Wakil Wali Kota Semarang, Hj. Hevearita G Rahayu saat memborong di salah satu stan UMKM Bazar Muslimat NU Kota Semarang (rif)

SEMARANG | duta.co — Pimpinan Cabang (PC) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kota Semarang menggelar Bazar Ramadhan di Galeri Industri Kreatif (GIK) Kawasan Kota Lama Semarang, Ahad (17/4). Dalam kesempatan itu, Wakil Wali Kota Semarang, Hj. Hevearita Gunaryati Rahayu kembali memborong di 16 stan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU.

Ita, sapaan akrab Hevearita mengelilingi stan bazar seusai membuka acara, “Produknya kader Muslimat NU itu kan banyak sekali, kalau kegiatan ini diadakan di Puspogiwang (kantor NU Semarang) tidak muat, masak harus nutup jalan,” kata Ita dalam sambutannya.

Selaku salah satu anggota Dewan Pakar Muslimat NU Semarang, dirinya pun ingin Muslimat NU ikut meramaikan Kota Lama, maka ia sarankan kegiatan berjalan di gedung GIK Kota lama. Hanya saja, ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi, salah satunya tidak boleh menggunakan kompor untuk menghindari potensi kebakaran.

“Karena ini kawasan cagar budaya. Jadi semua kegiatan kita arahkan untuk melestarikan peninggalan sejarah,” urainya.

Kegemaran Ita memborong produk Muslimat NU dalam beberapa kesempatan ini membanggakan salah satu panitia, Hj. Iswahani, “Alhamdulillah, borong produk ini merupakan apresiasi dan dorongan agar kader Muslimat lebih kreatif lagi dalam ekonomi produktif,” tuturnya.

Ketua PC Muslimat NU Kota Semarang, Hj. Muslimatin Djatmiko menuturkan hal yang sama. Bahkan kegiatan tersebut juga merupakan saran orang nomor dua di Kota Semarang, “Kegiatan ini sudah beliau tawarkan sewaktu pelantikan kemarin,” ucapnya.

Meski even tersebut cukup besar, namun Muslimatin mengatakan semua kader Muslimat NU yang menjadi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) belum terekspose seluruhnya, “Dari 16 Kecamatan, masing-masing memiliki lebih dari satu produk. Ini belum terekspose semua,” kata Muslimatin.

Dia sebutkan ada 37 stan dari 16 Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU se-Kota Semarang. Masing-masing stan terisi 3 pelaku UMKM dengan rincian 20 pelaku usaha sektor kuliner, dan 17 pelaku usaha sektor ekonomi kreatif.

Terobosan kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat NU Jawa Tengah, Prof. Dr. Hj. Ismawati. Dia mengaku senang dan bahkan gelaran khusus UMKM memang sangat mereka harapkan.

“Saya senang sekali dengan kegiatan ini. Kegiatan semacam ini sesuai dengan yang mereka harapkan dari tingkat pusat maupun wilayah. Ini terwujud dengan bagus oleh Muslimat Kota Semarang,” akunya.

Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang ini bahkan juga berharap gelaran serupa bisa dilaksanakan oleh kabupaten/kota lain di Jawa Tengah, “(Bazar) ini menjadi satu pembangkit yang lain (kabupaten/kota) untuk segera melaksanakan (promosi UMKM) secara besar-besaran,” tandasnya.

Dia mengakui, pelaku UMKM di kalangan ibu-ibu NU memang sangat banyak, namun jarang tereskpose secara khusus di tempat umum atau bahkan di lokasi wisata seperti Kota Lama, “Biasanya UMKM hanya menjadi sampingan (pelengkap kemeriahan kegiatan). (Bazar) Semarang ini bisa terlaksana se Jawa Tengah,” terangnya.

Dia pun menegaskan bahwa Muslimat NU dalam fakta sejarahnya memang perkumpulan ibu-ibu yang mandiri. Sehingga berorganisasi juga secara mandiri, “Perlu saya tekankan bahwa Muslimat itu sejak penjajahan sudah terbiasa berwirausaha, tidak bergantung dengan pemerintah,” tegasnya.

“(Kader Muslimat NU) sekolah iya, tapi tidak berorientasi pada sektor pekerja, banyak yang jadi sarjana tapi tidak berorientasi di sektor perkantoran atau pabrik,” sambungnya.

Kalau Bisa sering Tampil

Sementara Endah Riawati pelaku usaha badeng presto dan camilan emping melinjo dari Ranting Muslimat NU Krapyak Semarang Barat berharap sering ada kegiatan bazar untuk memulihkan ekonomi pasca pandemi, “Kalau bisa sering-sering kegaiatan seperti ini. Biar stabil ekonominya setelah pandemi kemarin,” harapnya.

Harapan sama datang dari Yanti, kader asal Kelurahan Mlatibaru Semarang Timur yang memiliki kreasi makanan cepat saji Sop Matahari mengaku senang. Semua pelaku usaha di Muslimat NU Semarang telah mengantongi izin Perizinan Industri Rumah Tangga (PIRT). Ia pun berharap kegiatan serupa sering mereka gelar, “Semoga semakin banyak kegiatan seperti ini, semakin maju dan semakin terkenal,” harapnya.

Ungkapan senada datang dari Nur Haryati, kader Muslimat NU dari Purwodinatan Semarang Tengah. Ia seorang pelaku ekonomi kreatif yang membuat bros, tas, dompet dan beragam pernak-pernik lain. Dulu brand produknya ‘Titik’ pernah terjual di pasar online, namun sekarang kembali hanya fokus di toko rumah, “Males buka-bukae (aplikasi). Sekarang paling pesanan lewat telpon,” ungkapnya. (rif)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry