NYAMAN: Diandra Gautama, Pebalap dan Model memilih model kacamata sesuai fashion dan model terkini. Diandra mengaku selama ini lebih nyaman  menggunakan Zeiss EnergizeMe tidak pusing lagi saat menggunakan kacamata. (duta.co/ridho)

SURABAYA| duta.co – Tuntutan pekerjaan dan kebiasaan menggunakan gadget terlalu lama menyebabkan makin dini usia yang harus menggunakan kacamata. Kalau zaman dulu, usia diatas 40 tahun baru menggunakan kaca mata baca atau yang lebih dikenal karena mata plus. Namun saat ini, usia balita ada yang sudah harus menggunakan kacamata.

Dewasa ini perangkat digital merupakan suatu kebutuhan bagi setiap orang dan digunakan hampir sepanjang hari. Kondisi ini menyebabkan mata terus berupaya mendapatkan fokus penglihatan dekat yang jelas dan juga sering kali berpindah fokus penglihatan dari jarak jauh ke dekat secara terus menerus.

Alexander F Kurniawan, Chairman PT Optik Tunggal Sempurna mengatakan usia anak-anak sudah banyak yang menggunakan kaca mata karena berbagai sebab. Salah satunya karena terlalu lama menggunakan gadget, laptop dan sejenisnya. Data terbaru dari 66 juta anak usia SD-SMA, yang menggunakan kaca mata sekitar 6 persen.

“Jumlah ini masih lebih kecil dibandingkan dengan Singapura, dimana sudah 60 persen yang menggunakan kaca mata. Kasus  di Indonesia, bisa jadi karena keterbatasan alokasi dana untuk beli kaca mata ataupun karena dianggap biasa,” jelasnya.

Alexander menambahkan meski sudah dibatasi penggunaan piranti digital, karena kebutuhan dan tuntutan tidak bisa dihindari. Mengantisipasi makin banyaknya anak-anak yang harus menggunakan kaca mata, tentunya diperlukan layanan yang berbeda untuk menentukan analisa sebelum menentukan produk tertentu.

“Optic Tunggal sudah menyiapkan optic khusus untuk anak-anak usia 1-14 tahun yang diberi nama Optic Tunggal Nect Generation. Rencananya akan dibuka beberapa gerai di Jakarta dan Surabaya,” jelasnya.

Tedd Ho, Commercial Head-Indonesia & Asia Distributor ‎Carl Zeiss Vision menambahkan Zeiss tetap berinovasi dengan menghadirkan produk-produk yang selalu baru dan mengikuti perkembangan zaman. Inovasi mendorong lahirnya Zeiss Digital Lenses pada 2014, dilanjutkan dengan Zeiss Precision with Digital Inside Technology setahun kemudian.

“Sekitar 9 dari 10 orang mengalami Digital Eye Strain seperti mata akan terasa tegang dan lelah, penglihatan kabur, serta postur tubuh yang tidak nyaman setelah menggunakan perangkat digital selama tiga jam lebih setiap hari. Kehadiran lensa digital Zeiss mendukung multitasking digital lifestyle dan penggunakan alat digital secara terus menerus. Lensa yang bisa digunakan dari pagi hingga malam ini membatu mata untuk fokus lebih mudah,” tutur Tedd.

Kondisi ini tidak hanya dialami oleh presbyopa (usia > 40 tahun) tetapi juga pada usia sebelum itu (antara 30-40 tahun).

“Digital lens adalah solusi untuk range usia tersebut yang mengeluh mata lelah saat banyak beraktivitas di depan perangkat digitalnya. Digital lens juga dilengkapi lapisan perlindungan bagi mata dari bahaya sinar biru,” kata Tedd.

Pada 2016, lahir inovasi berupa Zeiss DriveSafe yang ditujukan untuk keamanan dan kenyamaan saat berkendara. Lensa ini memungkinkan pengemudi memiliki pandangan yang jelas dalam kondisi cahaya remang-remang, serta mengurangi kilauan cahaya akibat lampu kendaraan yang sedang berpapasan.

Sementara pada 2017, kata Tedd, dikenalkan Zeiss EnergizeMe. Pemakaian lensa kontak yang terlalu lama akan mengakibatkan ketegangan serta memicu iritasi mata. Maka, harus ada kacamata cadangan yang nyaman.

“EnergizeMe adalah yang pertama kali diciptakan untuk pemakai lensa kontak agar mata kembali segar setelah lama memakai lensa kontak sekaligus melindungi mata dari sinar biru yang berasal dari perangkat digital,” terangnya.

Diandra Gautama, Pebalap dan Model mengaku selama ini lebih nyaman menggunakan softlens tetapi setelah mencoba Zeiss EnergizeMe dirinya merasa cukup nyaman dan tak pusing lagi saat menggunakan kacamata.

“Saya takut juga keseringan memakai softlens bisa membuat airmata pun berkurang dan akibatnya tambah sering iritasi. Dan sekarang mulai sering saya rasakan, tetapi menggunakan kacamata, seringkali lensanya tidak cocok, suka pusing  dan akhirnya balik lagi ke softlens yang lebih praktis dan nyaman,” ungkap pembalap cantik yang ternyata memiliki mata minus hingga -5 di kedua belah matanya itu.

Sedangkan Opa Jahja, Executive Director di acara musik sebuah stasiun televisi swasta ini mengaku nyaman menggunakan lensa Zeiss karena lebih tajam dan jernih. Sedangkan Fahmi Adimara seorang Travel Photographer, Google Street View Trusted Photographer, lebih memilih lensa Zeiss karena warna yang ditangkap lensanya saat memotret di outdoor lebih baik. (imm)

 

 

Tinggalkan Balasan