(Dari Obrolan di Grup WhatsApp Menuju Obor Pemikiran. Terinspirasi oleh pandangan Prof. Dr. KH. Imam Prayogo)

Oleh: Abdur Rahman El Syarif

Celethu’an Kiai Said Aqil Siradj: “ngajinya Hikam dan Ihya’, tapi korupsi”, mungkin sering kita dengar sebagai seloroh khas pesantren. Namun sesungguhnya, ia adalah peringatan yang sangat serius. Sebab yang disindir bukan orang awam, melainkan mereka yang secara keilmuan telah sampai pada puncak literatur tasawuf, namun gagal menghadirkan tasawuf itu dalam perilaku.

Al-Hikam karya Ibn ‘Athaillah dan Ihya’ ‘Ulumiddin karya Hujjatul Islam al-Ghazali adalah kitab-kitab tazkiyatun nafs. Ia ditulis bukan untuk memperindah wacana, melainkan untuk membersihkan hati. Ketika kitab-kitab ini dibaca, dikaji, bahkan diajarkan, tetapi tidak melahirkan rasa takut berbuat zalim, maka problemnya bukan pada teks, melainkan pada hati yang belum hidup.

Pandangan Prof. KH. Imam Suprayogo sangat tepat ketika menegaskan bahwa penyimpangan perilaku bermula dari suasana hati. Korupsi, manipulasi, dan pengkhianatan amanah bukanlah semata kegagalan sistem, tetapi kegagalan batin. Hati yang sehat tidak akan berani mencelakai orang lain, sebab ia selalu berada dalam kesadaran ilahiah.

Al-Qur’an memberi petunjuk yang sangat jelas tentang hal ini:

 وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ ۝ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
(QS. al-Baqarah: 45–46)

Ayat ini menegaskan bahwa shalat hanya terasa ringan bagi orang-orang yang yakin akan liqa’ Allah, perjumpaan dengan Tuhan.

Artinya, shalat yang benar adalah shalat yang menghadirkan keyakinan bahwa kita sedang berdiri di hadapan Allah, bukan sekadar menjalankan kewajiban fisik.

Lebih jauh, Al-Qur’an bahkan memberikan ukuran moral yang sangat tegas:

 إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
(QS. al-‘Ankabut: 45)

Jika shalat tidak lagi mencegah perbuatan keji dan mungkar, termasuk korupsi, maka yang perlu dievaluasi bukan syariat shalatnya, tetapi kekhusyukan dan kehadiran hati di dalamnya.

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin dengan sangat gamblang mengingatkan:

“Laysa al-maqshûd minash-shalâh harakata al-a‘dhâ’, walâkin hudhûr al-qalb.”

(Bukan tujuan shalat itu sekadar gerakan anggota badan, melainkan kehadiran hati).

Kehadiran hati inilah yang menjadi pangkal akhlak. Dan kehadiran hati tidak tumbuh dari teori semata, melainkan dari latihan yang panjang dan konsisten. Di sinilah tarekat memiliki peran sentral. Tarekat adalah disiplin untuk menjaga hati agar selalu sadar akan pengawasan Allah (muraqabah).

Ibn ‘Athaillah dalam Al-Hikam menegaskan:

“Kayfa yashraqu qalbun shuwarul-akwâni munthabi‘atun fî mir’âtihi?”

(Bagaimana mungkin hati bisa bercahaya, sementara bayang-bayang dunia masih terpatri di cerminnya?)

Tarekat bekerja membersihkan cermin hati itu. Melalui dzikir, riyadhah, dan bimbingan seorang mursyid, seseorang dilatih untuk jujur kepada dirinya sendiri sebelum jujur kepada orang lain. Tanpa laku ini, ilmu tasawuf mudah berubah menjadi hiasan intelektual belaka.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang kepemimpinan NU ke depan, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang kualitas batin. NU tidak sedang kekurangan kader pintar, aktivis, atau politisi. Yang semakin langka adalah pemimpin yang hatinya terjaga.

Figur pemimpin NU masa depan idealnya adalah mereka yang memiliki basis tarekat yang kuat, lebih utama lagi jika ia seorang mursyid atau setidaknya salik yang sungguh-sungguh.

Namun basis tarekat ini bukan untuk menjauh dari dunia, melainkan untuk menundukkan dunia di bawah nilai-nilai akhlak. Di atas fondasi itu, ia tetap harus memiliki pengalaman dalam politik pemerintahan, kematangan dalam organisasi, dan keluasan intelektual untuk membaca perubahan zaman.

Imam Junaid al-Baghdadi, tokoh besar yang selalu dirujuk ulama NU, telah lama mengingatkan: “Hâdzâ ‘ilmuna muqayyadun bil-kitâbi was-sunnah.” (Ilmu kami ini terikat dengan Al-Qur’an dan Sunnah).

Artinya, tasawuf yang sejati justru melahirkan tanggung jawab moral dalam kehidupan sosial dan kekuasaan.

Celethu’an Kiai Said Aqil Siradj itu seharusnya tidak kita tertawakan, melainkan kita jadikan cermin. Sebab masa depan NU, dan martabat umat, sangat ditentukan oleh sejauh mana para pemimpinnya benar-benar menghadirkan Allah dalam shalatnya, dalam kebijakannya, dan dalam pengelolaan amanah publik.

NU akan tetap menjadi penyangga moral bangsa jika kepemimpinannya lahir dari hati yang telah lama bersujud, bukan sekadar dari pikiran yang lihai berdebat.

Wallahu A’lamu Bi Ash-Shawab

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry