“Catatan Sederhana Ngaji Qalbu bersama Sang Guru, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa; Kitab Sirr Al Asrar karya Syeikh Abdul Qadir Al Jailani; Sabtu, 17 Januari 2026.”
Oleh: Abdur Rahman El Syarif

SUBUH itu belum sepenuhnya pergi. Langit Condet masih menyisakan warna biru pucat, seolah enggan berpisah dari malam. Udara lembab, dedaunan diam, dan di serambi pesantren Al-Masykuriyah, para santri, jamaah, dan peziarah ruhani duduk bersila, sebagian hadir secara jasad, sebagian lagi hadir sebagai cahaya pikiran melalui layar-layar kecil di berbagai penjuru.

Di hadapan mereka, Sang Guru membuka Sirr al-Asrār, karya Syeikh Abdul Qadir Al Jailani yang dirasakan bukan sekadar kitab biasa, melainkan lebih sebagai peta perjalanan batin dari siapapun yang membaca dan mengajinya.

“Shalat,” ujar beliau pelan, “bukan hanya kewajiban waktu. Ia adalah jalan hidup ruhani.”

Kalimat itu jatuh perlahan, tidak menghentak, tidak pula menggurui. Namun seperti batu kecil yang dijatuhkan ke danau sunyi, ia menimbulkan riak yang menjalar jauh ke dasar. Dari riak itulah Sang Guru mengajak kami menyelam, bahwa shalat tidak berhenti sebagai satu bentuk tunggal, melainkan terbentang sebagai jalan yang  berlapis. Ada yang ditegakkan oleh raga dalam waktu (Shalat Syariat), dan ada yang dihidupi oleh jiwa dalam keabadian (Shalat Thariqah)

1. Shalat Syariat: Menegakkan Bentuk, Menata Disiplin Jiwa

Syeikh ‘Abdul Qādir al-Jailānī memulai dari yang paling tampak: shalat syariat, lima waktu yang menata hidup, gerak yang menundukkan raga, bacaan yang melatih lisan agar jujur di hadapan Tuhan, rukun-rukun yang menjaga agar ibadah tidak runtuh oleh kehendak sendiri, dan kiblat yang satu, tempat seluruh arah hidup akhirnya dipusatkan.

Di serambi pesantren yang masih basah oleh embun subuh, Sang Guru duduk tenang. Sorot matanya menyapu jamaah, santri yang hadir langsung, dan ratusan wajah lain yang terhubung dari layar-layar kecil. Suaranya tidak meninggi, tapi setiap kalimatnya jatuh tepat ke pusat kesadaran.

“Shalat syariat,” beliau menjelaskan, “adalah pendidikan jasmani ruhani dan etika kepatuhan.”

Ia melatih tubuh agar patuh sebelum jiwa mampu taat sepenuhnya.
Ia mengikat manusia pada waktu, agar ia tidak dikuasai oleh hawa.
Ia menundukkan raga pada aturan, agar batin kelak belajar berserah.

Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang beriman.” (QS. an-Nisā’: 103)

Ayat itu, kata Sang Guru, bukan sekadar perintah fiqh. Ia adalah pengikat ritme kosmik: matahari terbit dan terbenam, siang dan malam, ruh dan raga, semua bergerak dalam keteraturan yang sama.

“Tanpa shalat syariat,” tutur beliau pelan, “manusia akan liar. Hidup tanpa ritme. Tanpa poros.”

Di sudut majelis, seseorang menunduk lebih dalam. Karena di situ kita seperti sedang bercermin: betapa sering hidup kita lelah bukan karena beban, melainkan karena kehilangan jadwal untuk bersujud.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟

“Bagaimana pendapat kalian, jika di depan rumah seseorang ada sungai, lalu ia mandi di situ lima kali sehari, apakah masih tersisa kotoran di tubuhnya?” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Shalat syariat, kata Sang Guru, adalah sungai disiplin. Ia membersihkan bukan hanya dosa,
tetapi kekacauan hidup. Namun di titik inilah Syeikh al-Jailānī mengingatkan dengan lembut tapi tegas bahwa bentuk bukan tujuan akhir. Ia adalah pintu, bukan rumah.

Banyak orang berhenti di ambang pintu. Shalatnya sah, tetapi jiwanya masih gaduh. Geraknya rapi, tetapi hatinya berkeliaran. Bibirnya membaca, namun pikirannya berkelana ke mana-mana.

Allah sudah mengingatkan:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dari shalatnya.” (QS. al-Mā‘ūn: 4–5)

“Lalai,” ujar Sang Guru, “bukan berarti meninggalkan shalat. Lalai adalah hadir secara tubuh, tetapi absen secara hati.”

Di majelis itu terasa hening. Bukan hening karena tidak ada suara, tetapi hening karena setiap orang sedang ditanya oleh batinnya sendiri.

Sang Guru dengan penuh keteduhan menatap wajah para murid dan melanjutkan bahwa hikmah shalat syariat, sebagaimana dituntun para wali, adalah ia membiasakan taat sebelum paham, melatih setia sebelum jatuh cinta, menegakkan raga agar suatu hari hati siap berdiri di hadirat-Nya.

Dan ketika bentuk telah kokoh, ketika disiplin telah menjadi kebiasaan, di sanalah pintu berikutnya perlahan terbuka,  bukan lagi shalat sebagai kewajiban, melainkan shalat sebagai perjalanan (thariqah).

2. Shalat Thariqah: Menghidupkan Hati, Mengumpulkan Batin

“Di sinilah Sirr al-Asrār berbelok ke kedalaman,” kata Sang Guru lembut. Sang Guru tidak segera melanjutkan. Ia menutup kitab perlahan, seakan memberi jeda agar kata-kata sebelumnya benar-benar meresap. Pandangannya menyapu ruang ngaji, wajah-wajah yang duduk bersila, sebagian menunduk, sebagian menahan getar di dada.

Lalu suaranya mengalir pelan, “tidak berbelok dan  memutus jalur syariat, melainkan menuntunnya masuk lebih jauh; bukan keluar dari bentuk, tetapi menembusnya, seperti air yang telah jernih di permukaan, lalu memilih menyelinap ke tanah, mencari mata airnya sendiri, sunyi namun pasti.”, lanjut Sang Guru menjelaskan dengan anologi sufistik yang sangat dalam.

Ruang ngaji terasa menahan napas. Kitab terbuka di hadapan Sang Guru, tetapi yang disentuh sesungguhnya adalah hati kami sehingga sadar bahwa Shalat thariqah, sebagaimana menurut Syeikh ‘Abdul Qādir al-Jailānī adalah shalatnya hati. Masjidnya bukan bangunan, melainkan qalb yang hidup.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam (QS. Qāf: 37)

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati atau yang mau mendengarkan dengan penuh kesadaran.”

“Hati..”, kata Sang Guru, “bukanlah sekadar tempat rasa, tetapi tempat pandangan Allah.

Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَىٰ صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَىٰ أَمْوَالِكُمْ، وَلَٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa dan harta kalian, tetapi Dia memandang hati dan amal kalian.” ((HR. Muslim)

Maka shalat thariqah adalah menjaga hati agar layak dipandang. Sang Guru menuturkan dengan suara yang hampir seperti dzikir:

“Hati itu tidak tidur. Tidak mati. Ia terus shalat, atau terus lalai.”

Firman Allah SWT  dalam (QS. ar-Ra‘d: 28) pun menjadi jawabannya:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”

Selanjutnya Sang Guru menjelaskan bahwa dalam shalat thariqah, yang pertama kali ditegakkan bukan saf tubuh, melainkan susunan batin. Imamnya bukan manusia, tetapi syauq, kerinduan yang jujur kepada Allah. Sebab cinta, sebagaimana diajarkan para arif, adalah penuntun paling lurus menuju-Nya.

Ketika rindu memimpin, hati tidak lagi dipaksa untuk khusyuk; ia datang dengan sendirinya, tertarik oleh yang dicinta. Pada maqam ini, shalat tidak dimulai dari takbir lisan, tetapi dari getar batin yang telah lama menunggu perjumpaan.

Kiblat shalat thariqah pun tidak dibatasi arah, karena yang dituju bukan ruang, melainkan Hadirat. Ke mana pun wajah diarahkan, hati tetap menghadap Dia yang Maha Meliputi. Allah berfirman dalam QS. al-Baqarah: 115:

فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ

“Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah Wajah Allah.”

Ayat ini bukan untuk meniadakan kiblat syariat, melainkan untuk meneguhkan bahwa bagi hati yang terjaga, kehadiran Ilahi tidak terikat oleh arah. Maka shalat thariqah adalah kesadaran untuk selalu berada di hadapan-Nya, di mana pun raga berdiri.

Bacaannya adalah dzikir yang hidup, bukan sekadar lafaz yang dilafalkan, tetapi makna yang disadari. Lidah mengikuti hati, bukan mendahuluinya. Dan ketika tiba pada sujud, yang benar-benar menyentuh bumi bukan hanya dahi, melainkan ego yang dileburkan. Inilah isyarat firman Allah dalam QS. al-‘Alaq: 19:

وَاسْجُدْ وَاقْتَرِب

“Sujudlah dan mendekatlah.” Kedekatan itu tidak diukur oleh jarak, melainkan oleh hilangnya keakuan. Semakin dalam sujud, semakin dekat seorang hamba, bukan karena ia merendah secara fisik, tetapi karena ia mengosongkan diri dari selain-Nya.
Karena itu, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa nilai shalat bukan pada geraknya semata, tetapi pada kehadiran hati di dalamnya:

لَا صَلَاةَ إِلَّا بِحُضُورِ الْقَلْبِ

“Tidak ada shalat yang bernilai kecuali dengan kehadiran hati.” (HR. al-Bayhaqi)

Bahkan beliau mengingatkan, seorang hamba bisa shalat, namun yang tercatat darinya hanya sebagian:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيُصَلِّي الصَّلَاةَ مَا يُكْتَبُ لَهُ مِنْهَا إِلَّا نِصْفُهَا، ثُلُثُهَا، رُبُعُهَا  (HR. Abu Dawud).

Dengan demikian, shalat thariqah adalah ikhtiar menjaga hati agar hadir sepenuhnya, sebab sejauh itulah shalat benar-benar menjadi perjumpaan, bukan sekadar pelaksanaan.

Sang Guru menutup penjelasan tentang shalat thariqah dengan suara yang merendah, nyaris seperti doa yang tidak diminta untuk diaminkan, tetapi diam-diam meresap ke dalam dada:

“Murid-muridku…! Ketahuilah bahwa shalat syariat membuatmu taat. Shalat thariqah membuatmu dekat. Yang satu menyelamatkan amalmu, yang lain menyelamatkan dirimu.”

Kalimat itu tidak berhenti sebagai petuah, melainkan menjelma menjadi  cermin. Kami menyadari, tanpa shalat hati, shalat jasad memang sah secara hukum, tetapi kering secara rasa, ia mengangkat catatan amal, namun belum tentu mengangkat pelakunya. Gerak boleh sempurna, bacaan boleh fasih, tetapi jika hati tak hadir, shalat hanya menjadi tugas yang ditunaikan, bukan perjumpaan yang dihidupi.

Dengan shalat thariqah, shalat tidak lagi berhenti pada rangkaian gerak dari takbir hingga salam. Ia berubah menjadi keadaan ruhani, sebuah kesadaran yang terus menyala. Hati tetap bersujud meski tubuh telah berdiri, dan dzikir tetap mengalir meski sajadah telah dilipat. Pada titik ini, shalat menjelma penjaga batin, bukan sekadar penanda waktu.

Dan di situlah kami mengerti bahwa shalat bukan lagi kewajiban yang datang dan pergi bersama jam, melainkan jalan hidup ruhani, sebuah mi‘raj yang tidak selesai di masjid, tetapi berlanjut dalam seluruh tarikan napas kehidupan.

3. Shalat Hakikat: Menetap dalam Hadirat

Sang Guru melanjutkan penjelasan tentang shalat hakikat  ini dengan nada yang semakin halus, seakan suara beliau tidak lagi ingin didengar telinga, tetapi dititipkan langsung ke relung hati. Kitab Sirr al-Asrār dibiarkan terbuka, namun pandangan beliau terangkat, menyapu jamaah yang duduk bersila, sebagian menunduk, sebagian menahan haru. Lalu beliau berkata pelan: “Ketahuilah, bahwa jika shalat syariat telah menegakkan bentuk, dan shalat tarekat telah menghidupkan hati, maka ketika keduanya menyatu, lahirlah shalat hakikat.

Pada maqam ini, shalat tidak lagi diukur oleh berdiri atau duduk, bukan pula oleh bilangan rakaat atau pergantian waktu. Ia bukan peristiwa yang datang lalu pergi, melainkan keadaan jiwa yang menetap. Allah memberi isyarat tentang keadaan ini dalam firman-Nya (QS. al-Ma‘ārij: 23):

الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ

“Mereka yang senantiasa menetap dalam shalatnya.”

“Dā’imūn,” kata Sang Guru, “bukan berarti shalat tanpa henti secara fisik, tetapi hati yang tidak pernah keluar dari Hadirat.” Inilah shalat hakikat, shalat yang tidak bergantung pada sajadah, karena hati telah menjadi tempat bersujud.

Beliau lalu mengingatkan sabda Nabi ﷺ tentang para nabi dan para wali:

إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ أَحْيَاءٌ فِي قُبُورِهِمْ يُصَلُّونَ

“Sesungguhnya para nabi itu hidup di dalam kubur mereka dan mereka shalat.” (HR. al-Bayhaqi)

Bukan jasad yang bergerak, kata Sang Guru, melainkan kehidupan hati yang tidak pernah terputus. Kematian tidak memutus shalat mereka, sebagaimana hidup pun tidak memisahkannya dari Tuhan. Inilah shalat yang telah menjadi hayah, kehidupan itu sendiri.

Dengan suara yang tetap tenang namun menancap, beliau melanjutkan:

“Orang seperti ini, shalatnya tidak selesai dengan salam. Ia membawa shalat ke pasar, ke kantor, ke ruang kekuasaan, ke ruang konflik.”

Firman Allah seakan menegaskan:

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ

“Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah dan mendirikan shalat.” (QS. an-Nūr: 37)

Shalat hakikat menjadikan seseorang ‘ābid secara lahir, teguh dalam ibadah, dan ‘ārif secara batin, hidup dalam kesadaran Ilahi. Ia hadir di dunia, tetapi tidak tenggelam; berkuasa tanpa diperbudak kuasa; berkonflik tanpa kehilangan nurani.

Sang Guru menutup bab tentang shalat hakikat ini dengan hikmah yang hampir tak terdengar, namun terasa lama tinggal di dada:

“Wahai, para muridku…! Ketahuilah bahwa shalat syariat menjaga amalmu, shalat tarekat menjaga hatimu dan shalat hakikat menjaga kehadiran-Nya dalam hidupmu.”

Pada maqam ini, shalat tidak lagi dimulai dengan takbir dan diakhiri salam. Ia adalah penetapan diri dalam Hadirat, sebuah mi‘raj yang tidak turun kembali. Hamba bergerak di bumi, tetapi hatinya menetap di langit makna. Dan di situlah shalat mencapai puncaknya: bukan sekadar kewajiban yang ditunaikan, melainkan keadaan hidup yang dijalani.

Sunyi menyelimuti forum pengajian. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada penutup yang riuh. Hanya diam yang panjang, seolah setiap hati sedang mencoba menetap, walau sesaat, di Hadirat yang sama.

4. Dari Derajat Menuju Qurbah

Sang Guru dengan suara penuh karamah menjelaskan bahwa Syeikh al-Jailānī telah menguraikan tentang perbedaan keduanya dengan garis yang terang dan tidak menyisakan kabut makna bahwa  shalat tanpa hati melahirkan derajat, sedangkan shalat dengan hati melahirkan qurbah. Keduanya sama-sama bernilai, tetapi tidak berada pada tingkat yang sama.

Shalat tanpa kehadiran hati tetap sah dan berpahala. Ia mengangkat derajat, menempatkan seseorang dalam barisan orang taat, memperindah catatan amal, dan menjaga tatanan syariat. Derajat ini penting; tanpanya, kehidupan beragama akan runtuh. Namun derajat berhenti pada pengakuan hukum dan ganjaran. Ia mengatur posisi hamba, tetapi belum tentu menghadirkan kedekatan.

Sebaliknya, shalat dengan hati tidak hanya menunaikan kewajiban, tetapi menghadirkan perjumpaan. Ketika hati hadir, shalat tidak lagi sekadar kewajiban yang dilaksanakan, melainkan hubungan yang dihidupi. Inilah yang melahirkan qurbah, kedekatan dengan Allah. Qurbah tidak selalu tampak di mata manusia, tetapi ia membentuk batin hamba: lebih tunduk, lebih jujur, lebih ringan dari kesombongan.

Allah mengisyaratkan maqam ini dalam firman-Nya:

كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

“Jangan patuhi (kesombongan), sujudlah, dan mendekatlah” (QS. al-‘Alaq: 19)

Dengan demikian, derajat dan qurbah bukan dua jalan yang saling meniadakan, melainkan dua tahap yang saling melengkapi. Derajat menjaga agar ibadah tidak runtuh, sementara qurbah menjaga agar ibadah tidak hampa. Derajat bisa membuat seseorang terlihat saleh; qurbah membuat seseorang menjadi hamba. Di titik inilah shalat mencapai tujuan terdalamnya: bukan untuk menegaskan posisi kita di hadapan manusia, tetapi untuk menjaga jarak agar tidak menjauh dari Tuhan.

Derajat, kata Sang Guru, adalah kedudukan. Ia bisa mengangkat nama, memperindah citra, bahkan menghadirkan kekaguman manusia. Tetapi qurbah adalah kedekatan; ia tidak selalu terlihat, tidak selalu dipuji, namun mengikat hamba dengan Tuhannya. Derajat bisa membuat seseorang tampak saleh. Qurbah membuat seseorang menjadi hamba.

Bukan sekadar sujud, tetapi iqtirāb, kedekatan. Bukan sekadar benar, tetapi dekat.

Di titik itu, Sang Guru terdiam sejenak.
Keheningan merambat di ruang ngaji. Tidak ada yang berani menggeser duduk, seolah setiap gerak bisa merusak sesuatu yang sedang turun. Lalu beliau berkata pelan, hampir seperti bisikan yang dititipkan ke hati masing-masing:

“Shalat bukan untuk membuat kita merasa benar. Shalat adalah jalan agar kita tidak jauh.” Kata Sang Guru mengakhiri Ngaji Qalbu pagi itu dengan penuh hikmah. Kalimat itu tidak meminta tepuk tangan, namun ia meminta kejujuran.

Dan pagi itu, jamaah tidak pulang membawa jawaban. Mereka pulang membawa pertanyaan yang lebih dalam, pertanyaan yang tidak bisa dijawab di lisan, tetapi harus dijalani dalam hidup:

Apakah shalatku masih sekadar kewajiban?
Ataukah ia telah menjadi jalan hidup ruhani?

Di langit Condet, matahari perlahan naik, menyinari atap-atap rumah dan jalanan yang mulai ramai. Namun di banyak dada, sesuatu yang lain baru saja terbit, sebuah kesadaran sunyi bahwa shalat bukan sekadar perjalanan dari takbir ke salam, melainkan perjalanan pulang.

Pulang dari sibuk menuju hadir. Pulang dari merasa benar menuju merasa dekat. Pulang dari diri menuju Tuhan. Dan Ngaji Qalbu pun berakhir, bukan dengan penutupan, tetapi dengan permulaan.(*)

#NgajiQalbu
#PonpesAlMasykuriyah
#AliMasykurMusa

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry