SUBUH: Salat Subuh berjemaah di salah satu jalan di Turki

RELIGI | duta.co — Pernah mendengar ceramah Prof Dr KH Achmad Mujayyid tentang dahsyatnya amalan sunnah? Kiai asal Malang ini telah memberikan penjelasan yang begitu gamblang. Kata Kiai Mujayyid, Allah swt. telah memberikan cermin besar bahwa amalan sunnah itu memiliki pengaruh besar dalam kehidupan.

Dia kemudian memberikan contoh kisah perpisahan dan pertemuan kembali Adam as dan Hawa setelah diusir dari surga. Amalan yang dikerjakan Adam as adalah amalan sunnah, menyadarkan diri sebagai manusia yang dholim. ‘Robbana dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamna lana kuunanna minal khosirin’ (QS. Al A’raf 7 : 23).

Begitu juga kisah Nabi Yunus yang ditelan ikan nun. Dia terus bertasbih, dan Allah swt katakan, andai saja dia (Yunus) tidak termasuk orang yang bertasbih, niscaya akan tinggal di perut ikan itu hingga hari di mana mereka dibangkitkan (kiamat). Tasbih Nabi Yunus ini, menurut Kiai Mujayyid adalah amalan sunnah. Begitu dahsyat dampaknya.

Sampai-sampai Allah menjanjikan amalan-amalan sunnah dengan imbalan yang luar biasa. Manusia tidak boleh terlena dengan kemewahan dunia, karena Allah swt yang memiliki sifat rahman dan rahim dan menjanjikan rumah istimewa di Surga. Bagi Muslim yang menginginkan, terlepas dia dhuafa atau orang kaya, rumah itu bisa dipesan dari sekarang. Tidak perlu kredit perumahan rakyat (KPR) dari bank-bank ternama. Rumah itu hanya bisa dipesan lewat amalan sunnah yang istimewa.

Hadits yang diriwayatkan dari Ummu Habibah, istri Nabi saw mengungkapkan Rasulullah SAW bersabda “Tidaklah seorang hamba Muslim mengerjakan salat tathawwu’ selain salat fardhu, sebanyak dua belas rakaat dalam sehari semalam karena (mengharap ridha) Allah, melainkan Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga, (atau melainkan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di Surga).“(HR Muslim).

Dalam riwayat at-Tirmidzi dan an-Nasa’i, dua belas rakaat yang dimaksud ditafsirkan sebagai empat rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya dan dua rakaat sebelum Subuh.” Meski demikian, ada juga ulama yang mengatakan, salat sunah rawatib dua rakaat sebelum Zuhur. Ini didasarkan dari sebuah dalil yang diriwayatkan Abdullah bin Umar.

Dari Abdullah bin Umar dia berkata: “Aku senantiasa mengerjakan salat sepuluh rakaat dari Rasulullah saw, dua rakaat sebelum dan sesudah Zuhur, dua rakaat setelah Maghrib di rumahnya, dua rakaat setelah Isya di rumahnya, dan dua rakaat sebelum salat Subuh. Itulah saat ketika tidak ada yang masuk menemui Nabi. Hafshah memberitahuku bahwasanya jika seorang muazin telah mengumandangkan azan dan fajar telah terbit. Beliau pun mengerjakan salat dua rakaat.”

Dikutip dari buku Salat-Salat Sunah Rasulullah karangan Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, salat sunah sebelum Subuh termasuk salat sunah rawatib yang sangat dianjurkan Rasulullah saw. Sampai-sampai, Rasulullah saw menjelaskan, dua rakaat sebelum Subuh itu lebih baik dari dunia dan seisinya.

Nabi saw selalu mengerjakannya serta tidak pernah meninggalkannya baik saat berada di rumah atau dalam perjalanan. Hadis sahih dari Abu Maryam menceritakan, Rasulullah saw pernah dalam satu perjalanan malam. Di ambang Subuh, Rasulullah singgah kemudian tidur. Orang-orang pun ikut tidur. Mereka kemudian terbangun ketika matahari telah terbit menyinari. Rasulullah saw pun menyuruh muazin mengumandangkan azan. Kemudian, Nabi mengerjakan salat dua rakaat sebelum salat Subuh.

Rasulullah mencontohkan untuk berbaring di atas lambung kanan setelah menunaikan salat sunah itu. Meski demikian, apa yang dicontohkan itu bukan termasuk wajib, melainkan sunah. Ini berdasarkan keterangan dari Aisyah yang diriwayatkan Imam Bukhari, Nabi saw terbiasa berbincang-bincang dengan Aisyah, jika tidak maka beliau berbaring, setelah salat sunah tersebut hingga dikumandangkan ikamah sebagai tanda salat.

Rasulullah saw mencontohkan kepada kita untuk istiqomah dalam mengerjakan ibadah, tak terkecuali saalat sunah rawatib. Nabi Muhammad saw bahkan, pernah mengqadha atau mengganti shalat sunah qabliyah Zuhur.

Syahdan, Kuraib, pembantu Ibnu Abbas diutus untuk menemui Aisyah ra untuk menanyakan dua rakaat setelah shalat Ashar.

Kuraib lantas diminta Aisyah untuk menemui Ummu Salamah. Dia pun mendapat penjelasan, Rasulullah saw memang pernah melarang mengerjakan dua rakaat setelah Ashar. Namun, Ummu Salamah sempat menyaksikan Nabi melakukan salat sunah tersebut di dalam rumah. Ketika itu, dia sudah mengerjakan salat Ashar.

Ummu Salamah kemudian mengutus seorang budak wanita untuk menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah saw. Ummu Salamah berpesan, dia pernah mendengar Rasulullah saw melarang kedua shalat ini.

Rasulullah saw pun bersabda. “Wahai putri Abu Umayyah, engkau bertanya tentang dua rakaat setelah Ashar? Sesungguhnya beberapa orang dari Abdul Qais mendatangiku untuk mengislamkan beberapa orang dari kaumnya sehingga aku tidak sempat mengerjakan dua rakaat setelah Zuhur. Maka, yang kukerjakan adalah salat tersebut.” (HR Bukhari Muslim).

Hadis ini pun menunjukkan di syariatkannya mengqadha shalat sunah rawatib setelah Zuhur jika seseorang tidak sempat mengerjakannya. Rasulullah saw juga mencontohkan untuk mengerjakan salat sunah rawatib Maghrib di rumah. Kecuali, bagi yang berhalangan.

Penekanan ini pernah disampaikan Rasulullah saw saat mendatangi Bani Abdul Asyhal. Nabi  mengerjakan shalat Maghrib bersama mereka. Setelah mengucap salam, orang-orang lalu berdiri untuk mengerjakan salat sunah. Dia pun berkata, “Kerjakanlah kedua rakaat ini di rumah kalian masing-masing.” Diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Dawud dan An Nasai.

Aisyah ra  juga menjelaskan salat sunah rawatib di rumah saat ditanya oleh Abdullah bin Syaqiq. Menurut Aisyah, Rasulullah saw biasa salat sunah empat rakaat di rumah sebelum shalat Zuhur. Kemudian, Rasulullah berangkat dan mengerjakan shalat Zuhur berjamaah di masjid. (rul/dsb/mha)

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan