Suasana aksi warga di luar Balai Desa, yang bersiap untuk menutup aksek tol Gempas, Rabu (16/1/2019), siang. (DUTA.CO/Abdul Aziz)

PASURUAN | duta.co – Pasca terjadinya banjir yang mengepung Desa Sadengrejo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, selama sehari penuh, Selasa (15/1/2019) lalu. Warga meradang dan kompak melakukan berencana aksi demo dengan menutup akses Tol Gempol-Pasuruan (Gempas) seksi 3B, pada Rabu (16/1/2019). Rencana penutupan akses tol menuju Grati ini, sebelumnya diwarnai dialog dengan perwakilan PT Jasa Marga.

Dialog yang digelar pihak Muspika Rejoso, Kabupaten Pasuruan antara perwakilan warga Desa Sadengrejo, Kecamatan Rejoso dan pihak PT Jasa Marga di kantor Balai Desa Sadengrejo, berjalan alot. Karena pihak Jasa Marga dianggap warga tak serius dan terkesan main-main. Bahkan deadlock, setelah tidak adanya keputusan yang dihasilkan dalam pertemuan tersebut.

Dalam dialog yang dihadiri utusan PT Jasa Marga, yakni Eko dan Siswoyo, perwakilan warga sempat geram, lantaran pihak Jasa Marga tak bisa memberikan keputusan sesuai yang diharapkan warga. “Kami menuntut pada pihak Jasa Marga agar tak selalu membohongi warga dalam persoalan tuntutan ini,” kata Hudan Dardiri, korlap aksi saat dialog berlangsung.

Dari tuntutan yang telah disepakati yang dihadiri Mulyono, perwakilan PT Jasa Marga saat itu di Balai Desa Sadengrejo, menghasilkan kesepakatan pada tanggal 5 Nopember 2018 lalu, di antaranya pembuatan jalan terowongan, sungai akan diluruskan, box culvert pengairan diperdalam, perbaikan jalan desa, saluran irigasi dan TPT, serta ganti rugi rumah warga terdampak.

Perwakilan warga nenyayangkan karena mereka merasa dibohongi. Mereka membandingkan di beberapa lokasi kontruksi pembangunan tol bisa dirubah. Sedangkan untuk tuntutan warga Sadengrejo tersebut, terkesan ‘dibiarkan’ dan tuntutan mengambang. “Kami hanya inginkan kepastian dari pejabat Jasa Marga yang berkompeten yang bisa ambil keputusan,” jelas Hudan.

Dalam dialog, perwakilan warga tetap meminta dihadirkan Mulyono, pejabat dari Jasa Marga. Bahkan suasana dialog sempat memanas karena tak ada menghasilkan suatu keputusan apapun atas tuntutan warga. Tak hanya itu, aksi ini memicu warga yang berada di luar Balai Desa yang berteriak agar demo blokir jalan tol tetap dilaksanakan karena warga sudah siap.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Pasuruan Kota, AKP Slamet Santoso meminta pada perwakilan warga untuk tidak melakukan aksi, karena ujung-ujungnya demo akan berbenturan dengan polisi saat melakukan aksi menutup jalan Tol. “Kami tidak ingin dibenturkan dengan warga. Kami mohon pihak Jasa Marga berikan keputusan yang bisa diterima warga,” paparnya.

Dari hasil pertemuan yang berjalan selama 1 jam tersebut, akhirnya disepakati untuk dialog lanjutan dengan menghadirkan pejabat yang berkompeten dari pihak Jasa Marga. Pertemuan lanjutan itu akan dilaksanakan Kamis (17/1/2019), di kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan, yang akan dihadiri perwakilan warga difasilitasi Polres dan Dewan. (dul)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.