
SURABAYA | duta.co – Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang melanda pada 2022 masih menyisakan trauma mendalam bagi peternak sapi dan kambing di Jawa Timur. Kondisi tersebut mendapat sorotan dari Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Muhammad Khusnul Khuluk, pada Selasa (13/1/2026).
Ia menilai, dampak wabah PMK membuat banyak peternak belum sepenuhnya pulih dan masih membutuhkan pendampingan serius dari pemerintah agar sektor peternakan rakyat dapat kembali bangkit.
Pasalnya, saat wabah terjadi, harga jual ternak anjlok drastis. Ditambah lagi, ketakutan masyarakat terhadap penularan penyakit membuat aktivitas peternakan nyaris terhenti.
Meski saat ini situasi dinilai relatif membaik, Khusnul menyebut masih muncul berbagai penyakit ternak lain yang menambah kekhawatiran peternak. Salah satunya penyakit yang dikenal masyarakat sebagai lato-lato, yang menyebabkan ternak sulit gemuk meski telah diberi pakan dan vitamin, sehingga berujung pada kerugian.
“Trauma itu masih ada. Begitu ada isu penyakit, peternak langsung waswas. Ini yang membuat sebagian masyarakat ragu untuk kembali beternak secara optimal,” jelas Khusnul, legislator asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah daerah agar hadir lebih serius melalui pendampingan berkelanjutan, khususnya dalam aspek kesehatan hewan, penyuluhan, serta manajemen peternakan rakyat.
“Peternak kita ini mayoritas masih skala rumahan. Mereka butuh kehadiran penyuluh yang rutin turun ke lapangan, memberi edukasi soal pencegahan penyakit, pakan yang baik, hingga cara beternak yang lebih berkelanjutan,” tegas politisi dari Daerah Pemilihan (Dapil) 5 Jember–Lumajang tersebut.
Selain pendampingan, Khusnul juga menyoroti kualitas bantuan ternak dari pemerintah. Ia menilai, kegagalan sejumlah program bantuan selama ini salah satunya disebabkan oleh bibit ternak yang tidak unggul dan tidak sesuai dengan kondisi lokal.
“Kalau bibitnya tidak bagus, dikasih pakan apa pun tidak akan optimal. Ini harus dibenahi. Jawa Timur punya kambing Senduro dan domba Sapudi yang unggul, seharusnya itu yang dikembangkan,” katanya.
Dengan pendampingan yang serius dan kebijakan yang tepat sasaran, Khusnul optimistis sektor peternakan kambing dan domba dapat kembali menjadi penopang ekonomi masyarakat desa sekaligus berkontribusi besar terhadap ketahanan pangan Jawa Timur.
“Peternakan ini prospeknya masih sangat baik. Tapi kuncinya ada pada pendampingan, bukan sekadar bantuan. Kalau ini berjalan, kesejahteraan peternak pasti meningkat,” pungkasnya.(rud)







































