
“Ketika Perempuan Menanam Ilmu, Peradaban Menumbuhkan Masa Depan.”
CATATAN PERADABAN
OLEH: Dr KH ROMADLON SUKARDI, MM*
“PERADABAN tidak selalu lahir dari istana. Kadang ia tumbuh dari tangan seorang perempuan yang menanam ilmu, lalu diwariskan kepada generasi yang bahkan belum pernah ia kenal.”
Ada sebuah pelajaran sejarah yang sangat dalam dari Fez, Maroko.
Berabad-abad silam, seorang perempuan bernama Fatimah al-Fihriya meletakkan fondasi sebuah tradisi keilmuan yang kemudian dikenal melalui Masjid dan pusat pendidikan Al-Qarawiyyin. Dalam lintasan sejarah, kawasan Fez bahkan disebut UNESCO sebagai rumah bagi universitas tertua di dunia.
Di sinilah kita menemukan satu pesan peradaban yang sering terlupakan: perempuan bukan sekadar objek sejarah; perempuan dapat menjadi subjek yang menulis sejarah.
Fatimah al-Fihriya tidak sekadar membangun sebuah bangunan. Ia menanam gagasan. Dan gagasan yang ditanam dengan keikhlasan dapat hidup jauh lebih panjang daripada usia manusia yang menanamnya.
Maka ketika nama Fatima al-Fihriya kembali dihidupkan melalui sebuah penghargaan internasional bagi perempuan yang memiliki kontribusi pada kepemimpinan, pemberdayaan sosial, kemanusiaan, kesetaraan gender dan kehidupan masyarakat, sesungguhnya yang sedang dirawat bukan hanya nama seorang tokoh masa lalu.
Yang sedang dirawat adalah mata rantai peradaban perempuan dari generasi ke generasi.
Dan menariknya, mata rantai itu kini bertemu di Surabaya.
Ibu Nyai Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dan Ibu Dr. (HC) Hj. Khofifah Indar Parawansa dijadwalkan menerima Fatima al-Fihriya Awards edisi keenam di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, 6 November 2026. Dalam pemberitaan, Khofifah disebut menerima kategori Kepemimpinan Perempuan dan Pemberdayaan Sosial, sementara Sinta Nuriyah memperoleh kategori Advokasi Kemanusiaan dan Kesetaraan Gender. Penghargaan tersebut menjadi bagian dari rangkaian konferensi perempuan internasional yang membahas peran perempuan dalam agama, ilmu pengetahuan dan kepemimpinan.
Bagi saya, ini bukan sekadar award. Ini adalah sebuah pesan zaman.
PEREMPUAN, ILMU DAN KEPEMIMPINAN PERADABAN
Jika Fatimah al-Fihriya dikenang karena membangun ruang bagi tumbuhnya ilmu, maka Sinta Nuriyah dan Khofifah dapat dibaca dalam konteks kekinian sebagai dua figur perempuan Indonesia yang bergerak pada medan pengabdian yang berbeda, tetapi bertemu pada satu titik: memperluas manfaat bagi manusia.
Sinta Nuriyah bergerak melalui advokasi kemanusiaan, dialog lintas iman, dan perjuangan kesetaraan serta perlindungan kelompok rentan.
Khofifah bergerak dalam ruang pemerintahan, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, organisasi perempuan, dan pembangunan sosial.
Keduanya menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan tidak harus dibangun dengan meninggalkan akar agama dan budaya.
Justru sebaliknya. Agama dapat menjadi sumber energi etik. Ilmu menjadi kompas. Kemanusiaan menjadi orientasi.
Dan kekuasaan publik menjadi instrumen untuk menghadirkan kemaslahatan.
Inilah yang dalam perspektif kepemimpinan modern dapat kita baca sebagai kepemimpinan transformatif.
Kepemimpinan yang tidak berhenti pada apa yang dikerjakan hari ini, tetapi bertanya:
“Apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya?”
KHOFIFAH DAN ENAM DIMENSI KEPEMIMPINAN MODERN
Jika kita membaca perjalanan kepemimpinan Khofifah dalam perspektif pembangunan Jawa Timur, maka setidaknya terdapat enam dimensi yang menarik untuk direnungkan: transformatif, inovatif, kreatif, progresif, adaptif dan berkelanjutan.
Pertama, transformatif. Kepemimpinan transformatif adalah kepemimpinan yang mengubah cara pandang, bukan sekadar mengubah program.
Dalam konteks perempuan, pendidikan, pesantren, kesejahteraan sosial, kesehatan, ekonomi, lingkungan dan pembangunan manusia, transformasi tidak cukup hanya menghasilkan program baru.
Yang lebih penting adalah mengubah masyarakat dari penerima manfaat menjadi pelaku pembangunan.
Karena itu, ukuran keberhasilan pemimpin bukan hanya berapa banyak program diluncurkan, tetapi berapa banyak manusia yang kemudian memiliki kemampuan untuk berdiri, bergerak dan berkembang secara mandiri.
Kedua, inovatif. Dunia berubah sangat cepat. Teknologi, ekonomi digital, perubahan iklim, geopolitik, demografi dan pola komunikasi masyarakat menghadirkan tantangan yang tidak dapat diselesaikan dengan cara-cara lama.
Kepemimpinan modern menuntut keberanian bertanya: “Apa yang harus kita lakukan secara berbeda?”
Dalam konteks ini, inovasi bukan sekadar teknologi. Inovasi adalah keberanian menemukan cara baru untuk menyelesaikan persoalan lama.
Bahkan penghargaan yang diterima Khofifah dalam berbagai bidang sepanjang 2026 menunjukkan bahwa sejumlah pihak menilai kontribusinya pada isu pembangunan yang berbeda, mulai dari gizi dan kesehatan hingga keterbukaan informasi serta ekosistem media.
Ketiga, kreatif. Pemimpin kreatif tidak hanya melihat apa yang tersedia. Ia melihat apa yang mungkin diciptakan.
Di sinilah perempuan memiliki posisi strategis dalam pembangunan peradaban. Kreativitas bukan hanya menghasilkan karya, tetapi kemampuan menghubungkan berbagai kekuatan yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri: pemerintah, pesantren, perguruan tinggi, organisasi perempuan, dunia usaha, masyarakat sipil, komunitas dan generasi muda.
Kreativitas kepemimpinan adalah kemampuan merajut yang tercerai menjadi energi bersama.
Keempat, progresif. Progresif bukan berarti meninggalkan tradisi. Progresif adalah kemampuan membawa nilai-nilai luhur ke dalam persoalan zaman. Inilah mengapa sosok seperti Fatimah al-Fihriya tetap relevan.
Ia hidup pada masa yang berbeda, tetapi gagasannya tentang ilmu pengetahuan tetap dapat dibaca oleh manusia berabad-abad kemudian.
Tradisi yang sehat bukan tradisi yang membelenggu masa depan. Tradisi yang sehat adalah akar yang membuat pohon mampu tumbuh tinggi.
Maka perempuan Indonesia hari ini tidak perlu memilih antara menjadi religius atau modern, antara berakar pada tradisi atau berpikir global. Keduanya dapat berjalan bersama. Akar kuat, cakrawala luas.
Kelima, adaptif. Pemimpin yang adaptif memahami bahwa dunia tidak pernah diam. Hari ini tantangannya mungkin kemiskinan dan ketimpangan. Besok teknologi kecerdasan buatan. Lusa perubahan iklim. Kemudian transformasi pekerjaan, ketahanan pangan, keamanan digital, kualitas pendidikan dan kompetisi global.
Karena itu, kepemimpinan modern tidak boleh terjebak pada keberhasilan masa lalu. Yang berhasil kemarin belum tentu cukup untuk menghadapi hari esok.
Adaptasi bukan kehilangan prinsip. Adaptasi adalah mengubah cara berjalan tanpa kehilangan arah.
Keenam, berkelanjutan. Inilah dimensi paling penting. Sebab peradaban tidak dibangun untuk satu periode pemerintahan. Tidak dibangun untuk satu generasi. Tidak pula dibangun untuk satu nama. Peradaban dibangun untuk masa depan yang belum kita lihat.
Fatimah al-Fihriya tidak mungkin menyaksikan seluruh generasi yang kemudian belajar dari tradisi keilmuan Al-Qarawiyyin.
Tetapi ia meninggalkan sesuatu yang melampaui dirinya. Itulah hakikat pembangunan berkelanjutan: kita menanam sesuatu yang mungkin tidak sempat kita nikmati sendiri.
DARI MASJID MENUJU UNIVERSITAS, DARI NILAI MENUJU PERADABAN
Ada satu hal yang sangat menarik untuk direnungkan. Fatimah al-Fihriya memulai sesuatu dari masjid. Di dalam tradisi Islam, masjid bukan hanya tempat sujud. Masjid adalah tempat ilmu. Tempat pembentukan akhlak. Tempat pertemuan masyarakat. Tempat membangun solidaritas. Tempat lahirnya gagasan.
Maka hubungan antara masjid–ilmu–perempuan–peradaban sesungguhnya bukan sesuatu yang asing dalam sejarah Islam.
Dan di Jawa Timur, gagasan itu mendapatkan relevansi tersendiri.
Ketika Khofifah dikenal sebagai bagian dari penggerak dan pembina berbagai ekosistem sosial-keagamaan dan pendidikan, termasuk keterlibatannya dalam pembinaan Masjid Nasional Al Akbar dan Yayasan Pendidikan Khadijah, maka yang menarik untuk dibaca bukan sekadar jabatan atau posisi formalnya.
Yang lebih penting adalah ekosistem nilai yang dibangun. Sebab seorang pemimpin modern tidak cukup hanya memiliki power.
Ia harus memiliki purpose. Tidak cukup memiliki kewenangan. Ia harus memiliki kebermaknaan. Tidak cukup mampu mengambil keputusan. Ia harus mampu meninggalkan jejak kemaslahatan.
AWARD BUKAN AKHIR, MELAINKAN AMANAH
Di sinilah saya ingin memberi catatan kecil. Sebuah penghargaan jangan sampai berhenti menjadi foto, karangan bunga, sertifikat dan tepuk tangan.
Award yang paling tinggi nilainya adalah ketika penghargaan berubah menjadi amanah.
Ketika nama seseorang diabadikan dalam sebuah penghargaan, sesungguhnya masyarakat sedang mengatakan: “Kami melihat apa yang telah Anda kerjakan. Kini lanjutkan, perluas dan wariskan.”
Maka Fatima al-Fihriya Awards bagi Khofifah dan Sinta Nuriyah seharusnya dibaca sebagai undangan untuk melanjutkan perjuangan, bukan sekadar penghormatan atas masa lalu.
Sebab dunia perempuan hari ini masih menghadapi banyak persoalan.
Masih ada perempuan yang kehilangan akses pendidikan. Masih ada anak yang tumbuh dalam kemiskinan. Masih ada kelompok rentan yang membutuhkan perlindungan. Masih ada kesenjangan kesempatan. Masih ada kekerasan. Masih ada prasangka. Dan masih ada generasi muda yang membutuhkan teladan. Maka perjuangan belum selesai.
DARI FATIMAH AL-FIHRIYA, KITA BELAJAR “NANDUR”
Dalam filosofi Jawa terdapat kata yang sangat sederhana tetapi dalam: Nandur. Menanam. Orang yang nandur tidak selalu bertanya kapan ia akan memanen. Ia menanam karena percaya bahwa kehidupan harus diteruskan.
Begitu pula dengan ilmu. Begitu pula dengan pendidikan. Begitu pula dengan kepemimpinan. Begitu pula dengan pengabdian.
Pemimpin besar bukan hanya orang yang pandai memanen hasil pembangunan, tetapi orang yang bersedia menanam sesuatu yang akan dipanen oleh generasi sesudahnya.
Fatimah al-Fihriya menanam ilmu. Para ulama menanam ilmu. Para ibu menanam nilai. Para guru menanam karakter. Para pemimpin menanam kebijakan. Dan masyarakatlah yang kelak memanen peradaban.
Karena itu, kepemimpinan modern yang sesungguhnya bukan sekadar leadership of power, melainkan leadership of legacy.
Bukan hanya: “Apa yang telah saya capai?” Tetapi: “Apa yang akan tetap hidup setelah saya selesai?”
CATATAN PINGGIR
Saya membayangkan suatu hari nanti anak-anak perempuan Jawa Timur berdiri di ruang kelas, laboratorium, pesantren, kampus, pusat teknologi, ruang pemerintahan, dunia usaha, rumah sakit, panggung kebudayaan dan ruang-ruang pengambilan keputusan.
Mereka tidak lagi bertanya: “Apakah perempuan boleh memimpin?” Tetapi bertanya: “Apa yang bisa kami bangun untuk manusia?”
Pertanyaan itulah yang membawa kita dari era emansipasi menuju era kontribusi.
Dari meminta kesempatan menuju menciptakan kesempatan. Dari menjadi objek pembangunan menuju menjadi subjek peradaban. Dan di situlah makna terdalam Fatima al-Fihriya Awards.
Fatimah al-Fihriya bukan hanya nama dari masa lalu. Ia adalah simbol bahwa seorang perempuan dapat menanam sesuatu yang membuat dunia belajar selama berabad-abad.
Sinta Nuriyah dan Khofifah, dengan medan pengabdian masing-masing, dapat ditempatkan dalam mata rantai inspirasi itu: bahwa perempuan yang berilmu, berintegritas, berani mengambil tanggung jawab dan bekerja untuk kemaslahatan dapat menjadi kekuatan penting dalam membangun peradaban.
Maka, selamat kepada para perempuan yang terus menanam. Sebab mungkin kita tidak akan selalu melihat buahnya.
Tetapi sejarah akan mencatat: pernah ada perempuan-perempuan yang memilih menanam ilmu, menanam kemanusiaan, menanam pemberdayaan, menanam keberanian, dan menanam masa depan.
Dan kepada Ibu Nyai Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid serta Ibu Dr. (HC) Hj. Khofifah Indar Parawansa, semoga penghargaan ini menjadi amanah baru untuk memperluas kemanfaatan, memperkuat pemberdayaan perempuan, menghidupkan ekosistem ilmu, dan menghadirkan kepemimpinan yang semakin transformatif, inovatif, kreatif, progresif, adaptif dan berkelanjutan.
Sehat, istiqamah dan terus menginspirasi. Karena pada akhirnya, “Manusia boleh selesai, tetapi kebaikan tidak boleh berhenti.” Membaca Peristiwa, Merawat Nilai, Menata Masa Depan.(*)





































