Rizki Amalia, SST, MPH – Dosen Kebidanan, Fakultas Keperawatan dan Kebidanan

Pasca melahirkan, seorang ibu pasti akan mengalami stres.  Karena itu seorang ibu sangat membutuhkan dukungan psikologis dari orang-orang terdekatnya.

Post partum atau pasca melahirkan ini apabila tidak dapat diadaptasikan dengan baik, maka menjadi pemicu stres yang berlebihan bagi seorang ibu. Pada masa postpartum merupakan peristiwa dramatis, menyenangkan dan menjadi dambaan seorang ibu, namun di sisi lain juga merupakan masa dilema atau sulit, karena dihadapkan beberapa kondisi yang kontraproduktif.

Pada satu sisi masa postpartum merupakan masa yang menyenangkan dan diharapkan, namun di sisi lain juga menjadi masa yang sulit, identik dengan masa repot bagi ibu dan membuat kehidupan dan peran ibu berubah.

Kurangnya dukungan dari orang-orang terdekat (significant others) dapat menyebabkan penurunan psikologis yang akan menyebabkan ibu mengalami stres, postpartum blues, depresi atau psikopatologi yang lain. Depresi biasnya terjadi saat stress yang dialami oleh seseorang tidak kunjung reda, dan depresi yang dialami berkolerasi dengan kejadian dramatis atau stresor yang baru saja terjadi pada kehidupan ibu yaitu adanya persalinan dan postpartum yang baru saja dilalui. Untuk mencapai kesejahteraan psikologis, dibutuhkan mekanisme koping yang efektif dan penyesuaian emosi yang aman. Setiap tahapan harus diselesaikan dengan baik atau dinegosiasikan oleh orang yang bersangkutan agar dapat melangkah ke tahapan selanjutnya dengan efektif.

Tahap 1: kepercayaan dasar versus ketidakpercayaan (lahir- 1 tahun). Tahapan ini terkait dengan kemampuan anak untuk mengembangkan hubungan yang aman, nyaman, dan saling percaya dengan ibu, ayah atau orang terdekat lainnya.

Tahap 2: otonomi versus rasa malu dan keraguan (1-3 tahun). Krisis yang terjadi dalam fase perkembangan ini adalah antara memantapkan rasa kendali diri, nilai diri atau harga diri, serta percaya diri dan kemandirian versus rasa malu dan keraguan atas diri sendiri.

Tahap 3: inisiatif versus rasa bersalah (3-6 tahun). Fase perkembangan ini menekankan pada dukungan yang diberikan pada anak untuk melatih kebebasan dan inisiatif, dan pada saat yangbersamaan, juga mengembangkan pengetahuan mengenai aturan dan norma sosial.

Tahap 4: industri versus inferioritas (7-11 tahun).Fase ini menekankan pengaruh kelompok sebaya versus tekanan dan harapan orang tua.

Tahap 5: identitas versus kebingungan peran (12-18 tahun). Fase perkembangan ini diwarnai dengan kebingungan peran dan keragu-raguan. Remaja mungkin berada dalam kondisi yang berubah terus menerus dalam usahanya mencari jati diri, yang mungkin dalam bentuk sosial, pendidikan, pekerjaan atau seksual. Dalam konteks ibu usia remaja, tahapan ini sangat penting diperhatikan oleh bidan.

Tahap 6: keintiman versus isolasi (dewasa muda). Fase krisis perkembangan ini memungkinkan bidan untuk mempertimbangkan pentingnya keutuhan identitas yang sempurna yang bermula dari tahap ke-5 kerangka kerja Erikson.

Tahap 7: produktivitas versus stagnasi (dewasa tengah). Tahapan kedua dari terakhir ini menekankan reproduksi, pengasuhan anak, dan perkembangan keturunan, serta berbuat baik. Fase ini sebagai fase minat dalam membimbing dan mempersiapkan generasi selanjutnya, yang khusus berhubungan erat dengan praktik kebidanan.

Tahap 8: integritas versus keputusasaan (dewasa akhir). Fase akhir krisis perkembangan ini terkait dengan keberhasilan negosiasi semua tahapan sebelumnya dan menerima keterbatasan hidup.

Penelitian Erikson ini memberikan informasi kepada bidan bahwa kehamilan, persalinan, dan nifas ditandai adanya krisis perkembangan. Jika periode peningkatan emosi tersebut tidak dapat diselesaikan secara positif, gangguan psikologis dapat muncul. Selama kehamilan, persalinan dan nifas, pentingnya faktor yang telah ada pada tahap perkembangan sebelumnya dan pengaruhnya terhadap kondisi emosi ibu terkait erat dengan kepribadiannya, pengalaman masa lalu, pengaruh sosiokultural, kualitas dukungan psikososial, peristiwa penting dalam kehidupan, dan respon terhadap orang lain. Peristiwa yang terjadi sebelumnya ini akan menentukan cara ibu bereaksi terhadap perubahan. Konflik seputar harga diri, citra tubuh, feminitas, dan kedewasaan mungkin akan meningkat selama kehamilan. Sama halnya dengan perasaan ibu yang tidak teratasi pada peristiwa persalinan sebelumnya, seperti trauma persalinan, berduka karena kematian bayi atau riwayat kelainan kongenital. Pengkajian yang cermat yang dilakukan bidan selama periode antenatal, mencatat riwayat terdahulu dan bagaimana riwayat ibu memengaruhi kondisi nifas saat ini, merupakan cara yang terbaik untuk mengidentifikasi kelompok ibu yang rentan. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry