Ketua PIH Unair Suko Widodo menunjukkan komputer yang diberi tanda silang agar  tidak dipakai peserta UTBK didampingi Ketua Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) Unair, Achmad Solihin dan para panitia UTBK saat melihat lokasi UTBK di Fakultas Farmasi Kampus C, Jumat (3/7/2020). DUTA/endang

SURABAYA l duta.co – Peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) sebagai syarat untuk mendaftar Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2020 diwajibkan untuk rapid test. Khususnya bagi mereka yang mengikuti tes di pusat UTBK di Surabaya.

Hal itu sesuai surat keputusan dari Pemerintah Kota Surabaya yang dikirim ke pusat-pusat UTBK di Surabaya, Kamis (2/7/2020).

Ada pro kontra dengan aturan ini, karena memberatkan peserta mengingat biaya rapid test mandiri tidaklah murah. Apalagi saat ini tidak mudah juga mencari tempat rapid test  karena banyaknya peserta yang akan mengikuti UTBK ini.  Bahkan di pusat UTBK Unair, ada 23 ribu peserta yang mengikuti tes itu.

Dari hasil pertemuan pihak Unair dengan Pemkot Surabaya, Jumat (3/7/2020) menyebutkan bahwa Pemkot akan memfasilitasi peserta UTBK asal Surabaya pemegang Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) untuk bisa rapid test secara gratis di 63 Puskesmas di Surabaya.

Khusus yang berasal dari Surabaya, jika dari hasil rapid test itu non reaktif maka peserta boleh melanjutkan mengikuti tes UTBK. Namun jika hasilnya reaktif maka akan disisolasi di sebuah hotel di Surabaya dengan kapasitas 500 kamar. Sementara yang dari luar Surabaya isolasi di daerah masing-masing.

Ketua PPMB Unair, Achmad Solihin mengatakan bagi peserta yang reaktif, secara otomatis tidak bisa mengikuti ujian. Namun peserta bisa mengikutinya kembali setelah bisa menunjukkan  hasil rapid test non reaktifnya.

“Kalau di gelombang pertama pada 5 hingga 14 Juli tidak bisa mengikuti bisa ikut di gelombang kedua pada 20 hingga 29 Juli. Tapi, kalau di dua gelombang itu tetap tidak bisa mengikuti karena masalah itu, panitia memperpanjangnya pada 1 hingga 3 Agustus. Jika hingga perpanjangan tetap belum bisa mengikuti, maka secara otomatis peserta gagal memgikuti UTBK,” jelas Solihin.

Solihin menegaskan, aturan rapid test itu bukan kewenangan Unair selaku pusat UTBK. Atau bukan pula pusat UTBK lainnya. Semua adalah kewenangan Pemkot Surabaya sebagai pemilik wilayah.

Yang pasti, Unair mematuhi semua aturan yang ditetapkan. Jika hasil rapid test harus ditunjukkan, maka Unair akan menjalankan hal tersebut. Namun yang pasti, Unair sendiri sudah mengantisipasi agar tidak terjadi penyebaran Covid-19 ini saat pelaksanaan UTBK.

Unair sudah mempersiapkan segala hal sesuai dengan protokol kesehatan yang ditetapkan. Di enam lokasi yang disiapkan Unair yakni di Kampus A, B dan C serta tiga lokasi di kampus mitra yakni Untag Surabaya, Universitas Muhammadiyah Surabaya dan Stesia, Unair sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang.

Para peserta di gerbang masuk dekat Airlangga Convention  Center (ACC) akan dicek suhu badan. Jika di atas ambang batas, maka akan dipulangkan. Tidak hanya itu, peserta boleh diantar hingga drop zone di lokasi yang sudah ditentukan.

Turun dari kendaraan, peserta diwajibkan mencuci tangan terlebih dulu. Setelah itu, jika lokasinya di Kampus C, maka lokasi berada di Fakultas Farmasi lantai 6. Untuk menuju ke lantai 6 ada tiga lift yang tersedia dan masing-masing lift hanya boleh berisi empat orang. Jika ada antrean maka sudah diatur patinia sehingga antrean bisa berjarak.

Di lantai enam akan ada ruang transit sebelum memasuki ruangan ujian. Kursi di ruang transit juga sudah diatur sedemikian rupa. Sementara di ruang ujian, komputer yang berisi 126 buah itu hanya akan dipakai sebanyak 84. Ada beberapa komputer yang disilang agar ada jarak antara peserta yang satu dengan yang lain.

“Peserta diwajibkan pakai masker dan sarung tangan kesehatan. Setelah dipakai langsung dibuang dan kami sudah siapkan tempat sampahnya. Selain itu, sebelum pelaksaan tes kami semprot ruangan dengan disinfektan, setelahnya juga kami semprot ulang untuk sesi berikutnya. Kami pikir itu sebagai langkah antisipasif agar penyebaran Covid-19 tidak terjadi,” jelas Ketua Pusat Informasi dan Humas Unair, Suko Widodo. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry