PAPUA: Hadi Sugito mahasiswa Program Manajemen UMG bersama salah satu ketua suku di Kabupaten Mappi, di Selatan Papua. Duta/Humas UMG

GRESIK | duta.co – Cinta tanah air yang begitu menguat dirasakan Hadi Sugito. Dan kecintaan mahasiswa Program Studi (Prodi) Manajemen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) itu justru terpupuk di tanah Papua tepatnya di Kabupaten Mappi.

“Mengikuti Ekspedisi NKRI 2017, Koridor Selatan Papua selama tiga bulan dari 3 Agustus sampai 22 November 2017 di Kabupaten Mappi benar-benar mampu menumbuhkan kecintaan saya pada Tanah Air Indonesia. Saya merasakan begitu beruntungnya saya lahir dan besar di Indonesia,” ungkap mantan Plt Presiden badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMG 2017 itu.

Hadi, begitu pemuda kelahiran Purwodadi, Jawa Tengah itu biasa disapa, merasa benar-benar beruntung mengikuti program yang digagas Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) ini.

Karena ungkap Hadi, tema “Peduli Masyarakat dan Lestarikan Alam Indonesia” mampu menggugah kekagumannya akan Indonesia. Apalagi tugas utama tim Ekspedisi NKRI 2017, yaitu mendata dan memetakan kekayaan alam, sumber daya manusia, serta berbagai persoalan yang ada di wilayah Kabupaten Mappi. “Dari situlah saya menyadari betapa banyak daerah di pelosok Indonesia terutama yang yang selama ini belum banyak terekspose dan diketahui oleh masyarakat luas,” tegasnya.

Justru di kota sejuta rawa, karena daerahnya mayoritas dikelilingi rawa dimana masyarakat mengunakan transportasi kolekole, sepeti perahu kecil, Hadi merasakan hidupnya jauh lebih berarti. “Saya benar-bernar merasa dibutuhkan. Mereka begitu menghargai kedatangan kita mampu mengubah arah hidup mereka jauh lebih baik,” ungkapnya.

Hadi pun mengingat dimana dia harus rela mendonorkan darahnya ke seorang ibu yang melahirkan di dalam hutan. Selama perjalanan berperahu menuju rumah sakit sang ibu mengalami pendarahan. “Karena tim ekspedisi yang bergolongan darah A+ dan fit hanya saya sehingga saya diminta donor darah oleh komandan sub-korwil. Namun saya bahagia setetes darah saya mampu menyelamatkan sang ibu,” kenangnya.

Karenanya cerita-cerita seram, seperti baksos di kampung Wonggi dimana temnya tersesat di hutan rawa selama 10 jam, di tengah hujan deras, dan di kegelapan malam itu, kini justru  menjadi cerita indah.

“Bayangkan kami perkirakan berangakat jam 2 siang dan sampai jam 7 malam. Nggak tahunya jam 4 masih berada di tengah-tengah rawa. Kami harus berenang karena perahu tersangkut. Tapi itu semua jadi cerita terindah saya,” urainya dengan mata berkaca.

Dan dari hal-hal yang terjadi selama ekspedisi itu semakin membuat Hadi merasakan betapa lebih berartinya hidupnya. Hadi yang selama di Mappi selalu ‘dicekoki’ daging rusa ini merasa jauh lebih beruntung. Kehidupan di tempat asalnya yang serba berlebih membutnya merasa malu dan dalam hati dia telah memproklamirkan untuk berbuat lebih baik dengan fasilitas yang serba ada itu.

“Saya merasa harus ada perubahan. Ketimpangan sosial antara Jawa dan luar Jawa harus segera diakhiri demi Indonesia Jaya,” tandasnya. rum

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.