Keterangan foto krakus.substack.com

SURABAYA | duta.co – Membedah Khazanah Al-Qur’an — dalam grup medsos — bersama KH Taufiq memang mengasyikkan. “Tema (hari ini) Ngaji Kebangsaan. Kita ingin tahu: Dari mana budaya ‘menyembah’ penguasa dimulai?,” katanya mengawali kajian ‘Khazanah Al-Qur’an’ yang terbaca duta.co, awal pekan ini, Senin (19/5/26).

Menurut Kiai Taufiq, salah satu ambisi para penguasa adalah menciptakan kesan dalam diri masyarakat bahwa merekalah penguasa sejati yang berkuasa atas segalanya. “Dengan kekuatan dan keagungan yang mereka miliki seakan mampu menentukan nasib orang lain dan mampu merealisasikan semua yang mereka inginkan,” tegasnya.

Ironisnya, persepsi ini banyak diiyakan orang. Sehingga masyarakat menjadi buta dan tak bisa melihat realitas yang sesungguhnya. “Padahal, Allah Swt menceritakan tentang Fir’aun dalam Firman-Nya: Dan Fir‘aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata, “Wahai kaumku! Bukankah kerajaan Mesir itu milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; apakah kamu tidak melihat?,” tegasnya menyitir QS.Az-Zukhruf:51.

Dalam ayat lain, Al-Qur’an menyebutkan: Dan Fir‘aun berkata, “Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku.” (QS.Al-Qashash:38)

Dan (padahal) Allah Swt menceritakan raja di zaman Nabi Ibrahim as.: Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya, karena Allah telah memberinya kerajaan (kekuasaan). Ketika Ibrahim berkata, “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” dia berkata, “Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan.” (QS.Al-Baqarah:258)*

“Para toghut ini memiliki peran yang sangat besar dalam melemahkan akal manusia. Mereka mewajibkan masyarakat untuk taklid buta dalam mengikuti kehendak penguasa dan mengesampingkan pandangan serta kehendak mereka,” jelasnya.

Masyarakat tidak diberi kesempatan untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Kebebasan mereka telah dirampas dan akal mereka telah dicabut. “Maka (Fir‘aun) dengan perkataan itu telah mempengaruhi kaumnya, sehingga mereka patuh kepadanya. Sungguh, mereka adalah kaum yang fasik.” (QS.Az-Zukhruf:54)

“Itulah upaya penguasa dzalim untuk mendominasi masyarakatnya sehingga ia tidak cukup disebut raja, tapi ia ingin menjadi tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu. Ironisnya, yang (dzalim) seperti itu dipercaya oleh masyarakat luas,” pungkasnya. (mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry