Deny Febriwijaya Romadhani, S.Ked – Dokter Muda, Fakultas Kedokteran

MASALAH kesehatan jiwa telah menjadi masalah kesehatan yang belum terselesaikan di tengah-tengah masyarakat, baik di tingkat global maupun nasional.

Dampak pandemi Covid-19 di Indonesia yang melanda hampir 2 tahun lamanya memberikan berbagai persoalan kompleks dan berpotensi membuat permasalahan kesehatan jiwa akan semakin berat untuk diselesaikan.

Banyaknya faktor sebagai stressor menyebabkan individu terpaksa membuat penyesuaian diri dan jika gagal dapat menimbulkan munculnya keluhan seperti stress, cemas dan depresi. Salah satu permasalahan kesehatan jiwa yang sering terjadi adalah depresi.

Depresi merupakan suatu gangguan mental umum yang ditandai dengan mood terdepresi, hilangnya minat dan kesenangan, kurangnya energi, perasaan bersalah atau harga diri rendah, gangguan tidur dan nafsu makan serta konsentrasi yang rendah (Marcus, 2012).

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Dampak dari pandemi Covid-19 ini tidak hanya terhadap kesehatan fisik saja, namun juga berdampak terhadap kesehatan jiwa dari jutaan orang, baik yang terpapar langsung oleh virus maupun pada orang yang tidak terpapar.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi.

Selain itu berdasarkan Sistem Registrasi Sampel yang dilakukan Badan Litbangkes tahun 2016, diperoleh data bunuh diri pertahun sebanyak 1.800 orang atau setiap hari ada 5 orang melakukan bunuh diri, serta 47,7% korban bunuh diri adalah pada usia 10-39 tahun yang merupakan usia anak remaja dan usia produktif.

Menurut PPDGJ, Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurangkurangnya 2 minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu.

Kategori diagnosis episode depresif ringan, sedang dan berat hanya digunakan untuk episode depresif tunggal (yang pertama). Episode depresif berikutnya harus diklasifikasikan di bawah salah satu diagnosis gangguan depresif berulang (Maslim, 2019).

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi depresi adalah dengan berpikir positif dan menyibukkan diri atau melakukan hobi baru. Walaupun sulit, berpikir positif dengan bersyukur terhadap keadaan saat ini masih bisa bernafas dengan baik dan mengingat segala bentuk rezeki yang didapatkan dapat membantu kita belajar bahwa segala sesuatu memang tidak selalu sesuai dengan keinginan.

Pembuatan ‘to do list’ atau daftar kegiatan yang harus dilakukan setiap hari juga dapat membantu kita tetap fokus menjalani hari tanpa memikirkan hal yang tidak perlu dipikirkan. Selain itu, refreshing dari sibuknya kegiatan juga diperlukan untuk mencegah timbulnya rasa jenuh dan stress yang dapat berkembang menjadi depresi.

Referensi: Marcus M., Yasamy M T., Ommeren M V., et al., 2012, Depression A Global Public Health Concern, WHO. Maslim, R. (2019). Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas PPDGJ-III DSM- 5 ICD11. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry