Badrih, Kaprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unisma. (FT/IST)

“Mestinya kita menyadari bahwa kecemasan dalam jangka pendek dapat menyebabkan menurunkan fungsi imun tubuh, sedangkan jangka panjang dapat menimbulkan penyakit jantung.”

Oleh : Moh Badrih*

SETIAP individu memiliki keinginan kuat untuk mengetahui berbagai hal yang belum diketahuinya. Rasa keingintahuannya ini terkadang tidak terbendung, sehingga dia akan melakukan berbagai upaya untuk memperoleh informasi tersebut.

Lantas bagaimana jika informasi yang dia peroleh justru mengantarkannya pada gejala psikologis, sedih atau bahkan sampai mengakibatkan stress?

Inilah yang kita rasakan sekarang. Di tengah-tengah keinginan kita mengetahui berbagai kasus Covid-19, kita terkadang tidak kuat menerima fakta-fakta yang telah kita dapatkan sendiri.

Setiap hari kita disuguhi dengan berbagai perkembangan Virus Covid-19, mulai area persebarannya, jumlah yang tertular, jumlah yang sembuh dan jumlah yang meninggal.

Memuncaknya angka grafik, mulai dari diumumkannya kasus Covid-19 oleh Presiden Joko Widodo sampai sekarang, jumlahnya tidaklah menyusut, melainkan terus bertambah.

Informasi ini terkadang memicu reaksi psikoogis kita. Rasa cemas terus menghantui setiap waktu, baik siang ataupun malam. Rasa cemas disertai dengan rasa panik yang berlebihan terkadang menimbulkan gejala panic disorder.

Gejala cemas ini diawali dengan perasaan cemas mendadak disertai dengan gejala jantung yang semakin cepat, berkeringat dan lemas (pijarpsikologis.org).

Gejala psikologis tersebut, sebenarnya dapat menyerang siapa saja, baik anak-anak, remaja, dan dewasa. Informasi yang secara terus-menurus disampaikan oleh berbagai media massa apalagi daring yang kurang bertanggung jawab, akan berdampak pada menurunnya kekebalan tubuh karena faktor psikologis yang terganggu.

Informasi Covid-19 yang disuguhkan ke tengah-tengah kita, masih didominasi oleh area terdampak dan jumlah yang terjangkit. Apabila dibandingkan dengan jumlah pasien yang sudah sembuh tentu perbandingannya masih sangat jauh.

Penerapan social distance yang telah menjadi kebijakan pemerintah, juga belum dipatuhi dengan baik. Hal ini sepertinya memerlukan anternatif lain, meskipun social distance masih dipandang sangat efektif untuk mencegah menyebarnya virus tersbut.

Tentu dampak sosial yang diakibatnya dari hal tersebut juga merambat pada sektor ekonomi khususnya pendapatan perkapita. Dengan kebijakan tersebut (social distance)  otomatis masyarakat akan mengalihkan strategi mata pencahariannya dengan menggunakan media elektronik dalam jaringan (daring).

Namun bagaimana dengan kalangan-kalangan tertentu yang gagap teknologi? Akankah mereka pasif dan tidak dapat melakukan apa-apa? Ini masalahnya.

Dampaknya Cukup Serius

Padahal, selain itu, kecemasan juga terjadi karena informasi kelangkaan sembako akibat pandemi dan menghadapi Ramadan juga sudah tercium oleh masyarakat luas. Kelangkaan sembako dan berbagai kebutuhan pokok lainnya, tentu menjadi beban psikogis masyarakat.

Rasa cemas dan takut seperti dua hal yang terus tergiang di dalam benak masyarakat. Dampaknya pun cukup serius terhadap psikologis mareka. Gejala cemas dan takut terkadang dapat termanisfestasi ke dalam pikiran, emosi, fisik, bahkan sosial. Ada beberapa hal yang patut dicermati.

Pertama, gejala cemas dan takut yang termanifestasi ke dalam pikiran akan mengakibatkan negative thinking yang datang secara terus menurus akan mengurangi kebahagiaan kita.

Saat kita sering berpikir negatif terhadap objek yang kita lihat, maka kita akan semakin terbelenggu oleh ketakutan. Akibatnya adalah tidak dapat memutuskan hal-hal yang sangat penting dengan baik. Padahal dalam kondisi seperti ini, berbagai hal yang kita lakukan harus dengan keputusan-keputusan yang sangat tepat.

Kedua, cemas yang termanifestasi dalam emosi. Kecemasan dan  ketakutan yang diakibatkan Covid-19 ini juga mengganggu emosi. Kondisi di sekitarnya yang tidak sesuai dengan pikirannya cenderung terbawa secara emosional.

Perasaan mudah marah yang datang seketika dan reaksi fisik yang selalu ingin melakukan hal-hal yang kurang baik terhadap benda-benda di sekitarnya, ini merupakan salah satu dampak dari kecemasan yang termanifestasi dalam emosi seseorang. Ketidaksatabilan emosi ini sebagai bagian dari rasa cemas yang berlebihan terhadap informasi yang baru di dengarnya.

Sangat wajarlah apabila kita melakukan hal tersebut karena keterbatasan pengetahuan, usia, dan kondisi di sekitar kita membuat reaksi tersebut. Maka alternatifnya ialah mencari informasi yang lebih mengembirakan sehingga kita dapat berpikir positif terhadap kasus yang terjadi.

Ketiga, cemas yang termanisvestasi dalam  fisik. Keakuratan informasi yang kita terima berkaitan dengan Covid-19 mestinya dapat berdampak positif teradap kita. Namun hal tersebut sebaliknya, keinginan kita untuk selalu berhati-hati dalam berbagai hal terkadang berlebihan.

Mestinya kita menyadari bahwa kecemasan dalam jangka pendek dapat menyebabkan menurunkan fungsi imun tubuh, sedangkan jangka panjang dapat menimbulkan penyakit jantung.

Kalau kita menyimak pernyataan Presiden Jokowi terkait dengan kasus ini. Bukan hanya virusnya yang berbahaya melainkan kecemasan dan kepanikan kita sendiri.

Informasi yang akurat tetap diperlukan untuk memberikan pengetahuan, tetapi informasi yang kurang bisa dipertanggunjawabkan terkadang menjadi ancaman bagi banyak pihak. Ketimpangan informasi yang tidak valid ini juga menjadi virus yang mengancam kehidupan kita.

Namun sejauh ini belum ada lembaga yang melakukan penelitian terkait dengan hal tersebut. Berapa persenkah dampak Covid-19 jika dibanding dengan gejala sakit yang diakibatkan oleh perasaan takut dan cemas yang terjadi di masyarkat.

Saat ini kita menghadapi pandemic Covid-19, tetapi rasa takut, cemas, dan panik juga bisa menjadi pandemi. Di berbagai pelosok dunia semua orang merasakan hal itu. Kecemasan dan ketakutan adalah sesuatu yang tidak berasal dari luar melainkan dari dalam diri kita sendiri.

Munculnya karena stimulus dan kita tidak bisa merespon stimulus tersebut dengan baik. Perasan cemas yang menghantui psikologis kita telah terasa sedemikian rupa. Seperti tak ada obatnya kecuali rasa tenang yang kita ciptakan sendiri.

Di berbagai daerah, termasuk di daerah terpencil sekalipun sudah mulai mendengar kasus Covid-19. Daerah yang sudah terisolir dari masyarakat sekitar yang sejatinya bersih dari virus, kini mulai gelisah dan cemas.

Mareka menganggap penyakit Taún datang kembali seperti dalam cerita yang mereka dengan dari leluhurnya. Saat kecemasan tersebut mulai melanda, hal pertama yang mereka lakukan sebagai bentuk antisipasi adalah melakukan pendekatan religi dan ada juga yang melakukan pendekatan mistis.

Kenapa demikian? Karena mereka sesungguhnya tidak mengetahui informasi yang sebenarnya, melainkan hanya selentingan saja.

Salah satu infomasi yang diperoleh penulis dari daerah tertentu di pulau di utara Jawa. Mereka rela bangun tengah malam hanya untuk merebus telur ayam yang kemudian di makan sebagai bentuk untuk tolak balak.

Demikian dengan wawangian kemenyan yang selalu disediakan setiap saat untuk mengusir penyakit tersebut. Dalam hal ini kecemasan rupanya telah membius mata hati mereka. Pendekatan religi yang sejatinya dilakukan kepada Tuhan ternyata dapat berubah arah. Apabila hal ini kita biarkan berlarut-laruh maka krisis multi dimensi dapat terjadi dalam waktu dekat.

Maka satu-satunya jalan ialah membangun kekuatan spiritual yang totalitas kepada Tuhan dengan berbagai cara dan keyakinan masing-masing. Keyakinan itulah yang dapat menguatkan jiwa dan pikiran sehingga berbagai kecemasan dan ketakukan dapat teratasi.

Bertukar Informasi Positif

Apabila daya sublimitas keyakinan tersebut secara totalitas telah diserap oleh badan kita, sejatinya imun yang kita miliki semakin meningkat sehingga tubuh kita dapat kebal tentu dengan izin Tuhan.

Kelima, kecemasan dan ketakutan dapat berkurang dengan bertukar informasi yang positif. Berhentilah menyampaikan dampak Covid-19 dan beralilah dengan menyampaikan informasi yang positif. Misalnya, pasien yang  sudah sembuh sudah meningkat dari hari ke hari atau zona merah yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai zona Covid-19, kini penderitanya semakin berkurang.

Keenam, berpikirlah positif untuk diri kita dan orang lain disertai dengan banyak berdoa dan meminta perlindungan sekaligus pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan ikhtiar yang demikian mudah-mudahan kita semua dapat diselamatkan oleh-Nya.

*Moh Badrih adalah  Kaprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unisma.

Express Your Reaction
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry