JAKARTA | duta.co – Prof. Azyumardi Azra berargumen bahwa demokrasi Indonesia mengalami kemunduran dan makin cacat dengan praktik oligarki politik dan bisnis tanpa melibatkan masyarakat sipil untuk itu Indonesia membutuhkan reformasi jilid dua yang damai.

Pernyataan ini di kemukakan oleh Prof. Azyumardi Azra dalam acara peringatan dan refleksi 24 tahun reformasi dengan tajuk “Reformasi dan Jalan Keluar Krisis” yang diselenggarakan oleh Institut Harkat Negeri, pada tanggal 21 Mei 2022 di Bimasena Club, Darmawangsa Jakarta.

Prof. Azyumardi Azra berpendapat, “Sekarang kita memerlukan reformasi jilid dua yang damai.

Ketua Dewan Pers yang bari ini, berargumen bahwa demokrasi Indonesia mengalami kemunduran dan makin cacat dengan praktik oligarki politik dan bisnis tanpa melibatkan masyarakat sipil untuk itu Indonesia membutuhkan reformasi jilid dua yang damai.

Selain alasan politik, Prof Azyumardi menyatakan bahwa reformasi sosial dan budaya mutlak diperlukan. “Pendidikan kita kacau balau dan nggak jelas, fungsi sisdiknas kacau balau”, imbuh Prof. Azyumardi.

Prof. Azyumardi Azra menyatakan bahwa setelah 24 tahun reformasi banyak kemajuan yang perlu kita apresiasi terutama infrastruktur meskipun infrastruktur sosial dan budaya masih perlu diperbaiki.

Lebih lanjut ia menyatakan bahwa presiden Jokowi sebenarnya bisa melakukan perubahan misal dengan memperkuat kembali KPK, “Akan dicatat sejarah bahwa ada perubahan yang dilakukan”.

Prof. Ginandjar Kartasasmita sebagai pembicara kunci menyatakan bahwa reformasi telah menghasilkan banyak kemajuan di bidang politik.

“Masalahnya menurut saya adalah democratic governance. Kalau kawan-kawan demo menyoroti ya menyoroti governancenya,” katanya.

Mantan menteri pada pemerintahan orde baru dan aktor yang terlibat langsung dalam reformasi 1998 menambahkan bahwa hari ini yang bersatu adalah oligarki untuk melawan kekuatan perubahan.

“Yang tidak bersatu adalah kekuatan-kekuatan perubahan”, imbuh Prof. Ginandjar. Prof. Ginanjar mengajak refleksi terutama apakah mahasiswa hari ini sama seperti mahasiswa 98 atau 65 atau karena oligarki bersatu padu maka semakin sulit dihadapi.

Ketua Institut Harkat Negeri, Sudirman Said menggarisbawahi hubungan antara kredibilitas pemimpin dengan reformasi, “ Semakin kredibel pemimpin, reformasi semakin bisa dijalankan”. Lebih lanjut Sudirman Said mengajukan pertanyaan kritis tentang reformasi sebagai koreksi ketika krisis terjadi.

Sudirman Said menyatakan, “Apabila kinerja pembangunan tidak sesuai dengan tujuan, maka koreksi menjadi hal yang harus dilakukan. Apakah hak koreksi sudah dipenuhi? apakah ada kesempatan untuk melakukan koreksi?”

peringatan dan refleksi 24 tahun reformasi dengan tajuk “Reformasi dan Jalan Keluar Krisis” diselenggarakan oleh Institut Harkat Negeri. Acara tersebut menghadirkan pembicara-pembicara terkemuka yaitu Prof. Dr. Ginandjar Kartasamita, Prof. Dr. Azyumardi Azra, Sudirman Said, Dr. Helmy Faishal Zaini, Dr. Bivitri Susanti, Dr. Ninasapti Triaswati, Ferry Juliantono, Silmy Karim, Antonius Joenoes Supit, dan Hendri Satrio. (*)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry