Fildzah Karunia Putri, S.Gz., MSc – Dosen Program Studi S1 Gizi Fakultas Kesehatan

DEPRESI merupakan gangguan mental yang banyak terjadi di dunia. WHO melaporkan bahwa sekitar 300 jura orang mengidap depresi di seluruh dunia. Penyebab munculnya depresi di tiap individu berbeda-beda dan masih belum dapat dijelaskan dengan sederhana.

Salah satu mekanisme neurologi yang menjelaskan munculnya depresi adalah (1) menurunnya hormon serotonin, norepinefrin dan dopamine dan (2) ketidak seimbangan antara mediator pro inflamasi dan anti inflamasi.

Banyak pertanyaan muncul ketika membaca judul artikel ini. Apa hubungan antara depresi dengan mikrobiota usus? Bagaimana otak dan usus bisa terhubung? Jawabannya terletak pada Gut-Brain Connection.

Gut-Brain Connection menghubungkan otak dan usus melalui saraf Vagus di system saraf tubuh kita.

Usus memiliki 500 juta neuron yang terhubung ke otak melalui saraf di sistem saraf. Selain melalui syaraf vagus, usus dan otak terhubung melalui neurotransmitter, yaitu serotonin, gamma-aminobutyric acid (GABA) dan dopamin.

Lalu bagaimana hubungan antara depresi dan mikrobiota usus? Pertama, perubahan komposisi mikrobiota, termasuk spesies yang ada dapat berkontribusi terhadap depresi, dan kedua, keadaan depresi dapat menginduksi modifikasi spesies spesifik mikrobiota usus dan, pada akhirnya, berkontribusi untuk membuat depresi lebih parah.

Kedua hal tersebut telah didukung oleh uji praklinis. Studi populasi pertama yang dilakukan oleh Prof. Jeroen Raes dan tim (VIB-KU Leuven) di Belgia menemukan bahwa ada mikrobiota usus spesifik yang berhubungan dengan kejadian depresi.

Pada jurnal ilmiah beliau yang berjudul “The Neuroactive Potential of The Human Gut Microbiota in Quality of Life and Depression” menemukan bahwa jumlah mikrobiota usus, Coprococcus dan Dialister, menurun pada orang dengan depresi yang mengkonsumsi obat antidepressant atau tidak.

Beliau juga mengatakan bahwa penelitian di populasi manusia masih membutuhkan penelitian lebih lanjut karena adanya perbedaan mikrobiota usus di populasi yang berbeda yang disebabkan pengaruh makanan.

Infeksi yang memerlukan penggunaan antibiotik atau dikondisikan oleh kehadiran obat tertentu seperti antidepresan, yang dapat mempengaruhi keberagaman dan pertumbuhan mikrobiota usus.

Namun, penelitian di tingkat hewan coba sudah membuktikan bahwa memang terjadi komunikasi antara usus dan otak sehingga memungkinkan terjadinya gangguan mental jika terjadi ketidakseimbangan mikrobiota usus.

Salah satu studi penelitian pada hewan pengerat telah menunjukkan timbulnya perilaku depresi setelah transplantasi feses dari pasien dengan depresi berat. Di sisi lain, induksi stres dan perilaku depresi pada tikus mengurangi kekayaan dan keragaman mikrobiota usus.

Serotonin bisa menjadi contoh yang baik dan juga tampaknya menjadi salah satu pemain utama dalam munculnya depresi. Pada manusia, senyawa ini berada dalam konsentrasi tertinggi pada saluran pencernaan di mana ia berperan dalam sekresi, motilitas dan persepsi nyeri.

Mikrobiota usus melakukan dua hal, yaitu memodulasi biosintesis serotonin di dalam tubuh dan memproduksi sendiri serotonin. Selain serotonin, pada individu yang mengalami depresi mempunyai GABA yang tinggi. GABA terkait dengan kecemasan dan depresi.

Pasien dengan depresi berat memiliki lebih banyak GABA dalam darah mereka daripada kontrol, yang sesuai dengan peningkatan sintesis oleh mikrobiota usus.

Penelitian ini memberikan hasil yang paling jelas sejauh ini tentang apakah mikrobiota usus seseorang dapat bertanggung jawab untuk pengembangan dan evolusi munculnya depresi.

Namun, kita harus ingat bahwa yang diamati adalah korelasi, dua hal (depresi dan perubahan mikrobiot usus) yang tampaknya berkembang secara paralel, tetapi itu tidak menyiratkan hubungan sebab-akibat.

Studi ini juga membuka banyak kemungkinan untuk penelitian lanjutan di masa depan, yaitu Dialister dan Coprococcus dapat menjadi psikobiotik, organisme hidup yang tertelan dalam jumlah yang memadai, memberikan manfaat kepada individu yang menderita depresi.

Studi lanjutan tentang metabolisme dan reproduksi mikrobiota usus dan hubungan antara otak-usus ini dapat memberikan target terapi baru, harapan baru akan perawatan yang lebih baik untuk individu dengan depresi.*

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry