Oleh: drh Nurul Humaidah, MKes *

GENERASI milenial identik dengan teknologi informasi. Setiap aktivitas selalu diposting di media online seolah sudah menjadi lifestyle. Apapun dilakukan agar selalu terlihat keren dan up to date. Salah satu lifestyle baru generasi milenial yang trend sekarang adalah memelihara hewan eksotik. Terpikirkah oleh mereka bahwa perubahan ekosistim hewan-hewan eksotik tersebut mendukung terjadinya mutasi virus corona? Apakah Covid-19 muncul salah satunya karena lifestyle kaum milenial?

Virus corona atau Covid-19 menjadi momok yang menakutkan saat ini. Seolah Malaikat Izroil menjadi soulmate makhluk super mungil ini. Sejak dilaporkan pertama kali pada Bulan Desember 2019 di pasar hewan (ikan dan unggas) serta satwa liar wilayah Wuhan Provinsi Hubey Cina, virus ini telah menyebar dengan cepat ke lebih dari 209 negara dan wilayah di dunia. Pada tanggal 11 Maret 2020 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa virus corona jenis baru penyebab Covid-19 telah menjadi pandemi global.

Data terakhir per 7 April 2020 jumlah kasus terkonfirmasi positif di Dunia sebanyak 1,34 juta  kasus. Dari jumlah tersebut sebanyak 74.451 orang meninggal dunia dan 278.164 orang sembuh (John Hopkins University). Di Indonesia pada tanggal 6 April kasus Covid-19 bertambah menjadi 2.491 orang dengan 192 sembuh dan 209 orang meninggal (data yang dicatat Kementerian Kesehatan).

Virus Corona dan COVID 19

Dalam bidang virologi sejarah virus corona sebenarnya sudah ditemukan sejak lama yaitu tahun 1960 baik pada manusia maupun hewan sebagai penyebab flu biasa. Pada hewan dapat ditemukan pada unggas, kalkun, babi, tikus, kucing, dan anjing. Virus corona belum dianggap fatal sampai ketika terjadi wabah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-Cov) di China. Pada tahun 2002 pasca wabah SARS virologist mulai intens melakukan penelitian untuk mengetahui penyebab dan menemukan hasil apabila wabah ini diakibatkan oleh bentuk baru corona. Pada tahun 2012, terjadi pula wabah yang mirip yakni Middle East Respiratory Syndrome (MERS-Cov) di Timur Tengah. Dari kedua peristiwa itulah diketahui bahwa corona bukan virus yang stabil. Dia mampu berdaptasi dan menjadi lebih ganas, bahkan dapat mengakibatkan kematian. Demikian juga dengan virus corona yang sedang mewabah sekarang merupakan virus korona jenis baru atau Novel Corona Virus (2019-ncov) yang sekarang sedang berkembang.

Jenis virus baru Virus Corona Novel (2019-ncov) disebut dengan Corona Virus Desease (Covid)-19. Disebut corona karena virus ini mempunyai karateristik seperti crown (mahkota) pada selubung luar virus. Mahkota berupa Spike Protein virus atau protein S di sekeliling permukaan virus. Reseptor protein S inilah yang berperan melakukan proses pelekatan antara virus dan sel inang yang menyebabkan infeksi. Selain itu virus corona bersifat Single-stranded RNA sehingga mudah untuk mengalami mutasi. Adanya mutasi mengakibatkan virus corona yang dulu tergolong host-spesific artinya hanya bisa menginfeksi antar binatang atau antar manusia saja maka sekarang memungkinkan untuk menginfeksi makhluk hidup lain. Mutasi virus karena perubahan sifat virus yang dipengaruhi oleh lingkungan, host, waktu, serta perubahan sifat RNA (Suwarno, 2019).

Lifestyle Milenial Pets Lover

Salah satu ciri utama generasi milenial ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital. Karena dibesarkan oleh kemajuan teknologi, generasi milenial memiliki ciri-ciri kreatif, informatif, mempunyai passion dan produktif. Selain itu mereka mempunyai lifestyle (gaya hidup) yang berbeda dari yang lain seperti misalnya dalam memelihara hewan kesayangan. Hewan kesayangan umumnya terdiri dari kucing atau anjing. Namun, kini semakin banyak milenial memelihara satwa eksotik seperti ular, kadal, landak, iguana, hewan pengerat eksotik (tupai terbang, tupai tanah, sugar glider), hewan berkantong marsupial, musang, hingga tarantula. Sepertinya ada keseruan memelihara hewan eksotik dalam era digital ini. Selain karena ingin dilihat beda kaum milenial juga akan merasa bangga kalau bisa dapat mengupdate status/profile di feature media sosialnya.

Hewan eksotik adalah hewan liar yang dijadikan hewan kesayangan karena memiliki bentuk yang bagus, unik dan menarik sehingga orang memelihara hewan tersebut untuk kesenangan atau kepuasan. Sebenarnya hal ini menuai kontroversi karena hewan-hewan eksotis ini seharusnya tinggal di alam liar. Berbeda dengan hewan peliharaan domestik, hewan peliharaan eksotis tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru (domestik) sehingga membutuhkan perawatan, pakan, lingkungan dan pemeliharaan yang khusus. Generasi milenial bisa mendapatkan hewan eksotik ini karena dipermudah dengan perdagangan secara online. Perdagangan hewan peliharaan eksotis memiliki nilai ekonomis yang sangat besar sehingga dapat dijadikan juga sebagai pekerjaan baru yang dilirik generasi milenial.

Zoonosis

Generasi milenial mungkin tidak menyadari bahwa banyak hewan peliharaan eksotis yang menularkan penyakit mematikan kepada manusia. Zoonosis adalah penyakit yang dapat ditularkan dari satwa liar ke manusia. The Centers for Disease Control (CDC) melaporkan  Hewan eksotik menularkan penyakit Herpes B, cacar monyet, dan salmonelosis kepada manusia.

Aktivitas masyarakat yang terkait dengan perdagangan satwa liar baik untuk Hewan kesayangan maupun konsumsi berpotensi untuk menyebarkan penyakit. Berdasarkan pemeriksaan laboraturium diketahui penyebaran novel corona terkait dengan satwa liar seperti tikus, kelelawar, curut, karnivora dan primata. Virus 2019-ncov diduga mengalami mutasi pada kelelawar lalu berlanjut ke ular dan berakhir masuk ke manusia. Karena itu disarankan untuk menghindari berinteraksi dengan satwa liar bahkan memakannya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) menegaskan bahwa penyebaran COVID-19 terjadi dari manusia ke manusia dan belum ada bukti yang kuat bahwa hewan dapat menyebarkan penyakit ini. Masih perlu waktu untuk memastikan apakah virus penyebab COVID-19 (SARS CoV2) berasal dari hewan dan kemudian menulari manusia. Penularan antar manusia merupakan rute utama penyebaran. Penelitian di hulu (pada hewan) terkait potensi zoonosis tetap perlu dilakukan sebagai langkah kesiapsiagaan untuk masa yang akan datang.

Mitigasi Penyebaran Coronavirus dari Satwa Liar

Satwa liar secara alami dapat menyeberang lintas negara maupun dibawa dan dimanfaatkan oleh manusia untuk tujuan tertentu. Hal ini perlu menjadi fokus mitigasi antisipasi zoonosis. Corona virus memiliki laju mutasi yang sangat cepat dibandingkan dengan jenis virus lain dengan genom double stranded DNA (dsDNA). Akibatnya kemunculan kejadian wabah luar biasa dapat berlangsung cepat dan tidak terduga. Penyebaran secara global pun dapat terjadi dengan mudah karena mobilitas manusia yang tinggi serta perubahan lifestyle pet animals pada satwa liar.

Corona virus SARS-Cov, MERS-Cov dan 2019-ncov bersifat mematikan terhadap manusia. Virus corona dapat menginfeksi hewan lainnya sebagai perantara dan justru hewan perantara tersebutlah yang lebih sering berinteraksi langsung dengan manusia. Pada kasus SARS hewan perantaranya adalah mamalia kecil seperti kelelawar, musang, dan rakun. Pada kasus MERS, hewan perantaranya adalah unta. Pada kasus terbaru, material genetik dari 2019-nCoV merupakan rekombinasi dari material genetik virus yang berasal dari kelelawar dan ular (Sugiyono, 2019).

Mengurangi interaksi dan tidak mengganggu satwa liar di habitat alaminya, termasuk tidak merusak habitatnya, adalah solusi yang lebih tepat untuk mencegah terjadinya wabah virus di kemudian hari. Membasmi hewan liar terduga sebagai vektor seperti kelelawar justru dapat memberikan efek yang berlawanan terhadap penyebaran penyakit. Perubahan ekosistem yang disebabkan oleh manusialah yang menjadi penyebab utama kemunculan penyakit-penyakit baru yang dapat ditularkan dari satwa liar ke manusia.

Mencegah munculnya virus baru yang menyebabkan penyakit zoonosis dapat dilakukan dengan membiarkan satwa liar tinggal di habitatnya sehingga terjadi keseimbangan ekosistim. Jangan cabut habitat satwa liar hanya demi lifestyle dan update status semata.

*Penulis merupakan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Peternakan Universitas Islam Malang.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry