Herman saat ditemui di rumahnya.

JOMBANG | duta.co – Jombang, kota yang masyhur melahirkan tokoh-tokoh nasional seperti Gus Dur, Mbah Wahab, hingga Cak Nun, kerap dikenang sebagai kota santri. Namun, di balik gemerlap identitas keagamaan yang dominan, ada kisah-kisah sunyi dari mereka yang memilih jalur spiritual berbeda. Salah satunya adalah Herman Useno (65), warga Perumahan Jombang Permai, Kecamatan Jombang.

Herman bukan kiai, bukan pendeta, bukan pula pemuka agama yang sering muncul di layar kaca. Tapi dari rumah sederhananya yang bersih dan bersahaja, ia memancarkan ketenangan khas seseorang yang telah berdamai dengan keyakinan batinnya. Ia adalah Ketua Penghayat Kepercayaan Kapribaden Kabupaten Jombang.

“Kami tidak menyebut ini agama. Ini kepercayaan. Agama tetaplah agama, dan kami menghormati semuanya,” ujar Herman saat ditemui, Jumat (1/8) siang.

Laku Sunyi yang Dalam

Kapribaden bukan sekte asing, bukan pula aliran baru. Bagi Herman, ini adalah laku jalan hidup untuk mengenal diri agar mampu menyatu dengan Sang Urip, istilah yang mereka gunakan untuk menyebut Tuhan.

Tidak ada rumah ibadah megah, tidak ada ritual massal. Bagi penghayat Kapribaden, Senin Pahing adalah hari sakral. Di hari itulah mereka menjalani ritual doa diam, masing-masing di rumah sendiri. Dalam kepercayaan ini, tidak ada pemaksaan ritual, apalagi pengkultusan tokoh.

“Yang kami sembah hanya satu, yakni Gusti. Tidak ada yang lain,” tegas Herman.

Dalam Kapribaden, perjalanan spiritual dimulai dari tubuh, menuju urip (roh). Ketika seseorang dianggap siap, ia bisa meminta “Kunci”, semacam pembuka jalan batin menuju pengenalan jati diri sejati. Jika laku terus dijalani, seseorang bisa mendapatkan “Asmo” nama khusus bagi urip-nya.

“Kalau sudah bisa mijil, menyatukan raga dan urip, maka setiap tindakan bisa lebih selaras dengan petunjuk Tuhan,” tutur Herman pelan.

Kitab suci dalam kepercayaan ini bukan teks yang bisa dibaca sembarang orang. “Kitabnya hanya bisa dirasakan dengan hati,” katanya lirih.

Menembus Administrasi, Menembus Trauma

Nama Herman kini tercatat resmi di KTP sebagai “Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME.” Kolom yang dulu hanya garis strip, kini punya makna. Tapi tak semua penghayat berani mengikuti jejak itu.

“Mereka masih takut. Trauma masa lalu belum hilang,” kenangnya, merujuk pada masa Orde Baru ketika penghayat kepercayaan hidup dalam tekanan sosial dan administratif.

Perubahan mulai terasa sejak Mahkamah Konstitusi pada 2017 mengakui kepercayaan sebagai identitas sah dalam administrasi negara. Kini, para penghayat bisa menikah, dimakamkan, dan mengurus dokumen tanpa harus berpura-pura memeluk agama tertentu.

“Kami tidak ingin macam-macam. Harapan kami hanya bisa beribadah tanpa rasa takut,” ujar Herman.

Menurut data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Jombang, hingga kini sudah 19 warga tercatat sebagai penghayat kepercayaan. “Sejak tahun 2020 mulai ada yang mendaftar, dan jumlahnya terus bertambah,” jelas Mufattichatul Ma’rufah, Kabid Pelayanan Pendaftaran Penduduk, Selasa (29/7).

Lahir dari Sabda dan Tongkat Kelor

Kapribaden berdiri sebagai paguyuban pada 30 Juli 1978. Di balik pendiriannya, tersimpan narasi spiritual yang kental dengan simbolisme: sebuah “Sabdo Tinulis” (sabda tertulis) dalam aksara Jawa menjadi fondasi ajaran, sementara tongkat dari kayu galih kelor pemberian Romo Semono dijadikan lambang komando dan amanah.

Pada masa Orde Baru, ajaran ini sempat dicurigai memiliki afiliasi historis dengan Presiden Soekarno. Namun Herman menegaskan, Kapribaden tak pernah mengejar pengakuan lewat jalan politik atau promosi. “Kami ini diam. Semua disampaikan dari mulut ke mulut, dari hati ke hati,” ucapnya.

“Kalau cocok, jalani. Kalau tidak, ya tidak apa-apa,” lanjutnya, menggambarkan kesadaran bahwa spiritualitas sejati tak perlu dipaksakan.

Hidup Selaras, Bukan Menyeragamkan

Di tengah masyarakat yang majemuk, Herman hidup berdampingan dengan tetangga beragama Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha tanpa sekat. “Kami ini tidak sedang mencari siapa yang paling benar. Kami hanya ingin hidup selaras dengan kehendak Tuhan, seperti yang kami pahami lewat urip kami,” pungkasnya.

Dari Kota Santri yang riuh dengan nyanyian azan dan doa para santri, Herman dan komunitasnya mengingatkan kita akan keberadaan ruang spiritual lain yang senyap namun dalam. Bahwa mengenal diri bukan hanya tubuh tapi juga roh bisa menjadi jalan mengenal Sang Pencipta. Dan bahwa jalan sunyi pun tetap menuju cahaya. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry