TIGA MENARA : Pulau Sapeken dilihat dari jembatan dengan tiga menara telekomunikasi yang sangat membantu masyarakat berkomunikasi, berbisnis dan eksis di media social. (dok/duta.co)

SUMENEP | duta.co –  Pulau Sapeken, salah satu dari 126 pulau yang tersebar di Kabupaten Sumenep Madura. Namun, yang berpenghungi 48 pulau. Sebelum ada jasa transportasi udara, masyarakat kepulauan hanya mengandalkan jalur laut. Mereka sudah terbiasa menempuh waktu perjalanan hingga berjam-jam mengarungi lautan.

Sapeken sebuah kecamatan di Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Wilayah ini terletak di bagian paling ujung , lebih dekat ke Banyuwangi dan Pulau Bali dibandingkan ke Surabaya.

Untuk membeli perlengkapan sehari-hari yang tidak bisa didapatkan di pulau, mereka berlayar menuju Singaraja Bali yang dianggap lebih singkat, yaitu enam hingga sembilan jam. Bila memilih ke Sumenep, Madura, malah menghabiskan waktu hingga 12 jam lamanya.

Mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai nelayan dan pedagang. Secara geografis pulau ini berada di utara Pulau Bali. Pulau ini merupakan sebuah kecamatan di Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Sapeken memiliki luas wilayah 201,88 kilometer persegi, dengan jumlah penduduk 37.765 jiwa.

Secara administratif, terdapat sembilan desa yang masuk kawasan pulau ini. Yaitu Desa Sekala, Desa Pagerungan Besar, Desa Pagerungan Kecil, Desa Paliat, Desa Sasiil, Desa Sabuntan, Desa Tanjung Kiaok, Desa Sepanjang, dan Desa Sapeken. Masing-masing desa tersebut berada di pulau yang berbeda. Antar desa satu dengan desa yang lain dihubungkan dengan perairan. Hanya desa Tanjung Kiaok saja yang berada di pulau Sepanjang Sapeken.

Yang menarik, bagaimana masyarakat Sapeken melakukan komunikasi dengan pulau sekitar dan masyarakat umumnya.Ternyata masyarakat Sapeken sudah terbebas dari isolasi telekomunikasi sejak 20 tahun lalu. Kala itu, tiga operator telekomunikasi yakni Telkomsel, XL dan Indosat sudah membangun Base Transceiver Station atau disingkat BTS. Yakni infrastruktur telekomunikasi yang memfasilitasi komunikasi nirkabel antara perangkat komunikasi dan jaringan operator.

“Dibangunnya menara atau tower telekomunikasi membuat masyarakat Sapeken tidak terisolir dan tertinggal lagi. Dan hampir semua masyarakat kini sudah punya  smart phone dan bisa akes informasi bahkan sudah punya media social seperti Facebook, Instagram, Twitter dan melihat youtube dengan leluasa,” kata Zumrotin, pemilik Toko Ezra yang memutuskan menetap setelah menikah dengan pria asli Sapeken tahun 2011 lalu.

Zumrotin mengaku sangat bersyukur karena tidak terlalu masalah untuk akses telekomunikasi. Pasalnya menara telekomunikasi cuma ada di pulau Sapeken. Sementara pulau-pulau lain yang ikut Sapeken belum ada tower yang dibangun. Jadi signal sulit menjangkau dan kalaupun dapat turun naik. Untuk mendapatkan signal harus pakai antena pendukung jaringannya jika ingin lancar.

“Peranannya sangat vital. Disamping dipakai sebagai alat komunikasi, juga dipakai untuk ajang bisnis seperti jualan via online yang sedang marak di Pulau Sapeken. Hampir semua orang di Sapeken punya smart phone, sekitar 95 persen sudah pasti pegang smart phone,” jelas Zumrotin.

Meski untuk bisa menjangkau pulau Sapeken dari pelabuhan Sumenep butuh sampai 12 jam naik kapal, baginya tinggal di Sapeken tidak kesepian berkat tersedianya jaringan telekonumikasi. Sepertihalnya tempat lain yang mengandalkan komunikasi, kebiasaan masyarakat pulau Sapeken kamana-mana juga membawa smat phone ataupun HP biasa untuk komunikasi. Bahkan tidak jarang pulau sekitar yang ingin mendapatkan signal jaringan telekmunikasi banyak yang mendekat ataupun berlabuh ke pulau Sapeken.

“Media social bukan asing lagi disini. Selain sebagai media aktualisasi juga untuk bisnis. Banyak yang memanfaatkan untuk jualan dan selanjutnya ditindaklanjuti ketemu darat jika diperlukan pertemuan. Disinilah keunikan masyarakat pulau Sapeken yang mungkin beda dengan masyarakat kota di pulau Jawa,” jelas Zumrotin yang asli Lamongan dan sempat kuliah di PTN di Kota Surabaya.

Karena pengguna makin banyak dan kebutuhan akses telekomunikasi yang makin vital, Zumrotin kerap kesulitan untuk akses internet  karena jaringan telekomunikasi di pulau Sapeken sering ngadat, terutama di jam-jam orang belum tidur. Dan signal baru kembali lancar dan cepat digunakan untuk mencari informasi dan input data di atas jam 24.00 wib.

“Sudah saatnya kapasitas jarigan menara telekonumiasi di Sapeken ditambah. Kebutuhan akses internet juga makin diperlukan, termasuk untuk kebutuhan sekolah online. Selain itu, perlunya menambah jumlah teknisi yang berada di pulau  Sapeken supaya jika signal error segera ada yg memperbaiki.”

Khusus untuk operator Telkomsel, Zumrotin menyarankan untuk menambah tower  dan kapasitasnya karena pelanggannya terbesar dan mayoritas . Baik di pulau Sapeken, terlebih di pulau-pulau kecil yang ikut Sapeken mengandalkan jaringan Telkomsel.

Yang berbeda dengan kebanyakan wilayah dan kota yang padat penduduknya, masyarakat Sapeken terbiasa bergerombol di sekitar menara telekomunikasi untuk mendapatkan signal terbaik. Pasalnya di pinggir pulau, signal seringkali kendor dan sulit untuk mendapatkan jaringan yang stabil.

Bisa Komunikasi, Transaksi dan Lihat Medsos di Tengah Hutan Sawit

JUAL SAWIT : Abu Dardak mengendarai perahu tradisional meual hasil panen sawit yang dikelolanya. (dok/duta.co)

Tidak jauh berbeda yang dialami Zumrotin yang tinggal di pulau Sapeken, Abu Dardak yang tinggal di Marabahan, Ibu Kota Kecamatan Barito Kuala Kalimantan Selatan tidak kesulitan untuk akses telekomunikasi dengan hadirnya semu operator jaringan telekomunikasi meski berada di tengah hutan sawit.  Lokasi Marabahan sekitar 70 km dari kota Banjarmasin, bisa ditempuh menggunakan jalur sungai dan darat.

“Daerah boleh terpencil, di tengah hutan sawit dan hutan yang masih asli. Tapi untuk telekomunikasi semuanya ada di Marabahan. Kalau di pelosok hutan yang jauh pastinya jaringan terbatas dan sebagian besar masyarakat tinggal di wilayah yang sudah padat penduduknya,” kata Abu Dardak, pria asli Surabaya yang memutuskan tinggal di Marabahan sekitar lima tahun lalu.

 Bagi Abu Dardak, dibangunnya menara telekomunikasi di Marabahan membuatnya tidak merasa terasing karena semua telekomunikasi bisa dengan mudah diakses. Untuk telekomukasi dengan keluarga, untuk keperluan usaha dan untuk eksistensi diri lewat media social.

 “Media social bukan hal asing bagi masyarakat Marabahan dan sekitarnya. Sekedar untuk eksistensi diri juga untuk usaha jual beli online yang juga makin marak dilakukan khususnya kawula muda yang sudah melek teknologi. “

 Bagi masarakat Marabahan dan sekitarnya, selama ini sangat terbantu dengan dibangunnya menara telekomunikasi seperti XL, Telkomsel, Indosat dan Smartfren. Dengan kehadiran mereka, banyak manfaat yang bisa dilakukan masyarakat meski lokasinya lumayan jauh dari perkotaan. Marabahan dan pulau Kalimantan umumnya didominasi tanaman sawit.

 “Dimana dengan adanya akses telekomunikasi mempermudah komunikasi sesama petani sawit dan mengetahui harga sawit di pasar nasional ataupun global. Dengan demikian tidak ada lagi istilahnya masyarakat Marabahan ditipu soal harga karena bisa chek langsung,” jelas Abu.

Bagi Abu yang kerap melakukan perjalanan menyusuri sungai untuk menjual sawitnya tidak mengalami kesulitan apapun karena jangkauan signal yang stabil sehingga tetap bisa memantau dan melakukan komunikasi untuk mendapatkan harga terbaik. Selain di pasar regional, harga sawit terpengaruh isu pasar global yang kerap dibacanya di sejumlah website yang dengan mudah didapatnya dengan akses internet yang lancar.

2021, Tower Bersama Siapkan Capex Rp 2 triliun

TELEPON : Penduduk Pulau Sapeken sedang melakukan komunikasi tepat disebelah menara telekomunikasi yang ada di pulau tersebut. (dok/duta.co)

PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menyiapkan dana belanja modal (capex) sebesar Rp 2 triliun untuk ekspansi organik pada 2021.

Direktur Keuangan TBIG Helmy Yusman mengemukakan, dana capex ini diambil dari kas internal dan pinjaman bank.

“Pengembangan secara organik dilakukan dengan membangun menara baru dan menambah kolokasi. TBIG menargetkan dapat menambah 3.000 penyewaan tahun ini, terdiri dari menara baru dan kolokasi,” ujar Helmy Yusman dalam rilisnya beberapa waktu lalu.

Ia melanjutkan, dari sisi ekspansi secara anorganik didapat dengan membeli 3.000 menara milik PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST). Nilai pembelian tersebut mencapai US$ 280 juta atau setara Rp 3,97 triliun. Adapun dana pembeliannya berasal dari gabungan antara kas internal dan pinjaman bank.

Helmy berkata, transaksi ini diharapkan selesai pada sekitar akhir kuartal pertama 2021.

Berdasarkan laporan keuangan Perseroan kuartal III 2020, TBIG membukukan pendapatan Rp 3,9 triliun dengan EBITDA Rp 3,4 triliun. TBIG memiliki 31.703 penyewaan dan 16.215 site telekomunikasi. Site telekomunikasi tersebut terdiri dari 16.093 menara telekomunikasi dan 122 jaringan distributed antenna system (DAS).

Emiten menara telekomunikasi PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) optimistis bisnis perseroan tetap stabil di masa depan. Adapun, perseroan mengaku lebih fokus pada pertumbuhan organik dibandingkan akuisisi.

CEO Tower Bersama Infrastructure Hardy Liong mengatakan industri tower termasuk industri yang defensif di era pandemi karena pendapatan mereka mengandalkan pembayaran dari kontrak jangka panjang atas sewa menara telekomunikasi.

“Kontraknya itu 10 tahun dan dari kontrak eksisting kita tidak mengalami masalah, pembayaran dari operator telko juga tepat waktu. Ditambah, kontrak baru yang kita dapatkan selama pandemi ternyata cukup baik,” tuturnya.

Dia menuturkan, sepanjang semester I/2020 TBIG mampu membukukan penyewaan kotor sebanyak 2.517 tenant, terdiri atas 370 sites telekomunikasi dan 2.147 kolokasi. Sehingga secara akumulasi perseroan tercatat memiliki 31.039 penyewaan dan 15.893 site telekomunikasi.

Realisasi tersebut hampir mendekati target yang dipatok perseroan untuk 2020 yakni 3.000 tenant baru. Adapun, dengan penyewa sejumlah itu rasio kolokasi (tenancy ratio) perseroan telah mencapai target yakni menjadi 1,96, naik dari 1,85 di akhir tahun 2019.

Helmy Yusman Santoso menambahkan, untuk menjaga pertumbuhan bisnis ke depan perseroan akan lebih fokus pada pertumbuhan organic meski tak menutup peluang untuk akuisisi menara baik dari perusahaan yang lebih kecil maupun dari operator telekomunikasi.

Helmy mengatakan ada sejumlah hal yang menjadi pertimbangan ketika perseroan akan melalukan akuisisi, mulai dari lokasi aset, prospek ke depan, dan valuasi atas aset yang akan diakuisisi.

“Kita sudah punya 15.000 site di seluruh Indonesia, kalau kita ingin akuisisi sesuatu kita melihat apakah di tempat target akuisisi itu kita sudah punya tower banyak apa belum dan bagaimana prospeknya untuk meraih tenant baru,” jelasnya.

Dia menegaskan akuisisi memang menjadi salah stau strategi pertumbuhan perseroan tapi jika valuasi dan nilai strategis dari aksi korporasi tersebut dinilai kurang pas, perseroan tidak akan memaksakan hal tersebut.

“Strategi utama kita tetap organic growth. [Realisasi sepanjang semester I/2020] mendapat 2.517 tenant itu pertumbuhan tenant yang terbaik sepanjang sejarah pertumbuhan organiknya Tower Bersama,” tutur Helmy. Imam ghozali

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry