TINGGI: Inflasi di sepanjang tahun 2017 diprediksi mencapai angka 4 persen. (duta.co/dok)

JAKARTA|duta.co – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi deflasi pada Maret sebesar 0,02%. Adapun inflasi pada tahun kalender terjadi yakni 1,19%, inflasi tahun ke tahun (year on year/yoy) adalah mencapai 3,61%.

Menanggapi hal ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pemerintah telah mengupayakan agar harga tetap stabil. Hal ini pun turut berdampak dari rendahnya inflasi pada bulan Maret lalu.

“Harga memang diupayakan stabil, dari harga pangan dan nonpangan karena salah satu kunci selalu tumbuh dengan momentum yang tinggi apabila konsumsi masyarakat terjaga,” tuturnya.

Hanya saja, deflasi ini tidak berarti pada penurunan daya beli masyarakat. Pasalnya, rendahnya inflasi ini masih didukung oleh kuatnya fundamental ekonomi Indonesia.

“Kalau daya beli enggak terganggu inflasi dan kepercayaan tetap dijaga bahwa ekonomi berjalan positif maka konsumsi akan terjaga. Dan interest rate juga jadi tidak meningkat sehingga minat investasi dan kredit growth bagus,” tuturnya.

Sebelumnya, Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) sekaligus ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Aviliani mengatakan, deflasi saat ini adalah suatu yang wajar. Pasalnya, harga pangan akhir-akhir ini telah mengalami perbaikan.

Selain sumbangan deflasi dari komponen bahan pangan, Aviliani menilai program tax amnesty juga menyumbang deflasi. Setelah terjadi deflasi, pekerjaan rumah selanjutnya adalah bagaimana menjaga deflasi ke depannya.

Menurut Aviliani, cara paling tepat menjaga angka deflasi ini adalah dengan menekan kesenjangan dan pengawalan terhadap harga bahan pokok. (imm)

 

 

 

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry