
“Rivalitas agama di era kini meski terus ada secara laten tapi ia terus dinetralisir oleh kesadaran global yang tidak terbakar oleh api rivalitas itu. Nahdlatul Ulama oleh Gus Dur dibawa ke peran itu.”

Oleh Achmad Murtafi Haris*
KISRUH di PBNU berlangsung keras dan panjang. Kedua belah pihak saling menolak bertemu. Majlis tahkim tidak efektif dan rais aam telah memutuskan untuk memakzulkan ketua umum Yahya Khalil Tsaquf. KH Makruf Amin angkat suara terkait pengabaian rais aam terhadap masukan para masyayikh dalam pertemuan di Lirboyo dan Tebu Ireng agar tidak ada pemakzulan. Dan bahwa pemakzulan adalah kejadian yang memalukan yang harus dihindari dan bukan tradisi NU.
Dalam menghadapi masalah besar, NU selalu berkonsultasi kepada kyai sepuh yang waskita yang tidak termasuk dalam jajaran syuriah tapi masukannya bak sabda pandito ratu yang diikuti. Kyai Makruf berkata bahwa hasil pertemuan di Tebu Ireng yang tidak dihiraukan oleh Rais Syuriah barangkali karena memang yang berkumpul belum sampai maqam waskita (tajam mata batinnya). Walhasil, pertemuan terbaru (Kamis 25/12/25) di Liboyo, Rais Aam bersama Mustasyar dan Ketua Umum PBNU menemukan jalan keluar, islah dan muktamar secepatnya.
Kembali ke tuduhan kepada ketua umum yang mengundang Peter Berkowitz yang katanya Zionis sebagai narasumber pada Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU) juga tidak diklarifikasi ke Gus Yahya. Perkenalan Gus Yahya dengan para tokoh lintas agama dunia tidak berujung indah. Dia malah terjungkal karenanya. Kedekatannya dengan aktifis pluralisme Charles Holland Taylor seorang muallaf asal Amerika dan Peter Berkowitz, akademisi Stanford University dan mantan komisionir Hak asasi manusia kemenlu Amerika mengundang respons keras dari rais aam pemimpin tertinggi NU. AKN NU dianggap disusupi anasir Zionis dengan mengundang mereka sebagai salah satu narasumber.
Berkaca kepada Gus Dur yang memiliki jejaring internasional lintas agama bahkan memimpin mereka, maka respons tersebut telah mengabaikan sama sekali sepak terjang Gus Dur dalam membangun peradaban global berbasis kemajemukan. Gus Dur yang telah membawa Nahdlatul Ulama ke pentas dunia dan diundang sebagai mediator konflik dan inisiator perdamaian, tidak menjadikan mindset sebagian petinggi PBNU mampu menerima kehadiran narasumber dari kampus ternama dunia karena latar belakang Yahudi. Sesuatu yang berada di belakang dan tidak perlu dilihat malah diperhitungkan. Sementara keahlian Berkowitz di bidangnya diabaikan.
Bahkan Holland Taylor yang muallaf ikut ditolak saat akan dijadikan penasehat luar negeri PBNU. KH Said Aqil Siradj yang sering disudutkan karena dianggap terlalu dekat dengan Syi’ah, mengamini tuduhan kedekatan Gus Yahya dengan Zionis. Entah sekedar emosi sesaat karena gagal mempertahankan kursi ketum di muktamar Lampung atau memang membenarkan tuduhan atas gus Yahya itu. Sebagai follower Gus Dur, kyai Said semestinya tidak ikutan arus yang menuduh petinggi NU terasuki Zionisme seperti halnya yang dahulu sering menerpa Gus Dur.
Dunia yang banyak terjadi perang antaragama dan sekte mendorong Gus Dur sebagai pemimpin Ormas Islam terbesar untuk mendamaikan. Ini artinya membangun hubungan baik lintas agama. Yaitu sikap proaktif dan bukan pasif asal tidak menganggu agama orang lain. Dalam sambutannya di sebuah forum Yahudi Gus Dur mengatakan bahwa tidak ada yang bisa menolak keberadaan negara Israel. Sambutan ini membuat terenyuh salah satu hadirin perempuan hingga meneteskan air mata.
Pergaulan global lintas identitas (tidak hanya agama) menjadi tuntutan bagi siapa pun. Ada adagium “think globally act locally”, ini menuntut agar setiap orang (apalagi petinggi Ormas) untuk berwawasan global dan mengenal dunia lain seluas mungkin. Pergaulan dengan anggota kelompok lain apalagi yang dianggap musuh oleh awam perlu dilakukan untuk mengenal perspektif yang berbeda dari kelompok lain.
Dikotomi antara Kita dan Mereka / self and others / al-ana wa al-akhar / minna wa minhum / al-wala’ wa al-bara’, yang berbasis pada paradigma rivalitas abadi (anazu’ al-baqa’ ) tidak bisa dipertahankan dan di saat dunia telah kini hidup di bawah horizon perdamaian pasca runtuhnya Imperium Romawi dan Ottoman di Perang Dunia 1 dan lahirnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pasca Perang Dunia 2. Runtuhnya Imperium Romawi sebagai simbol Judeo-Kristiani dan runtuhnya Imperium Ottoman sebagai simbol Islam, menandai berakhirnya rivalitas agama dan bergesernya rivalitas ke idelogi modern: kapitalisme, komunisme, dan sosialisme.
Rivalitas agama di era kini meski terus ada secara laten tapi ia terus dinetralisir oleh kesadaran global yang tidak terbakar oleh api rivalitas itu. Nahdlatul Ulama oleh Gus Dur dibawa ke peran itu. Sementara kalangan tertentu di NU masih belum memahami sepenuhnya dan lebih suka terbawa arus pandangan kelompok yang mempertahankan status quo yang anti dialog antar agama. Dan menuduh figur yang terlibat di dalamnya sebagai terbawa agenda zionis yang diderita ketum Yahya Kholil Tsaquf. Tuduhan semacam ini apalagi sampai memakzulkan sang ketum adalah bukti tidak mampu difahaminya ide tersebut oleh sebagian petinggi NU hingga memangsa sesama.





































