
SURABAYA | duta.co – Tumpukan botol plastik bekas yang selama ini kerap berakhir di tempat pembuangan sampah, kini diolah menjadi produk kerajinan bernilai jual oleh warga Desa Gading Watu, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik.
Melalui pemanfaatan teknologi sederhana dan keterampilan menganyam, limbah rumah tangga tersebut disulap menjadi keranjang, vas bunga, hingga kotak pensil yang fungsional dan memiliki nilai estetika.
Inisiatif ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang digagas oleh Telkom University Kampus Surabaya. Program bertajuk “Filamen Beraksi: Daur Ulang Botol Plastik untuk Anyaman Kreatif” ini memperkenalkan teknologi tepat guna berupa mesin ekstruder filamen yang mampu mengolah botol plastik bekas menjadi filamen plastik sebagai bahan anyaman. Kegiatan implementasi dan pendampingan masyarakat dilaksanakan di Desa Gading Watu pada Minggu (28/12/2025).
Menghidupkan Kembali Keterampilan Anyaman Warga
Desa Gading Watu sejatinya memiliki potensi keterampilan menganyam yang sempat berkembang beberapa tahun lalu. Namun, aktivitas tersebut terhenti akibat keterbatasan pasokan rotan dan meningkatnya harga bahan baku. Kondisi ini membuat keterampilan menganyam tidak lagi dijalankan secara berkelanjutan.
Melalui program ini, filamen plastik hasil daur ulang diperkenalkan sebagai bahan alternatif pengganti rotan. Kehadiran bahan baru tersebut membuka kembali peluang bagi warga untuk memanfaatkan keterampilan yang telah dimiliki, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan alam yang semakin sulit diperoleh.
Proses Sederhana dengan Teknologi Tepat Guna
Proses pengolahan botol plastik dilakukan melalui tahapan yang relatif sederhana dan dapat diterapkan di tingkat desa. Botol plastik bekas dibersihkan dan dipotong menjadi strip panjang, kemudian diproses menggunakan mesin ekstruder dengan pemanasan terkontrol hingga membentuk filamen plastik dengan diameter yang relatif seragam.
Mesin ekstruder yang digunakan berukuran ringkas dan dirancang agar mudah dioperasikan oleh masyarakat. Dengan desain yang sederhana, teknologi ini dapat digunakan tanpa memerlukan latar belakang teknis khusus. Filamen yang dihasilkan memiliki karakteristik lentur dan kuat, sehingga sesuai untuk bahan anyaman dan memiliki daya tahan yang baik.
Dipimpin Dosen, Didukung Tim Ahli Lintas Bidang
Program pengabdian kepada masyarakat ini dipimpin oleh Abduh Sayid Albana, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D. Pelaksanaan kegiatan didukung oleh tim ahli lintas bidang yang terdiri dari Dr. Benazir Imam Arif Muttaqin, S.T., M.T.; Mustafa Kamal, S.Kom., M.Kom.; Agoes Windarto, S.T., M.M.; serta Mochammad Zulfikar Alfany, S.T.
Selain dosen dan tim ahli, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa Telkom University Kampus Surabaya, yaitu Ega Mawarni Ayuningtyas dan Annisa Sofia Albana. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari pembelajaran berbasis praktik sekaligus pendampingan teknis kepada masyarakat.
Libatkan Puluhan Keluarga Desa
Program ini menyasar warga RT 02 RW 03 Desa Gading Watu dengan jumlah sekitar 210 jiwa atau 58 kepala keluarga. Mayoritas masyarakat berprofesi sebagai buruh tani, peternak, dan ibu rumah tangga dengan sumber penghasilan yang cenderung tidak tetap.
Selama kegiatan berlangsung, warga mengikuti rangkaian aktivitas mulai dari edukasi pemilahan sampah plastik, pelatihan penggunaan mesin ekstruder, hingga praktik teknik anyaman menggunakan filamen plastik. Dari proses tersebut, warga berhasil menghasilkan berbagai produk seperti keranjang penyimpanan, pot bunga, piring anyaman, dan kotak pensil.
Dorong Pemasaran dan Nilai Tambah Produk
Tidak hanya berfokus pada proses produksi, tim pengabdian juga mendampingi warga dalam pengemasan dan pemasaran produk. Produk anyaman dipasarkan melalui pameran lokal, kerja sama dengan mitra UMKM, serta pemanfaatan media sosial dan marketplace.
Produk-produk tersebut diposisikan sebagai kerajinan ramah lingkungan berbasis daur ulang plastik. Nilai keberlanjutan dan kreativitas menjadi daya tarik utama, seiring meningkatnya minat konsumen terhadap produk yang mendukung pengurangan sampah plastik.
Jawaban atas Persoalan Sampah Plastik Perkotaan
Program ini juga dilatarbelakangi oleh persoalan sampah plastik di wilayah perkotaan, khususnya Surabaya yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Desa Gading Watu. Setiap hari, Surabaya menghasilkan sekitar 1.800 ton sampah, dengan sekitar 22 persen di antaranya merupakan sampah plastik. Botol plastik sekali pakai menjadi salah satu penyumbang terbesar pencemaran lingkungan.
Dengan mengolah botol plastik menjadi produk bernilai ekonomi, program ini tidak hanya berkontribusi pada pengurangan sampah, tetapi juga membuka peluang usaha baru berbasis ekonomi sirkular di tingkat desa.
Pendampingan Mitra Lokal untuk Keberlanjutan
Untuk menjaga keberlanjutan program, tim pengabdian menggandeng Yayasan Lestari Bumi Abadi (YLBA) sebagai mitra pendamping. YLBA berperan dalam pendampingan pascapelatihan, menjaga kualitas produk, serta membantu pengembangan jejaring pemasaran.
Ketua YLBA Surabaya Raya, Ir. Adi Candra, S.Si., M.Si., menyampaikan bahwa program ini memberikan pemahaman baru bagi masyarakat.
“Ini membantu masyarakat memahami bahwa sampah plastik bisa diolah mandiri. Kami berharap ini menjadi langkah awal menuju kemandirian desa dalam pengelolaan sampah,” kata Adi Candra.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, mitra lokal, dan masyarakat, program ini diharapkan dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi produktif yang dikelola secara mandiri dan berkelanjutan. imm







































