Rudi Umar Susanto, M.Pd. – Dosen S1 Pendidikan Bahasa Inggris

Saatnya tahun ajaran baru dimulai. Tentunya, para orang tua dan wali murid akan disibukkan dalam memilih sekolah sebagai lembaga pendidikan yang tepat untuk menitipkan anaknya untuk dididik secara formal.

Pendaftaran sekolah untuk menarik minat orang tua dan anak sebagai calon siswa digelar sebelum dimulainya tahun ajaran baru akademik sekolah. Sebagai orang tua tentu tak ingin sembarangan dan salah mencari dalam memilih sekolah untuk sang anak tersayang.

Pasalnya, di dalam memilih sekolah yang tepat bagi sang anak, terutama taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD), merupakan “investasi jangka panjang yang sangat penting dan menentukan” bagi masa depan anak-anak Anda. Berbagai pilihan pun telah banyak tersedia di depan mata Anda.

Di zaman sekarang, pilihan sekolah tak hanya berbicara soal biaya pendidikan dan jarak tempuhnya saja. Di kota besar dan kota lainnya pun, kini pilihan tak sesederhana itu lagi, meskipun keduanya tetap menjadi faktor pertimbangan yang utama.

Kini, Anda tak lagi hanya mendengar nama sekolah dengan “Status” Sekolah Negeri dan Sekolah Swasta saja. Saat ini kita pun telah banyak mendengar beragam sekolah.

Seperti sekolah unggulan, sekolah percontohan, sekolah internasional atau sekolah berstandar internasional, sekolah berbasis agama, sekolah dengan asrama, sekolah bilingual, Homeschooling atau kombinasi antara dua dan tiga kategori ini. Lalu, sekolah manakah yang harus dipilih?

Orang tua acap kali dibuat bingung untuk menentukan pilihan atau referensi bagi anak-anaknya yang akan masuk ke jenjang pendidikan. Salah satu cara untuk menentukan keputusan melalui konsep Psikologi dengan Teori Decision Making.

Teori Decision Making Dalam Psikologi, menjadi salah satu hal yang penting dalam kehidupan manusia. Sebab dalam kehidupan ini manusia akan selalu dihadapkan kepada pilihan untuk selalu dapat membuat sebuah keputusan yang tepat.

Decision making sendiri merupakan sebuah proses pengambilan keputusan dengan melibatkan berbagai pertimbangan dan pertentangan yang terjadi sehingga terlihat dilematis dalam diri individu untuk mengambil keputusan.

Dalam Kamus Besar Ilmu Pengetahuan (Dagun, M. Save. 2006: 185) pengambilan keputusan (Decision Making) didefinisikan sebagai pemilihan keputusan atau kebijakan yang didasarkan atas kriteria tertentu. Proses ini meliputi dua alternatif atau lebih karena seandainya hanya terdapat satu alternatif tidak akan ada satu keputusan yang akan diambil.

Dalam buku yang berjudul Human Error. (Ashgate, 1990), J.Reason mengungkapkan Pengambilan keputusan dapat dianggap sebagai suatu hasil atau keluaran dari proses mental atau kognitifyang membawa pada pemilihan suatu jalur tindakan di antara beberapa alternatif yang tersedia.

Dalam pengambilan sebuah keputusan, terdapat beberapa tahapan yang perlu diperhatikan dalam mengambil sebuah keputusan. Adapun tahapan-tahapan tersebut menurut Herbert dan Simon (1977), setidaknya menyebutkan ada tiga tahap yang ditempuh dalam pengambilan keputusan, yakni. (1) Tahap Penyelidikan.

Tahapan ini merupakan tahap ini dilakukan dengan mempelajari lingkungan atas kondisi yang memerlukankeputusan. (2) Tahap Perancangan. Tahapan ini adalah tahapan yang  dilakukan dengan mendaftar, mengembangan, serta menganalisaan arah tindakanyang mungkin dilakukan. (3) Tahap Pemilihan dalam tahap ini, mulai dilakukan kegiatan pemilihan arah tindakan dari semua yang ada.

Selain tahapan dalam pengambilan keputusan. Terdapat 4 gaya pengambilan keputusan yaitu, (1) Gaya Direktif, Dalam hal ini mempunyai toleransi yang rendah pada ambiguitas, dan hanya  berorientasi pada tujuan dan masalah teknis.

Cenderung lebih efisien, logis, pragmatis, serta sistematis dalam memecahkan sebuah masalah. (2) Gaya Analitik,  Mempunyai toleransi yang tinggi untuk sebuah ambiguitas, tujuan yang kuat serta orientasi teknis. Sangat suka menganalisis situasi, mengevaluasi lebih banyak informasi serta alternatif daripada pembuat keputusan direksi.

 Biasanya memerlukan waktu lama untuk mengambil keputusan dapat merespons situasi baru atau tidak menentu dengan baik, gaya kepemimpinan otokratis. (3) Gaya Konseptual, Mempunyai toleransi yang tinggi untuk ambiguitas, terhadap orang yang kuat, dan peduli terhadap lingkungan sosial.

Memiliki pandangan yang luas dalam memecahkan masalah dan suka mempertimbangkan banyak pilihan dan kemungkinan masa mendatang. (4) Gaya Perilaku, Mempunyai toleransi yang rendah pada ambiguitas, orang yang cenderung kuat dan peduli terhadap lingkungan sosial. Melaksanakan tujuan secara baik dengan orang lain dan menyukai situasi keterbukaan dalam pertukaran pendapat.

Semoga dengan adanya informasi tentang tahapan dan gaya pengambilan keputusan ini, dapat membantu orang tua dalam menentukan tempat pendidikan bagi anak-anaknya yang akan melanjutkan studinya. Segala keputusan memiliki konsekuensi masing-masing, yang terpenting komunikasikan dengan anak atas segala keputusan yang akan diambil. *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.