Roadshow Global Printing & Packaging Expo (GPPE) 2026 yang digelar di Surabaya. (dok/duta)

SURABAYA | duta.co – Sudah sebulan perang AS-Israel dengan Iran berdampak besar pada sektor industri di Indonesia. Termasuk Industri percetakan dan kemasan nasional tengah berada dalam tekanan ganda. Serbuan produk impor murah dan lonjakan biaya bahan baku yang tak terkendali.

Di tengah situasi ini, pelaku industri mencari celah efisiensi melalui forum bisnis seperti Roadshow Global Printing & Packaging Expo (GPPE) 2026 yang digelar di Surabaya. Forum ini mempertemukan pemasok mesin dan bahan baku dengan buyer dalam format business-to-business (B2B) yang lebih terarah dan taktis.

Direktur PT Pelita Promo Internusa (PPI) Sofianto Widjaja menyebut forum ini dirancang mempercepat proses pengambilan keputusan di tengah tekanan pasar yang semakin ketat. “Industri tidak punya banyak waktu. Mereka butuh solusi cepat untuk efisiensi biaya dan menjaga daya saing,” ujarnya di sela kegiatan di Surabaya, Senin (6/4/2026).

Sofianto menambahkan gejolak geopolitik global yang masih tidak menentu tidak menyurutkan rencana PPI dengan gelaran GPPE 2026 dan Label & Carton Box Expo 2026 yang kali ini akan digelar 06 – 09 Mei 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK2 Jakarta.

“Target pengunjung sekitar 20 ribu orang dan peserta pameran tidak ada yang membatalkan, semuanya masih sesuai list. Sekitar 200 an peserta yang akan dipamerkan di 3 main hall NICE,” jelasnya.

Sofianto menambahkan roadshow ini berperan sebagai jembatan antara penawaran teknologi dan kebutuhan industri. Kami ingin mempertemukan pengambil keputusan dengan pemasok yang mampu menjawab kebutuhan mereka secara cepat dan terukur.

Sementara itu Ketua Perhimpunan Industri Tinta Cetak Seluruh Indonesia (PITTSINDO) Daniel Kenny, secara blak-blakan menyebut kondisi industri saat ini dalam fase “waswas”. Produk impor—terutama dari China—membanjiri pasar dengan harga jauh lebih rendah, sementara pelaku industri dalam negeri justru terbebani biaya bahan baku yang melonjak drastis hingga 200 persen dalam dua tahun terakhir.

“Ketimpangan regulasi juga memperparah situasi, di mana produk lokal harus memenuhi berbagai ketentuan, sementara barang impor relatif lebih longgar. Ini tidak sehat. Industri lokal dipaksa bersaing dalam kondisi yang tidak setara,” tegasnya.

Tekanan semakin kompleks akibat fluktuasi nilai tukar dan gangguan rantai pasok global yang membuat harga material utama seperti resin dan film tidak stabil. Dampaknya, keberlanjutan produksi menjadi taruhan.

Kondisi ini turut menghantam sektor hilir. Industri makanan dan minuman—sebagai pengguna utama kemasan—ikut terdampak. Melemahnya daya beli masyarakat serta gangguan pasokan bahan baku membuat permintaan kemasan ikut tertekan.

Selain itu, kenaikan harga bahan baku yang mencapai hingga 200 persen serta fluktuasi nilai tukar turut memperburuk kondisi industri. Tidak hanya itu, gangguan rantai pasok global dan dinamika geopolitik turut memicu ketidakstabilan harga material seperti resin dan film.

Penurunan daya beli masyarakat serta gangguan pasokan bahan seperti gula industri menyebabkan permintaan ikut melemah. “Kalau produksi jalan tapi tidak ada kemasan, produk tidak bisa sampai ke konsumen. Ini menjadi masalah serius dalam rantai industri,” katanya.

Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk melindungi industri dalam negeri, khususnya melalui pengendalian impor dan stabilisasi pasokan bahan baku.(imm)