Sugi Nur (kanan) dan Fadil. (FT/YOUTUBE)

SURABAYA | duta.co – Ada-ada saja, dunia youtube masih saja menjadi ajang ‘komporisasi’. Sejak Senin (29/1/2018) beredar video youtube bertitel Heboh!! gus nur keluar dari NU. Sampai Selasa (30/1/2018), video yang diunggah ‘mutiara kata penuh makna’ itu, masih ditonton puluhan orang.

Meski dibuat heboh, tetapi, tidak heboh. grup-grup WA NU yang kemasukan video berdurasi 33.39 menit itu, justru dibuat sebagai bahan lelucon. “Sejak kapan sugik masuk NU? Kok tidak-tiba mau keluar, resign dari NU,” begitu komentar [email protected], nahdliyin dari Surabaya, Selasa (30/1/2018).

Diskripsi video itu memang sedikit lucu. Pewancaranya Fadil Abdussalam, dari  Media Opisis. Fadil mengenalkan kepada pemirsanya kalau dia sedang bersama Gus Nur, Sugi Nur Raharja.

“InsyaAllah saya bersama Gus Nur akan menanyakan beberapa pertanyaan terkait dengan sepak terjang dakwah Gus Nur, baik sebelum hari ini, hari ini dan yang akan datang,” begitu ia membuka kalimat.

“Begini Gus, saya tertarik membahas ketika Gus Nur diminta tabayun dengan kawan-kawan dari NU, khususon Banser, GP Ansor. Apa sih yang terjadi di tubuh NU, kok sesama kader diminta tabayun?,” begitu pancing Fadil.

Awaknya Sugi terkesan tak mau terpancing. “Begini Mas Fadil, saya tadi diundang ke sini ini dalam rangka talksow, membahas dunia mahasiswa,  kondisi saat ini, bangsa dan seterusnya. Tidak terpikir dalam pikiran saya, tiba-tiba pertanyaannya soal NU,” jawab Sugi dengan gaya khasnya.

“Saya sudah sampaikan ke beberapa admin jamaah, sudah tidak usah omong NU, Banser, Ansor. Hati kecil saya sudah letih, capek ngomong NU, Banser dan Ansor. Seandainya saat ini ada materi lain, kita bahas materi lain saja, bagaimana Mas Fadil?,” demikian Sugi Nu mengeles.

Fadil kurang puas. “Saya tertarik karena dakwah Gus Nur ini memikat jamaah, tetapi kok ada satu sisi, ada yang ingin melarang Gus Nur untuk berdakwah, bahkan ketika jadwal dakwah Gus Nur begitu padat, ke luar negeri, ke Kongkong, kok ada pihak yang minta tabayun, apa maksud tabayun gus? Kita tahunya sedikit, jamaah Gus Nur tahunya setengah-setengah,” demikian Fadil beralasan.

“Subhanallah! Karena begini, Mas Fadil, saya sudah sampai di suatu titik yang klimaks. Saya sudah tidak nyaman di NU, walaupun saya sendiri tidak mengerti. Gini lho, saya diam salah, saya ngomong salah. Pertanyaan Mas Fadil ini saya jawab apapun, jawaban saya, tetap salah. Maka langkah yang terbaik adalah diam, lupakan NU, lupakan Banser, lupakan Ansor. Selesai sudah urusannya,” begitu Sugi Nur tetap bertahan.

“Begini saja, kemarin acara tabayun itu kan begini? Saya simpati dan senang dengan Ketua Ansor, Haji Afif atau siapa itu? Begitu acara tabayun selesai, saya baru meninggalkan ruangan itu, belum 20 menit, di mobil sudah ada suara ‘ting’ dari WA saya, ternyata dari grup. Di situ ada foto saya dengan satu frame negatif, dikatakan Sugi pucat diputarkan videonya bla..bla..bla… Seolah-olah saya pucat.”

Sugi kemudian mengatakan, “Saya kasihan dengan Banser yang baik, NU yang baik, Ansor yang baik. Mereka banyak, tapi tidak satu komando. Harusnya jabattangan itu diapresiasi baik, ternyata tidak, saya pucatlah, saya takutlah, karena sudah dibacakan walyatalathtahf-lah. Belum 30 menit. Sama dengan di Semarang,” kilahnya.

Di Semarang, jelas Sugi, Banser yang bukankan pintu mobil saya, Banser cium tangan saya. Tetapi, subuh buka wa ‘ting’, begitu. Itu tidak satu komando. Ada yang memelintir, motong, giring opini, framing dari sudut negatif. Belum 30 menit.

“Biasa jamaah banyak, saya diam saja. Walaupun mereka memelintir saya bertahan tidak buka wa. Mati rasa soal itu, tapi tidak berhenti, maka, besoknya saya keluarkan video. Itu pun saya menjawab. Satu hari, saya sudah ngukur, video ini heboh lagi, diplintir lagi. Gak buat juga diplintir. Ya sudah bikin lagi,” tegas Sugi.

“Dengan dengan Pak Afif baik, saya sudah lupakan persekusi itu. Ada video satu Banser dua karakte,. Tidak satu komando, ini yang tidak disadari oleh mereka. Ya sudahlah, sejak itu saya kumpulkan admin,  ya sudahlah kita tidak usah ngomong NU, dan dalam hati saya, tak resign dari NU, saya tak keluar dari NU saja,” jelasnya. (mky)