SURABAYA | duta.co – Wacana pemindahan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Palangkaraya, nampaknya mendapat sambutan positif dari berbagai daerah, termasuk Jawa Timur untuk menjadi alternatif.

Pasalnya, berdasarkan rencana tata ruang dan wilayah (RTRW), provinsi ujung timur Pulau Jawa itu tengah menggagas Kota Megapolitan yang berpusat di Surabaya dengan radius 100 kilometer.

Asisten bidang perekonomian Sekdaprov Jatim, Wahid Wahyudi mengatakan bahwa Jawa Timur merupakan second opinion pertumbuhan ekonomi di Indonesia setelah Jakarta.

“Karena sudah selayaknya jika Ibu kota negara hendak dipindah maka alternatif pilihannya adalah Jawa Timur,” ujar Wahid Wahyudi saat dikonfirmasi Jumat (14/6/2019).

Kota Surabaya, kata mantan Kadishub Jatim tetap menjadi sentral perkembangan Megapolitan Jatim. Namun kota-kota lain dalam radius 100 kilometer seperti Gresik, Lamongan, Tuban Bojonegoro, Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan, Probolinggo, Bangkalan, Jombang hingga Malang akan menjadi hinterland.

“Karena itu ego sektoral dalam membuat RTRW harus dihilangkan. Artinya Kota Surabaya tak boleh lagi hanya memikirkan daerahnya sendiri tapi juga harus disesuaikan dengan daerah-daerah hinterland lainnya,” kata Wahid Wahyudi.

Di sisi lain kebutuhan sistem transportasi massal yang terintegrasi juga mutlak diperlukan oleh Kota Megapolitan sehingga harus direncanakan mulai sekarang supaya tak terlambat seperti Jakarta.

“Sentra transportasi Jatim yang baik itu bukan hanya untuk Jatim tetapi juga bisa membantu provinsi lain khusunya Jawa Tengah yang terdekat,” dalihnya.

Jatim Jangan Seperti Jakarta

Ia mengakui Jatim sudah berupaya membangun daerah-daerah di wilayah timur sebagai pusat industri baru untuk mengurangi disparitas dan pemerataan pembangunan. Karena itu pelabuhan dibangun di Probolinggo dan Brondong Lamongan. Kemudian bandara dibangun di Malang, Banyuwangi dan Kediri.

“Sebenarnya penjajah Belanda sudah mempersiapkan sistem transportasi massal yang baik khususnya melalui jalur rel kereta api yang sudah sampai masuk pelabuhan. Tapi sayang sekarang jalur-jalur rel tersebut banyak yang mati sehingga perlu kiranya dihidupkan kembali,” jelas Wahid Wahyudi.

Senada, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan bahwa pihaknya tengah berusaha pengembangan kota hinterland Gerbangkertasusila bisa dimasukkan dalam Rencana Perpres sehingga program tersebut nantinya bisa menjadi Program Strategis Nasional (PSN).

Ia juga berharap rencana BUMN yang menangani pembangunan infrastruktur transportasi membuat holding bisa segera terealisasi, sehingga nantinya bisa ikut terlibat dalam PSN yang ada di Jawa Timur, khususnya terkait pembangunan infrastruktur transportasi massal.

“Masterplant dan detailplant daerah-daerah yang masuk wilayah Gerbangkertasusilo juga harus disesuaikan jika memang mengalami perubahan dalam RTRW nya,” pinta gubernur perempuan pertama di Jatim ini.

Di sisi lain, Pemprov Jatim juga terus mendorong kerjasama dengan negara Inggris untuk pembangunan MRT dan LRT di wilayah Gerbangkertasusila yang sudah dilakukan exercise sejak 10 tahun lalu.

“Jatim jangan sampai telat seperti Jakarta. Untungnya MRT di Jakarta bisa dikebut sehingga sekarang sudah masuk Ring 4. Tapi Surabaya belum sama sekali sehingga harus segera dimulai,” pungkas Khofifah. (ud)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry