(Catatan Hari Ke-5 Suluk Ramadhan Di Pondok Pesantren Pasulukan Al Masykuriyah Batuampar Condet Raya akarta)
Oleh: Abdur Rahman El Syarif

SUBUH masih basah oleh embun, ketika langkah-langkah kaki para salik menyusuri pelataran Pesantren Pasulukan Al Masykuriyah.

Di balik sunyi yang memeluk pondok, ada degup hati yang mulai mengenal rindu terdalam, rindu yang bukan lagi bersifat duniawi, tapi rindu akan Sang Maha Hadir. Hari itu adalah hari kelima, dan para ikwan serta ikhwat yang telah melalui jalan sunyi suluk selama empat malam berturut, kini tiba pada sebuah gerbang maqam baru, yakni dari Amal Lima menuju Amal Sembilan.

Di dalam pendopo tua yang beraroma kayu cendana dan doa-doa yang telah lama tinggal, sang Mursyid, Syeikh Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, duduk bersila dengan wajah yang teduh menatap keabadian. Satu per satu murid-murid duduk membentuk lingkaran dzikir, seakan menjadi kelopak bunga yang mengelilingi benih cahaya.

Hening. Hanya gema dzikir “Allāh… Allāh… Allāh…” yang membelah kesunyian seperti angin yang meniup tabir dunia.

Maqam Amal Lima telah menjadi rumah sementara. Latifah Qolbi, hati sanubari telah digarap dengan cucuran peluh dan air mata taubat. Dada yang awalnya berat kini perlahan lapang, saat 70.000 kali dzikir sehari semalam menjadi taman dzikir yang menumbuhkan kerinduan abadi.

Tiap seratus dzikir diselingi seruan cinta, “Ilahi anta maqshudi wa ridhaka mathlubi”, Ya Ilahi, Engkau tujuan kami, dan ridha-Mu yang kami dambakan.

Namun, jalan menuju Allah tak pernah berhenti di satu maqam. Dan hari kelima ini adalah saat dipanggil naik menuju Amal Sembilan, maqam para pecinta yang lebih dalam, yang menyentuh lapis-lapis ruhaniyah lebih lembut dan tersembunyi.

Pagi itu, setelah tawajjuh shalat malam, ba’iat kembali dibacakan. Tangan-tangan salik digenggam dengan penuh kasih oleh sang Mursyid yang mulia. Tak ada pidato panjang. Hanya bisikan batin dan anggukan qalbu.

Kemudian satu per satu mulai menapaki Latifah demi Latifah, dari Latifah Ruh yang bersemayam di bawah susu kanan, tempat kasih mula-mula bermula, Latifah Sirr, Latifah Khafi hingga Latifah Akhfa yang tersembunyi di pusat jiwa, pusat rahasia terdalam jiwa insan.

Dzikir yang dahulu 5000x 14 kali dudukan, kini menjadi 9000 x dalam setiap duduk dan dilakukan sebanyak 8 kali dudukan. Bukan beban, tetapi pelipur. Dalam gelap malam yang syahdu, para salik menyesap ayat-ayat batin.

Gema dzikir kini bukan hanya menggetarkan hati, tapi merambat ke paru-paru, ginjal, limpa, hingga tulang sumsum. Seakan tubuh ini bukan lagi milik dunia, tapi hanya wadah rindu kepada-Nya. Ketika dzikir melampaui angka, dan air mata jatuh tanpa sebab selain cinta, hati mereka berbisik:

“Dzātullah wāḥid bīlā kaifin walā mitslin…”
Dzat Allah yang Esa, tiada bentuk, tiada yang menyerupai.

Semua larut dalam alunan cahaya. Tubuh dan jiwa berdzikir, ruh menari dalam fana’, dan qalbu membubung tinggi menembus hijab-hijab ke-aku-an. Tiap detik bukan lagi milik waktu, tapi milik cinta. Tiap tarikan nafas bukan lagi tanda hidup, tapi bentuk kesadaran akan Kehadiran-Nya.

Suluk bukan hanya tentang diam, tapi tentang dengung cinta yang tak terdengar. Tentang lapar dan haus yang bukan karena tak makan, tapi karena tubuh ini rindu akan santapan ruhani.

Adab suluk, mengurangi bicara, tidur, dan makan, semakin menebalkan cahaya di wajah para salik. Mereka bukan siapa-siapa, tetapi di hadapan Allah, mereka adalah orang-orang yang mengetuk pintu-Nya siang dan malam.

Begitulah malam kelima menjadi saksi. Di bawah cahaya lampu gantung dan ayunan daun jati, para salik kini tak lagi berdzikir dari luar, tetapi dari dalam. Tidak lagi mencari Tuhan, tapi membiarkan Tuhan menampakkan Diri-Nya di dalam relung terdalam.

Suluk pun berlanjut…
Menuju maqam-maqam yang lebih tinggi, menuju fana’, menuju baqa’…
Hingga suatu hari, hanya tinggal Dia…
Dan “aku” pun tiada.

Pasulukan Al Masykuriyah, Ramadhan Kariim yang khusu’.

#SuluRamadhan1447h
#AmalLimaAmalSembilan
#DzikirNaqsyabandiyah
#PonpesAlMasykuriyah
#SyeikhAliMasykurMusa

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry