Dr Diyan Wahyu Kurniasari, SpPK – Dosen Fakultas Kedokteran (FK)

TUBERKULOSIS merupakan satu dari 10 penyebab kematian dan penyebab utama dari agen infeksi tunggal (di atas HIV/AIDS). Sebanyak 1,4 juta orang meninggal akibat Tuberkulosis (TB) pada tahun 2019 (termasuk 208.000 orang dengan HIV).

Pada 2019, diperkirakan 10 juta orang terserang TB di seluruh dunia, 5,6 juta laki-laki, 3,2 juta perempuan dan 1,2 juta adalah anak-anak. TB hadir di semua negara dan kelompok umur.

Indonesia merupakan 10 besar negara yang masuk daftar high burden country for TB menurut World Health Organization (WHO).

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Secara global, kejadian TB turun sekitar 2% per tahun dan antara 2015-2019 didapatkan penurunan kumulatif sebesar 9%.

Namun, ini masih jauh dari target strategi akhiri TB yang dicanangkan yaitu sebesar 20%. Banyak usaha yang harus dikerahkan untuk mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) untuk mengakhiri epidemi TB pada tahun 2030, salah satunya melalui penegakan diagnosis TB.

Tuberkulosis (TB) disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang paling sering menyerang paru-paru. TB menyebar dari orang ke orang melalui udara. Saat penderita TBC paru batuk, bersin, atau meludah, mereka mendorong kuman TBC ke udara.

Seseorag hanya perlu menghirup sedikit dari kuman tersebut untuk dapat terinfeksi. Orang dengan sistem kekebalan yang lemah seperti orang dengan HIV/AIDS, kekurangan gizi, diabetes, atau orang yang merokok, memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap infeksi ini.

 Penegakkan diagnosis merupakan salah satu kunci penanganan TB. Waktu penegakkan diagnosis menentukan waktu pengobatan/terapi. Semakin cepat pasien terdiagnosis, semakin cepat pula terapi TB dimulai, sehingga diharapkan terapi dapat memberikan hasil yang lebih optimal. Banyak tes yang dapat digunakan untuk penegakan diagnosis TB, diantaranya yaitu tes mantoux/tuberculin skin test (TST), tes Bakteri Tahan Asam (BTA), Tes Cepat Molekuler (TCM) dan Interferon Gamma Release Assay (IGRA).

Tes Mantoux dilakukan dengan cara menyuntikkan sejumlah zat kecil cairan yang disebut dengan PDD tuberculin, pada kulit lengan. Pasca penyuntikan, biasanya akan terbentuk benjolan kecil di permukaan kulit. Dokter akan memberi tanda batas awal di sekeliling benjolan tersebut menggunakan spidol dan memeriksa kembali benjolan yang terbentuk setelah 48-72 jam pasca tes.

Jika tidak muncul pembesaran pada benjolan, dapat disimpulkan bahwa hasil tes Mantoux negatif. Sementara pada hasil tes yang menunjukkan penambahan ukuran benjolan (biasanya sekitar 5-9 mm) dan terlihat tanda peradangan, maka tes Mantoux dinyatakan positif, yakni paisen sedang atau sudah pernah terpapar kuman TB. Hasil tes ini perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan klinis lainnya.

Pemeriksaan klinis lain yang mudah dilakukan adalah pemeriksaan BTA. Tes ini merupakan prosedur untuk mendeteksi bakteri penyebab tuberculosis (TB). Bakteri TB dapat hidup di lingkungan asam, sehingga pemeriksaan terhadap bakteri ini dikenal dengan nama pemeriksaan Bakteri Tahan Asam (BTA).

Pemeriksaan dilakukan dengan pengambilan dahak sebanyak 2 kali yaitu sewaktu dokter meminta sampel dahak dan waktu pagi keesokan harinya. Jika pasien tidak dapat mengeluarkan dahak secara manual, pengambilan dahak dapat dilakukan dengan metode bronkoskopi, yaitu alat khusus seperti selang yang dilengkapi kamera dan dimasukkan ke dalam mulut untuk menjangkau daerah yang terdapat dahak. Sampel dahak akan dianalisis dengan pewarnaan sampel dengan zat khusus dan pengamatan mikroskop.

Metode Tes Cepat Molekuler (Xpert MTB / RIF) merupakan perkembangan alat diagnostik yang dapat mendeteksi adanya kuman Mycobacterium tuberculosis secara otomatis dengan pemeriksaan molekuler.

Pemeriksaan ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi resistensi MTB terhadap rifampisin. Berbagai studi yang dilakukan menunjukkan bahwa Tes Cepat Molekuler (TCM) dengan menggunakan Xpert MTB/RIF ini lebih sensitif jika dibandingkan dengan pemeriksaan mikroskopik.

Sedangkan Interferon-Gamma Release Assays (IGRA) adalah tes darah lengkap yang dapat membantu dalam mendiagnosis TB dengan mengukur reaktivitas kekebalan seseorang terhadap Mycobacterium tuberculosis. Sel darah putih dari sebagian besar orang yang telah terinfeksi M.tuberculosis akan melepaskan interferon-gamma (IFN-g) jika bercampur dengan antigen (zat yang dapat menghasilkan respon imun) yang berasal dari M.tuberculosis. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry