MENGECEWAKAN: Taman Bermain yang menjadi atensi DPRD Kota Mojokerto diduga dikerjakan asal, tidak sesuai dengan spesifikasi yang seharusnya. (duta.co/ARIF RAHMAN)

MOJOKERTO  |duta.co– Kualitas proyek tahun 2016 menjadi atensi DPRD Kota Mojokerto. Seperti hasil pengerjaan play ground hasil pengerjaan CV Pilar akhir 2016 di RSUD Kota Mojokerto. Komisi  II yang membidangi pembangunan mencium indikasi ketidak beresan pada proyek senilai Rp 117 juta tersebut. Mereka menilai dengan anggaran ratusan juta, seharusnya hasil pengerjaan lebih bagus.

Tujuh item proyek taman bermain bocah seperti ayunan, rumah prosotan, 6 kursi taman, mainan tangga, gantungan kubus, paving, dan mangkok putar diduga tidak senilai dengan Harga Satuan Pekerjaan (HSP). Sejumlah wakil rakyat itu sedianya meninjau pekerjaan ini, Jumat (3/3 hari ini.

“Kalau itemnya tidak sesuai Rancangan Anggaran Belanja (RAB) indikasinya jelas mark up. Untuk memastikan bahan yang digunakan apakah sudah sesuai atau tidak maka kita akan kroscek lokasi taman besok,” kata anggota Komisi II, Edwin Endra Praja, kemarin.

Politisi Gerindra ini mengatakan akan memastikan kualitas garapan pihak ketiga ini. “Kita tidak hanya melihat materi bahannya, tapi kualitasnya garapannya juga. Kita mendengar kalau besinya menggunakan besi biasa bukan yang great A,” tambahnya.

Kalau informasi masyarakat ini benar, kata ia, maka dia akan merekom Inspektorat untuk turun. “Inspektorat harus memeriksa ini, kalau ada temuan rekanan harus mengembalikan kelebihan anggaran,” tandasnya.

Dihubungi via telpon, Kabag Umum RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kojin melimpahkan persoalan ini ke rekanan. “Silahkan hubungi rekanan saja, Mas,” elaknya.

Dikonfirmasi dugaan adanya permainan bahan, Pelaksana Lapangan CV Pilar, Avin Nurahman menepisnya. Ia mengatakan hasil garapannya sudah ia sesuaikan dengan pekerjaannya. “Ini sesuai pekerjaannya. Sesuai RAB, ketebalan besinya 5 mm,” katanya seraya berupaya mengingat ukuran besi.

Ia juga tak menjawab ketika ditanya jenis besi yang digunakan apakah besi biasa atau galvanis. “Ya seperti inilah,” tambahnya meski terlihat jelas kalau besinya adalah besi biasa.

Menurutnya, ia menerima pekerjaan penunjukan langsung (PL) karena nilainya dibawah Rp 200 juta. “PL an ini luas tamannya 114 meter,” pungkasnya.

Pengerjaan ini pun dikritik sejumlah pengunjung RS. Sebab, manajemen dianggap lebih mendahulukan kepentingan pembangunan taman ketimbang membenahi parkir belakang yang blethok karena berlantai tanah.

“Ketimbang taman ya mending parkir ini didulukan. Ini jeblok kalau hujan, dan panas karena tidak ada payonnya,” kata Nur Rohman.

Proyek ini tampak asal-asalan. Seperti pada permainan gantungan kubus. Besi bahan oermainan anak ini menggunakan besi kotak. Sehingga akan menyakitkan tangan anak jika harus bergantungan di permainan ini. (ari)