Dekan FK Unair dan FK Unusa saat pertemuan daring para dekan FK di Jatim beberapa waktu lalu. DUTA/dok

Agar para Lulusan Dokter Tidak Menurun Kualitasnya

SURABAYA | duta.co – Para dekan Fakultas Kedokteran di Jawa Timur harus membuat terobosan di tengah pandemi Covid-19 ini. Ini dilakukan agar kualitas lulusan dokter tidak mengalami penurunan dibandingkan sebelum pandemi.

Karena dalam kondisi seperti ini, kuliah tatap muka masih dilarang dilakukan, praktikum di rumah sakit juga masih belum dilakukan dengan alasan keamanan, sehingga dikhawatirkan lulusan dokter di tengah pandemi ini akan menurun kualitasnya dibandingkan sebelumnya.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Prof Dr dr Budi Santoso, SpOG(K) mengatakan pada dasarnya, semua FK di seluruh Indonesia tidak menginginkan para lulusannya menurun kualitasnya hanya karena pandemi.

“Pandemi tidak menjadi kendala. Kita tetap mematuhi dengan pembelajaran daring. Karenanya harus lebih kreatif bagaimana agar pembelajaran daring tidak mengurangi kualitas seperti halnya tatap muka,” ujar Prof Bus, panggilan akrab Prof Budi Santoso.

Hal penting bagi mahasiswa kedokteran adalah praktikum secara langsung di rumah sakit. Karena praktikum itu yang menjadikan seorang lulusan dokter bisa memiliki keterampilkan sebagaimana layaknya seorang dokter.

“Jadi bukan hanya teori. Di rumah sakit, mahasiswa kedokteran akan belajar secara langsung tentang berbagai macam penyakit yang diderita masyarakat secara langsung. Tapi, kondisi seperti ini, kami lebih mengutamakan keselamatan mahasiswa,” tutur Prof Bus.

Karenanya, untuk sementara FK Unair memberikan pembelajaran praktikum secara daring juga. “Yang secara esensinya sama dengan praktik di rumah sakit,” tandasnya.

Dekan FK Unusa, Dr dr Handayani, MKes juga mengatakan praktikum bagi mahasiswa kedokteran memang sangat penting. Masing-masing FK memiliki kebijakan sendiri-sendiri untuk melakukannya, disesuaikan dengan kondisi daerahnya.

“Kalau di Surabaya karena angka kasusnya tinggi, jadi semua dilakukan daring. Tapi, kalua di daerah lain angka kasusnya tidak terlalu tinggi, mungkin bisa dilakukan langsung di rumah sakit. Sehingga kebijakan itu disesuaikan masing-masing kampus,” tukasnya.

Untuk FK Unusa sendiri, sementara memang menghentikan praktikum di rumah sakit. Apalagi, dua rumah sakit pendidikannya yakni RSI Jemursari dan RSI Ahmad Yani menjadi rumah sakit rujukan pasien Covid-19. “Kami melibatkan orang tua untuk praktikum ini, karena kami menjaga keamanan dan keselamatan mahasiswa. Setelah dan sebelum praktik kami wajibkan swab PCR. Dan selain itu, kami persingkat waktunya,” ungkapnya.

Sementara itu, Dekan FK Universitas Ciputra, dr Charles Siahaan,SpOG mengungkapkan pihaknya selalu berkomunikasi dengan rumah sakit Pendidikan yang menjadi mitranya, yakni RSUD Dr Soewandy. “Pada 11 Januari mahasiswa kami sudah menjalankan praktikum klinik di rumah sakit itu. Namun sebelum dan sesudahnya harus tes swab PCR,” tandasnya. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry