CATATAN PINGGIR PERADABAN

DR ROMADLON SUKARDI, MM

ADA pemimpin yang hanya membaca zaman, ada yang mengikutinya, tetapi ada pula pemimpin yang berani menyiapkan generasi untuk menghadapi zaman yang belum datang. Di titik inilah pesan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pada Hari Pramuka ke-65 terasa melampaui seremoni: ketika Pramuka diarahkan menjadi penggerak swasembada pangan, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan sekadar gerakan menanam, melainkan arsitektur masa depan—generasi muda yang mampu menghubungkan karakter, teknologi, pangan, lingkungan, kewirausahaan dan kedaulatan bangsa dalam satu ekosistem pembangunan. Tema Hari Pramuka 2026, “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045”, menemukan relevansinya dengan arah kepemimpinan Khofifah yang semakin memperlihatkan wajah transformatif, progresif, inovatif, kreatif, adaptif dan berorientasi keberlanjutan.

Bagi saya, pesan tersebut penting dibaca lebih dalam. Pramuka bukan sekadar seragam, tepuk tangan, kemah dan upacara. Pramuka adalah sekolah kehidupan. Ia mengajarkan disiplin, kemandirian, gotong royong, kepedulian, kepemimpinan dan pengabdian. Nilai-nilai itu justru semakin relevan ketika dunia menghadapi perubahan iklim, ketidakpastian geopolitik, ancaman krisis pangan, disrupsi teknologi dan perubahan pola ekonomi global.

Karena itu, ketika Khofifah mengajak Pramuka masuk ke arena ketahanan pangan, sesungguhnya ia sedang melakukan sebuah reframing kepemimpinan generasi muda: dari generasi yang sekadar menjadi penonton pembangunan menjadi generasi yang menjadi pelaku perubahan.

Kepemimpinan Tidak Berhenti Hari Ini

Inilah salah satu karakter kepemimpinan transformatif: tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi membaca kebutuhan masa depan.

Ketahanan pangan tidak cukup dijawab dengan berapa ton beras yang diproduksi hari ini. Pertanyaan strategisnya jauh lebih besar: siapa yang akan menjadi petani 10, 20 atau 30 tahun mendatang? Siapa yang akan mengelola teknologi pertanian? Siapa yang mengembangkan artificial intelligence untuk pertanian? Siapa yang membangun rantai pasok pangan? Siapa yang mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah?

Di sinilah Pramuka memperoleh ruang strategis.

Generasi muda perlu diperkenalkan bahwa pertanian masa depan bukan lagi semata-mata persoalan cangkul, sawah dan tenaga fisik. Pertanian masa depan adalah data, sensor, drone, artificial intelligence, Internet of Things, precision farming, smart irrigation, digital marketplace, agrotechnology, biotechnology, green economy dan entrepreneurship.

Dengan perspektif demikian, pesan Khofifah menjadi jauh lebih futuristik: membangun ketahanan pangan berarti membangun manusia yang mampu menguasai teknologi pangan.

Jawa Timur: Lumbung Pangan Sekaligus Laboratorium Masa Depan

Jawa Timur memiliki modal yang sangat kuat untuk mengambil posisi tersebut. Provinsi ini bukan hanya salah satu lumbung pangan nasional, tetapi juga memiliki basis produksi gula yang strategis. Pada 2025, produksi gula kristal putih Jawa Timur mencapai sekitar 1,34 juta ton dan berkontribusi sekitar 51 persen terhadap produksi gula nasional. Pada 2026, pengembangan tebu diarahkan melalui Program Bongkar Ratoon seluas 48.315 hektare dan Perluasan Areal Tebu 6.582 hektare, sehingga totalnya mencapai 54.897 hektare di 24 kabupaten sentra tebu.

Di sektor padi, luas panen Jawa Timur pada 2025 mencapai sekitar 1,84 juta hektare dengan produksi sekitar 10,44 juta ton Gabah Kering Giling atau setara sekitar 6,03 juta ton beras konsumsi. Angka-angka itu bukan sekadar statistik.

Di balik angka tersebut terdapat petani, buruh tani, keluarga desa, koperasi, UMKM, industri pengolahan, transportasi, perdagangan, pasar dan jutaan manusia yang kehidupannya bergantung pada ekosistem pangan.

Maka, kepemimpinan pangan harus bergerak dari pendekatan produksi menuju pendekatan ekosistem.

Produksi harus bertemu teknologi. Teknologi harus bertemu pendidikan. Pendidikan harus bertemu industri. Industri harus bertemu pasar. Pasar harus memberikan nilai tambah kepada petani. Dan seluruh rantai tersebut harus tetap menjaga lingkungan. Inilah makna pembangunan yang berkelanjutan.

Menuju Pramuka Digital

Ada gagasan besar yang sebenarnya bisa dikembangkan lebih jauh dari pesan Khofifah: *Pramuka Jatim sebagai Green Youth Movement dan Food Security Movement.*

Bayangkan jika setiap Gugus Depan memiliki kebun pangan produktif. Bayangkan jika setiap sekolah memiliki school food garden.
Bayangkan jika setiap Satuan Karya mengembangkan proyek pertanian modern sesuai keahliannya.

Bayangkan jika anggota Pramuka belajar membuat pupuk organik, mengembangkan urban farming, mengelola hidroponik, menggunakan sensor kelembapan tanah, membuat aplikasi sederhana untuk pertanian, mengolah hasil pertanian dan memasarkannya melalui platform digital.

Maka Pramuka tidak hanya menjadi organisasi kepemudaan.

Pramuka berubah menjadi laboratorium sosial bagi lahirnya generasi petani-teknolog, entrepreneur pangan, inovator lingkungan dan pemimpin masa depan. Di sinilah kepemimpinan kreatif dan inovatif menemukan bentuk konkretnya.

Menghubungkan Karakter dengan Kompetensi

Kekuatan lain dari pendekatan Khofifah adalah kemampuannya mempertemukan character building dengan competence building. Pramuka membangun karakter. Sekolah membangun kompetensi. Industri menyediakan pengalaman. Teknologi membuka peluang. Pemerintah menciptakan ekosistem. Dan masyarakat menjadi ruang aktualisasi.

Jika lima kekuatan ini bertemu, maka pembangunan generasi muda tidak lagi berjalan secara sektoral. Ia menjadi sebuah ekosistem kepemimpinan masa depan.

Di sinilah kepemimpinan transformatif berbeda dengan kepemimpinan administratif. Kepemimpinan administratif bertanya, “Apa program kita tahun ini?”

Kepemimpinan transformatif bertanya lebih jauh: “Generasi seperti apa yang ingin kita lahirkan 20 tahun dari sekarang?” Pertanyaan kedua inilah yang menentukan masa depan.

Adaptif Menghadapi Dunia yang Bergerak Cepat

Khofifah juga mengingatkan bahwa dinamika lokal, regional, nasional hingga global harus terus dimitigasi. Pandangan ini menunjukkan karakter kepemimpinan adaptif.

Sebab dunia pangan tidak lagi berdiri sendiri. Perubahan iklim dapat mengubah musim tanam. Konflik geopolitik dapat mengganggu rantai pasok.

Fluktuasi harga energi dapat memengaruhi biaya produksi. Teknologi dapat mengubah model bisnis pertanian.

Dan perubahan perilaku konsumen dapat menentukan komoditas apa yang memiliki masa depan. Karena itu generasi muda tidak cukup hanya tahan banting. Mereka harus tahan perubahan.

Mereka harus mampu belajar, beradaptasi, berinovasi dan menciptakan solusi. Pramuka memiliki modal tersebut karena sejak awal pendidikan kepramukaan memang membentuk manusia yang siap menghadapi medan kehidupan.

Dari Ketahanan Pangan Menuju Kedaulatan Bangsa

Pada akhirnya, swasembada pangan bukan hanya persoalan ekonomi. Ia adalah persoalan kedaulatan.

Bangsa yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri memiliki ruang lebih besar untuk menentukan arah masa depannya.

Karena itu, ajakan Khofifah kepada Pramuka memiliki dimensi kebangsaan yang sangat kuat. Ia ingin menanamkan kesadaran bahwa menjaga pangan berarti menjaga bangsa.

Menanam satu pohon mungkin terlihat sederhana. Mengurangi makanan yang terbuang mungkin terlihat kecil. Mengembangkan kebun pangan sekolah mungkin tampak sederhana.

Tetapi apabila dilakukan oleh jutaan anak muda secara serentak, ia dapat berubah menjadi gerakan peradaban. Inilah filosofi perubahan: sesuatu yang besar sering kali bermula dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten, kolektif dan berkelanjutan.

Menyiapkan Masa Depan

Pada akhirnya, saya melihat pesan Hari Pramuka ke-65 ini sebagai salah satu refleksi penting mengenai model kepemimpinan Khofifah di Jawa Timur.

Transformatif, karena berusaha mengubah cara pandang generasi muda terhadap pertanian dan pangan.

Progresif, karena membawa agenda ketahanan pangan menuju Indonesia Emas 2045. Inovatif, karena mendorong pertanian bertemu teknologi. Kreatif, karena membuka ruang partisipasi anak muda melalui berbagai bentuk kegiatan yang kontekstual. Adaptif, karena menyadari dunia pangan bergerak dalam ketidakpastian global.

Dan berkelanjutan, karena ketahanan pangan harus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Maka, mungkin sudah waktunya kita memperluas makna Dasa Dharma dalam konteks zaman baru. Bukan hanya bagaimana Pramuka menjadi manusia yang baik.

Tetapi bagaimana manusia baik itu mampu menjadi manusia produktif, manusia inovatif, manusia ekologis, manusia digital, manusia mandiri dan manusia yang memberi manfaat bagi bangsa. Sebab Indonesia Emas 2045 tidak akan datang dengan sendirinya.

Ia harus dipersiapkan. Dan persiapan itu dimulai dari hari ini—dari sekolah, desa, sawah, keluarga, organisasi, teknologi dan dari tangan generasi muda.

Dari tunas Pramuka, kita menanam karakter. Dari karakter, kita menumbuhkan kreativitas. Dari kreativitas, kita melahirkan inovasi. Dari inovasi, kita membangun produktivitas. Dari produktivitas, kita memperkuat ketahanan pangan. Dan dari ketahanan pangan, kita menegakkan kedaulatan bangsa.

Inilah sesungguhnya Pramuka untuk masa depan: bukan sekadar pandu yang mengikuti zaman, tetapi generasi yang ikut menentukan ke mana zaman akan dibawa.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry