70 tim basket cilik lagi tarung hidup-mati di turnamen 3x3 Edu Fun East 2026 besutan Ladang Lima. (wiwik/duta.co)

SURABAYA | duta.co – Sabtu siang (25/4/2026) di atrium Tunjungan Plaza biasanya diisi suara musik atau promo tenant. Tapi kemarin beda. Suara “cit-cit” sepatu basket, pantulan bola, dan teriakan “defense!” dari mulut-mulut kecil mendominasi. Di tengah mal, 70 tim basket cilik lagi tarung hidup-mati di turnamen 3×3 Edu Fun East 2026 besutan Ladang Lima.

Pesertanya bukan kaleng-kaleng. Usianya 7 sampai 14 tahun, tapi mental dan skill-nya sudah kayak atlet beneran. Mereka ini sisa dari 150 tim yang daftar. Kebayang kan ketatnya seleksi? Panitia benar-benar cuma ambil yang terbaik buat main di babak utama.

Salah satu yang heboh, tim SD Al-Falah Darussalam. Meski badannya paling kecil, passing-nya rapi dan tembakan tiga angkanya sering masuk. Penonton yang awalnya cuma mau ke mal jadi ikut berhenti, tepuk tangan, dan rekam pakai HP. “Lucu-lucu tapi serem mainnya,” celetuk Bu Rini, salah satu pengunjung.

Di balik gegap gempita itu, ada misi besar dari Founder Ladang Lima, Raka Bagus Vinaya. Baginya, turnamen ini cara paling konkret buat support anak-anak Surabaya.

“Umur 7 sampai 14 tahun itu masa emas. Mereka nyerap apa aja cepet banget. Kalau di umur segini nggak kita kasih wadah yang bener, bakatnya bisa hilang. Sayang banget,” kata Raka, yang dari tadi mondar-mandir nonton tiap pertandingan.

Terus kenapa harus basket? Raka nggak nutup-nutupin. “Gue dulu anak basket. Jadi ada ikatan batin. Rasanya beda kalau lihat anak-anak main, inget zaman gue kecil,” ujarnya sambil ketawa. “Kedua, pasarnya gede. Di Surabaya, komunitas basket anak itu hidup banget. Pas Edu Fun East 2026 ngajakin kolaborasi, ya langsung gue ambil. Ini debut kami di olahraga.”

Yang bikin turnamen ini beda, Ladang Lima nggak cuma nyiapin lapangan dan piala. Sebagai brand makanan sehat bebas gluten, mereka nyelipin “kelas gizi kilat” buat semua peserta. Di booth samping lapangan, anak-anak dan orang tuanya dikasih tahu soal makanan yang bikin stamina kuat, fokus terjaga, dan nggak gampang cedera.

“Jadi atlet cilik itu nggak cukup latihan doang. Makannya juga harus bener,” jelas Raka. “Banyak anak aktif tapi sarapannya mie instan. Ya tekor badannya. Makanya kita kenalin, kalau mau performa bagus, bahan bakarnya juga harus premium. Ladang Lima relevan banget di situ.”

Salah satu orang tua, Pak Andi, ngaku terbantu. “Anak saya susah makan sayur. Tapi setelah dikasih tahu kakak-kakak dari Ladang Lima kalau sayur bikin lari tambah kenceng, sekarang mau. Pulang tanding langsung minta brokoli,” katanya, setengah bercanda.

Format 3×3 sengaja dipilih karena cocok buat anak-anak. Mainnya cuma 10 menit, lapangannya setengah, tapi intens. Semua pemain wajib muter, jadi nggak ada yang cuma angetin bangku cadangan. “Anak-anak jadi belajar ambil keputusan cepat, kerja sama, dan tanggung jawab. Kalah menang biasa, yang penting mentalnya kebentuk,” tutup Raka. Wk

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry