
SURABAYA | duta.co – Penting! Mengenalkan paham keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) atau Islam ahlussunnah wal jamaah an-nadliyah sejak dini kepada anak-anak kita, adalah sangat penting.
Mohamad Roji’i MPd, Kepala Sekolah SD Khasanah Ilmu, jauh hari sudah menyiapkan program tersebut. “Kunjungan ke Museum NU ini untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada peserta didik, agar (mereka) mengenal sejarah, paham keagamaan, serta kiprah NU dalam membangun bangsa ini,” tegas Mohamad Roji’i MPd dalam suratnya.

Rabu (16/9/26) kemarin, sebanyak 84 siswa SD Khasanah Ilmu dikawal 11 Guru rela bersimpuh untuk mendengarkan kisah perjuangan para kiai NU. Baik dalam menegakkan Islam rahmatan lil alamin maupun dalam prosesi kemerdekaan Republik Indonesia. “Anak-anak bisa melihat langsung mengapa di Indonesia ini harus ada organisasi keagamaan (NU) yang sangat terkenal dengan Islam moderat. Bagaimana kiai-kiai NU menjaga dan merawat budaya Islam yang toleran, ini penting,” demikian disampaikan Mohammad Azharuddin, saat mendampingi siswa-siswa tersebut.
Bersama Muhammad Faris Habiburrahman Lc — juga petugas Museum NU — Azhar menjelaskan, bahwa, peran serta kiai-kiai NU dalam membangun kebersamaan sebagai bangsa, sangatlah tinggi. “Anak-anak bisa menyaksikan benda-benda peninggalan para masyayikh di Museum NU. Serta peran global kiai-kiai sebelum Indonesia merdeka. Kita juga bisa menyaksikan rekam jejak para kiai mendirikan jamiyah ini. Ada yang namanya ianah syahriyah (iuran bulanan) dari warga NU demi keberlangsungan jamiyah,” tegas maasiswa S2 UNESA ini.

Hal yang sama disampaikan oleh Faris. Menurut alumni Universitas Al-Azhar dan mahasiswa S2 di UINSA Surabaya ini, banyak artefak yang bisa dicermati dari Museum NU. “Selain ada Surat Raja Saud soal diperbolehkannya menjalankan 4 madzhab di tanah suci, juga ada foto ibu-ibu muslimat NU berlatih menembak dengan tutup kepala. Jadi militansi itu sudah dibangun sejak dini, cinta tanah air itu fakta, bukan sekedar omong belaka,” jelasnya.
Ini, lanjut Faris, ke depan Museum NU akan berkolaborasi dengan LP Maarif NU, agar — sejak awal anak-anak — kita sudah mengenal tentang NU, mengenal tentang nasionalisme. “Besok, tanggal 22 Oktober 2026 tepat Hari Santri Nasional (HSN), Museum NU bisa membuat acara menarik untuk anak didik. Misalnya, lomba membaca teks Resolusi Jihad,” pungkasnya. (azh)




































