CIREBON | duta.co — Perubahan teknologi dan pola komunikasi masyarakat mendorong dunia dakwah memasuki babak baru. Dai tidak lagi cukup hanya menguasai materi keagamaan, tetapi dituntut memahami perubahan sosial, kebutuhan masyarakat, hingga perkembangan media digital.

Hal itu disampaikan Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli, dalam Workshop Nasional Dai Transformatif di Tengah Perubahan Disruptif di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Minggu (13/9/2026).

“Masyarakat mulai mempertanyakan manfaat dan solusi konkret dari kegiatan dakwah, bukan semata urusan pahala dan berkah seperti dulu,” pesan KH Imam Jazuli kepada peserta.

Menurut Imam Jazuli, dai perlu mampu membaca perubahan, memahami persoalan umat, menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan, serta mendorong masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.

Ia mengajak para dai melakukan transformasi agar mampu merespons perubahan secara tepat dan cepat. “Perintah dakwah dalam al-Quran menggunakan kata kerja sekarang atau hari esok (fi’il mudlorik) dan kata perintah sekarang (fi’il amr). Artinya, para dai harus aktual dan kontekstual,” tegasnya di hadapan 700 peserta yang telah terseleksi.
Tantangan Era Digital
Imam Jazuli juga menyoroti munculnya fenomena ustaz instan hingga konten dakwah yang dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).

“Para dai harus proaktif ikut memberi solusi terhadap fenomena ini,” paparnya.
Menurut dia, transformasi dakwah setidaknya perlu menyentuh tiga aspek, yakni metode, materi, dan media.

“Jangan sampai metodenya monolog, materinya tidak mempedulikan kebutuhan masyarakat, dan media yang digunakan sama seperti dulu. Lambat laun perubahan akan meninggalkan,” tegasnya.

Workshop tersebut digelar Imam Jazuli Foundation sebagai bagian dari kontribusi kepada dai dan pesantren.
Panitia menyebut kegiatan itu merupakan bagian dari rencana menyeleksi dan memberikan pelatihan kepada 5.000 dai di berbagai wilayah Indonesia secara berseri.

“Kami merencanakan untuk menyeleksi 5000 dai di seluruh Indonesia untuk mengikuti workshop berseri ini. Kita mulai dari Jawa Barat dulu. Dari 1500 pendaftar, kami seleksi menjadi 700 orang,” jelas Ubaydillah Anwar.

Ia mengatakan seluruh kebutuhan kegiatan ditanggung Imam Jazuli Foundation.
“Seluruh kebutuhan workshop ini ditanggung oleh Imam Jazuli Foundation sebagai bentuk kepedulian. Bukan sumbangan dari Saudi, IMF, konsesi tambang, partai atau pemerintah,” tegasnya.

Ulama Diminta Beradaptasi

Workshop tersebut menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain Ketua Umum MUI Pusat KH Anwar Iskandar, pakar branding dan bisnis digital Gus Irfan Wahid, dai nasional Yusuf Mansur, serta Ari Untung.

KH Anwar Iskandar menekankan pentingnya perubahan pendekatan dakwah sesuai dengan perkembangan masyarakat.

“Karena manusia berubah, maka pendekatan dakwah pun harus berubah, para nabi diberi mukjizat yang berbeda-beda oleh Allah sebagai bukti penyesuaian terhadap perubahan masyarakat, kecuali untuk urusan yang pokok (ushuliyah) yang harus dipertahankan,” pesannya.

Ia juga mendorong ulama dan pemerintah untuk membangun kolaborasi dalam menghadapi persoalan masyarakat.

“Ulama dan umara harus bersatu, tidak saling menafikan peran. Ada urusan yang hanya bisa ditangani oleh ulama dan ada urusan yang hanya bisa ditangani oleh umara dan ada urusan yang harus ditangani bersama,” tegas Kiai Anwar.

Sementara itu, Gus Irfan Wahid atau Gus Ipang membahas pentingnya branding dan media sosial dalam membangun komunikasi dakwah.
Ia mengibaratkan dakwah di era digital seperti aktivitas masyarakat ketika berbelanja melalui platform digital.

“Yang namanya kegiatan dakwah itu seperti orang belanja di Shopee. Yang dilihat bukan hanya kualitas produknya, tetapi siapa afiliatornya, ratingnya bagus apa tidak, dan bagaimana ulasannya. Inilah dunia kita sekarang. Pesan dakwah adalah produk, dai adalah afiliator, rating adalah kepercayaan, ulasan adalah respons publik, dan beranda adalah algoritma,” pesannya.

Menurut Gus Ipang, dai perlu memahami perilaku masyarakat sekaligus cara komunikasi yang sesuai dengan perkembangan teknologi.

“Dulu, orang cukup dengan public speaking, sekarang ini tidak cukup, harus memahami public framing juga. Komunikasi melahirkan persepsi dan persepsi membentuk reputasi,” jelasnya.

Ia juga memberikan sejumlah contoh mengenai pola, teknik, dan strategi pemanfaatan media digital dalam kegiatan dakwah.

“Kita tidak akan kalah oleh AI, tetapi kita kalah oleh orang yang mengerti AI,” tegasnya.
Dakwah dan Pemanfaatan Teknologi
Dai nasional Yusuf Mansur mengingatkan pentingnya pembenahan diri bagi para dai. Ia juga menekankan perlunya tirakat dalam menjalankan aktivitas dakwah.

“Saya tidak perlu menyebutkan apa yang harus kita benahi sebab kita tahu diri kita masing-masing,” demikian pesannya.

Pada sesi terakhir, Ari Untung mengajak para dai memanfaatkan perkembangan teknologi dan media sosial sebagai sarana memperluas jangkauan dakwah.

“Manusia sekarang pegang satu kitab yang namanya hape. Ini perlu kita jadikan senjata dalam dakwah. Dengan media sosial dan teknologi, dakwah dapat disebarkan kapan saja, jangkauannya luas luar biasa, dan biayanya sangat rendah,” paparnya.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry