
Oleh Syarif Thayib, Dosen UIN Sunan Ampel, Ketua Yayasan Masjid Peneleh Surabaya
SEBAGAI civitas akademika, penulis bangga bisa menghadiri acara Dies Natalis UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai ekspresi mensyukuri nikmat panjang umur PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri) terbesar di Indonesia Timur yang diselenggarakan Senin kemarin.
Dies Natalis itu dari bahasa Latin, yang artinya sama dengan Milad (bahasa Arab) dan ulang tahun (Bahasa Indonesia). Pengambilan masing-masing istilah itu bergantung subyeknya. Kalau Dies Natalis dipakai oleh kampus/ Universitas, Milad oleh lembaga atau perorangan bernuansa Arabian, sedangkan ulang tahun lebih ke-Indonesiaan, seperti Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia, dan seterusnya.
Jujur, penulis takut kuwalat kalau absen pada momen hari kelahiran UIN Sunan Ampel yang ke 61 masehi atau ke 63 hijriyah itu, karena selama ini, penulis selalu diuntungkan dengan nama besar Sunan Ampel, baik ketika masih menjadi mahasiswa, maupun saat menjadi dosen seperti sekarang.
Sebut saja, kesempatan penulis bisa keliling Provinsi se-Indonesia untuk mengisi training pengembangan SDM dan pemberdayaan masyarakat. Bahkan beberapa kali bisa melakukan pendampingan Buruh Migran Indonesia (BMI) di beberapa negara. Juga berkat status “bagian dari” Sunan Ampel, penulis berkesempatan menjadi petugas Haji Indonesia, dan seterusnya.
Sungguh Sunan Ampel memiliki karomah yang luar biasa. Dari Walisongo yang paling masyhur di bumi nusantara, makam Sunan Ampel paling banyak dikunjungi penziarah. Ibarat kata, jasadnya sudah tak berdaya di dalam tanah, tetapi terus memberi manfaat kepada masyarakat sekitar.
Konon dari jasa parkir penziarahnya saja terhimpun dana milyaran rupiah tiap Jum’atnya, belum lagi potensi ekonomi dari kuliner, souvenir, sewa lahan, dan lain-lain.
Lalu, apa yang dilakukan Sunan Ampel semasa hidupnya, sehingga ratusan tahun dari hari wafatnya terus memberi manfaat kepada manusia yang hidup khususnya di tanah Jawa?
Bisa jadi karena sikap Jawani yang ia praktekkan sejak menginjakkan kaki pertama kali di tanah Jawa. Meski bukan orang Jawa, Sunan Ampel yang asli Champa atau Vietnam Selatan dikenal sangat Jawani (adaptif dengan tradisi Jawa) walaupun yang dihadapi adalah orang-orang Jawa yang masih “jahiliyah” ketika itu.
Berikut sikap Jawani Sunan Ampel yang membuat warga Soerabaja tunduk, mengikuti ajaran Sunan Ampel tanpa teriakan takbir dan pertumpahan darah.
Pertama, tradisi sabung ayam di kampoeng Peneleh (sekarang Kelurahan Peneleh, kecamatan Genteng) menjadi bukti awal bagaimana dakwah Sunan Ampel bisa ‘fleksibel’ dengan kebiasaan “buruk” masyarakat Surabaya – Jawa Timur.
Alkisah, Sunan Ampel melewati Kali Mas dengan perahunya. Ia melihat kerumunan orang di lapangan Peneleh. Karena penasaran, Sunan Ampel pun merapat untuk melihatnya dari dekat. Sejurus kemudian, entah darimana, tiba-tiba Sunan Ampel mengikutsertakan ayamnya dalam arena lomba.
Singkat cerita, semua orang di lapangan heran karena Ayam milik Sunan Ampel itu tak terkalahkan oleh semua Ayam jawara. Walhasil, semua pemilik Ayam jago Peneleh minta “resep”, bagaimana supaya Ayamnya menangan (selalu menang). Sunan Ampel pun tidak keberatan mengajarinya dengan syarat, mereka mau Ngaji. Hingga akhirnya, mayoritas penduduk kampoeng lawas Peneleh Soerabaja itu masuk Islam.
Kedua, ritual Jawa kuno, peninggalan Hindu Budha bernama Panca Makra (lima kebebasan), yaitu Madya (anggur atau tuwak), Mansa (daging), Matsya (ikan), Maithuna (hubungan seksual), dan Mudra (semedi). Dalam ritual ini, mereka membuat lingkaran laki dan perempuan yang sama-sama telanjang.
Di tengah lingkaran itu tersedia anggur, daging, dan ikan. Setelah mengonsumsi hidangan itu, mereka melakukan hubungan seks, dan diakhiri dengan semedi. Saat itulah, para Dewa diyakini memberi keberkahan.
Sunan Ampel tidak melarangnya, tapi menggantinya dengan Moh Limo (menolak 5 perkara), yaitu Moh main (berjudi, atau sekarang dalam bentuk berinvestasi tanpa hati-hati, Judol, dan seterusnya), Moh ngombe (minum yang memabukkan, atau sekarang berbicara seenaknya seperti orang mabuk, atau ambisi merebut – melanggengkan kekuasaan dengan cara-cara illegal, seperti orang yang sedang mabuk berat), Moh madat (menghisap candu, sehingga kecanduan, tak bisa lepas, atau mungkin sekarang terlalu lengket dengan HP, sampai melalaikan shalat, lupa membaca Qur’an, dan seterusnya), Moh madon (pacaran hingga berzina, atau melakukan pelecehan seksual dimanapun), dan Moh maling (mencuri atau korupsi, atau menolak mengembalikan uang negara yang bukan miliknya, dan seterusnya).
Dua contoh sikap Jawani Sunan Ampel di atas adalah sebagian kecil dari cara berdakwah Sunan Ampel mengajak umat ke jalan Tuhannya. Maka para sesepuh Jawa Timur pada 6 Juli 1965 mengabadikan perguruan tinggi yang terletak di jalan Ahmad Yani nomor 117 Surabaya dengan nama IAIN (sekarang UIN) Sunan Ampel.
Selain dijadikan nama kampus, jejak Sunan Ampel di Surabaya sejak 600-an tahun lalu terawat keasliannya hingga hari ini, antara lain Surau Tiban yang kemudian ber-matamorfosis menjadi Masjid Rahmat Kembang Kuning, Masjid (jadul – ikonik) Peneleh yang dulu menjadi lapangan sabung ayam, dan Masjid Ampel yang menempati tanah hibah Raja Majapahit yang notabene adalah pamannya sendiri.
Akhirnya, enulis sampaikan terima kasih kepada pemberi inspirasi tulisan ini, yaitu Prof. Dr. Abdul Muhid, M.Si. yang membacakan Manaqib Sunan Ampel pada acara Dies Natalis UIN Sunan Ampel Surabaya kemarin, juga tausiah Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. yang dikenal sebagai cicitnya Sunan Ampel oleh BMI di Hongkong. Jazakumullahu ahsanal jaza‘.(*)



































