi jamiyah, untuk apa NU didirikan?

“Di sekolah kebetulan ada mulok (muatan lokal red) terkait pelajaran Aswaja (Ahlussunnah wal-jamaah). Dengan ke Museum NU, setidaknya anak-anak bisa melihat dan membaca mengapa jamiyah ini didirikan,” demikian disampaikan Ustadzah Ana Zuhriyah bersama dua pendamping lainnya, Ustadzah Muslimah dan Ustadzah Sinta Fitri Ningtiyas.

Para siswa juga melihat, bahwa, meski NU itu merupakan karya para ulama, para masyayikh, tetapi lahirnya jamiyah ini merupakan kehendak umat, battom up atau dari bawah. Karena itu, sejak dulu dikenal istilah ianah syahriyah, berarti iuran (bantuan) bulanan.

“Ini fakta. Bahwa, NU sebagai salah satu organisasi keagamaan terbesar di Indonesia bahkan dunia, bukan sekedar wadah Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, tetapi juga motor penggerak kemaslahatan umat. Adik-adik bisa saksikan adanya kwitansi penerimaan ianah syahriyah, iuran bulanan yang begitu rapi,” tegas Mokhammad Kaiyis bersama Faris Habiburrahman, petugas Museum NU yang mengiringi mereka.

Para siswa juga membaca surat balasan Raja Saud terkait tuntunan Komite Hijaz. “Ini adalah surat balasan Raja Saud. Kiai-kiai NU yang tergabung dalam Komite Hijaz minta agar kerajaan Arab Saudi tidak menggusur makam Nabi dan sejumlah situs penting Islam. Akhirnya, tuntutan itu diterima Raja Saud, sehingga jamaah umroh dan haji sekarang bebas menjalankan fiqh 4 madzab di tanah suci,” terangnya.

Salah seorang siswa bertanya sejarah lengkap Resolusi Jihad. Museum NU, jelas Kaiyis, memang belum mereka utuh soal gerakan kiai-kiai NU dalam pertempuran 10 November 1945 yang di dalamnya berkibar semangat Resolusi Jihad. Dari Resolusi Jihad ini kemudian muncul semangat jihad mempertahankan Kemerdekaan RI. “Yang kemudian diabadikan menjadi Hari Pahlawan,” urai Anggota Dewan Kehormatan PWI Jatim ini.

Tetapi, karena penulisan sejarah yang kadang masih mementingkan golongan, sehingga Resolusi Jihad kurang mewarnai dalam jihad 10 November yang berhasil membunuh Jenderal Malaby kala itu. “Padahal yang berperan adalah santri. InsyaAllah, penulisan ulang Sejarah Bangsa sekarang ini, tidak lagi menafikan peran penting para masyayikh dalam pertempuran 10 November 1945,” terangnya.

Mengapa? “Para muassis NU, seperti Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syansuri, adalah sosok yang dikenal memiliki totalitas perjuangan yang luar biasa demi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia red). Tanpa Resolusi Jihad, kemungkinan besar lenyap kembali namanya Kemerdekaan Indonesia,” pungkasnya. (mky)