MOTIVASI : Dahlan Iskan saat berbincang dengan salah satu mahasiswa Unusa dalam program Program Pengenalan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) Unusa, Senin (28/80. DUTA/endang

SURABAYA| duta.co – Dendam memang tidak baik. Namun jika dendam diwujudkan dalam hal yang positif maka akan membawa kesuksesan. Semakin besar dendam pada seseorang maka akan semakin besar sukses yang diraih seseorang yang memiliki dendam itu.

Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN era Presiden Susilo BambangYudoyono mengungkapkan pentingnya memiliki dendam itu di hadapan mahasiswa baru Unusa 2017 – 2018 di Tower B Jemursari Surabaya, Senin (28/7). “Banyak sekali orang dendam justru membuat orang itu maju. Dendam akan membuat kemajuan tergantung bagaimana orang yang punya dendam itu mewujudkannya. Misalnya, dendam pada saudara karena lebih disayang orang tua. Dalam diri harus ditancapkan, besok-besok kalau aku sudah dewasa akan aku tunjukkan bahwa aku bisa lebih sukses. Dengan tekad itu maka seseorang akan berupaya mewujudkannya sehingga bisa benar-benar sukses,” ujar Dahlan yang biasa dipanggil DI ini.

(ki-ka) Ketua Yarsis Mohammad Nuh, Dahlan Iskan dan Rektor Unusa, Achmad Jazidie usai acara PPKMB Unusa, Senin (28/8). DUTA/endang

Masalah dendam diungkapkan Dahlan ketika dia meminta salah satu maba Unusa untuk menceritakan apa yang akan dilakukannya memasuki tahun 2026 ketika Nahdlatul Ulama (NU) berusia 100 tahun. Saat itu, rata-rata mahasiswa baru Unusa berusia 28 tahunan.

Salah satu maba yang bernama Rifki asli Surabaya itu mengatakan akan menjadi guru Bahasa Inggris di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Surabaya. Lulusan MAN Surabaya itu, memang hanya ingin menjadi guru Bahasa Inggris di almamaternya. “Karena saya dendam pada guru Bahasa Inggris saya. Karena dia sering memarahi saya di kelas. Saya ingin tahu bagaimana rasanya menjadi guru Bahasa Inggris di MAN Surabaya agar saya bisa merasakannya,” jelas Rifki.

Dikatakan Dahlan, dendam memang harus membuat sebuah kemajuan. Jika tidak, dendam akan membuat sesuatu yang menyiksa diri bahkan akan merugikan si pendendam itu. Karena itu, memiliki cita-cita, kata Dahlan harus jelas motifnya. Kalau tidak, maka cita-cita akan menjadi sesuatu yang sia-sia. “Orang bisa berpikir salah, namun jangan salah setika memulai berpikir. Karena orang berpikir betul pasti langkahnya betul, kalau orang berpikir salah pasti langkahnya salah,” tandas Dahlan.

Selain itu, Dahlan mengingatkan mahasiswa pentingnya fokus pada salah satu pekerjaan sebelum pekerjaan yang digelutinya itu sukses. Salah satu mahasiswa, Bintang Adi yang mengaku ingin menjadi pengusaha dengan banyak perusahaan, dianggap Dahlan, bukan langkah yang tepat. Di awal-awal, fokuslah dulu pada satu bidang usaha, setelah sukses baru bisa merambah usaha yang lain.

“Ada penyakit seseorang yang ingin cepat kaya, ingin punya banyak perusahaan. Salah? Itu tidak salah. Tetapi karena ada keterbatasan manusia, seharusnya menekuni dulu salah satu jenis usaha sampai satu itu berhasil. Baru setelahnya merambah usaha yang lain. Menjadi pengusaha itu harus yang tauhid, kalau tidak bisa musyrik. Musryiknya pengusaha itu adalah bangkrut,” jelas Dahlan.

Dahlan pun mengapresiasi langkah Unusa yang ingin mendidik generasi bangsa yang tidak hanya sukses di dunia namun di akhirat. “Kalian tidak akan menyesal kuliah di Unusa karena pemimpin-pemimpin di Unusa ini adalah orang-orang yang ingin maju,” tuturnya.

Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (Yarsis), Mohammad Nuh sengaja mendatangkan Dahlan Iskan untuk memberikan motivasi kepada maba. “Karena Pak Dahlan ini yang ikut menanam di Unusa, sehingga dengan ikut menanam Insha Alloh akan tumbuh benih-benih generasi muda seperti beliau,” ungkapnya. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry