Dr KH. RPA. Mujahid Ansori MSi

 

Oleh : Dr KH. RPA. Mujahid Ansori MSi (*)

 

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

 

Sesungguhnya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. ( QS:36:82)

 

Idul Adha tahun ini sungguh berbeda dari biasanya. Saat ini kita berada dalam suasana yang penuh keprihatinan. Idul Adha kita tidak diikuti oleh jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia yang biasanya berbondong-bondong melaksanakan ibadah Haji. Ibadah haji tahun ini hanya diikuti oleh penduduk lokal tanah suci Makkah al-Mukarramah. Itupun dalam jumlah yang dibatasi.

Semua ini akibat wabah corona virus atau Covid 19 yang melanda bangsa-bangsa di seluruh dunia; tidak peduli negara kaya ataukah negara miskin. Tidak memandang apakah negara maju atau berkembang. Dan tidak memilih apakah bangsa kulit hitam, sawo matang, kuning ataupun bangsa kulit putih.

Ekonomi mereka semua porak poranda. Dunia politik gonjang-ganjing. Dunia pendidikan dan kesehatan terguncang. Semua dibuat kalang kabut oleh makhluk Allah yang tak tampak oleh mata telanjang tersebut.

Semua dibuat tidak berdaya oleh makhluk Allah yang ukurannya sangat amat kecil; hanya 150 nanometer.

Satu nanometer adalah seperseribu mikrometer atau sepersejuta milimeter. Suhanallah…. Masya Allah…. La haula wala quwwata illa billah

 

Makhluk tak kasat mata yang bernama corona telah menyadarkan, betapa kita ini amat lemah tanpa kekuatan dari Allah. Tidak ada yang bisa kita sombongkan; meski hanya dihadapan makhluk super  mini yang kena sabun saja bisa mati.

Makhluk rapuh. Apalagi di hadapan Allah swt. Saat ini kita menjadi saksi sejarah; sejarah dari manusia yang bergelimpangan hanya karena makhluk hidup transisi; tidak murni 100% makhluk hidup, karena ia  tidak bisa hidup mandiri, tidak bisa hidup tanpa inang. Tapi kelebihannya bisa berkembangbiak dengan amat cepat dan menyerang imun manusia jika sudah masuk dalam tubuh.

Hingga saat ini tercatat lebih dari 635 ribu orang di seluruh dunia yang meninggal karena corona; melebihi jumlah korban perang dunia manapun.

Dunia penerbangan internasional lumpuh. Total kerugian lebih dari 400 triliun rupiah. Pariwisata tak bergerak. Kerugian mencapai puluhan miliar per bulan di Indonesia. Ratusan perusahaan gulung tikar. Ribuan orang terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).

Ratusan tenaga medis meninggal. Manusia sebagai makhluk Allah yang paling mulia karena potensi akal fikirnya, yang cerdas, yang mampu menciptakan berbagai teknologi yang canggih pada akhirnya tidak berdaya berhadapan dengan makhluk Allah yang ukurannya jauh lebih kecil dari sebutir debu. Semua ini pada akhirnya semakin menunjukkan betapa Maha Benar Allah atas firmanNya dalam Alquran (al-Baqarah: 26)

 

إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”.

 

Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.

Wabah corona yang luar biasa ini adalah peringatan dan tamparan keras dari Allah untuk kita. Kemajuan teknologi luar biasa yang telah dicapai oleh manusia khususnya di bidang teknologi informasi telah mengikis kemanusiaan manusia.

Orang menjadi abai terhadap sekelilingnya. Tak lagi bertegur sapa apalagi berbincang dengan orang yang duduk di sampingnya akibat sibuk dengan smartphone atau HP di tangannya.

Bahkan suami istri yang sedang duduk berduapun juga tak bertutur kata; sibuk memelototi layar HPnya masing-masing. Lalai mendidik anaknya.

Abai terhadap anaknya. Akibatnya, anakpun juga demikian. Meniru orang tuanya.  Jadi susah belajar, lupa mengaji, lupa shalat, lupa makan, karena asyik main game di HP. Semalaman tidak tidur demi game. Tidak sedikit anak-anak bahkan orang dewasa yang saat ini dirawat di rumah sakit gara-gara kecanduan game HP. Akibat kecanggihan teknologi informasi, orang juga  tak lagi mengindahkan tata krama memuliakan tamu sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw, karena saat berhadapan dengan tamupun;  tangan, mata, telinga dan pikirannya tak juga lepas dari HP. Silaturrahim fisik menghilang, berganti video call.

 

Bukan berarti teknologi buruk, karena manfaat positif dari kemajuan teknologi informasi juga luar biasa. Bisa mengaji online, belajar online. Tapi jangan sampai kita diperbudak teknologi, sehingga sambung rasa dan sambung hati dengan sesama manusia lebih-lebih dengan keluarga dan sanak kerabat tidak hilang terkikis oleh HP.

 

Kini, saat corona mengharuskan kita melaksanakan social distancing atau jaga jarak, kita baru merasa kehilangan dan baru menyadari; betapa kedekatan dan interaksi dengan sesama manusia adalah hal yang amat penting dan berharga.

 

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

Tidak ada satupun ciptaan Allah di dunia ini yang sia-sia, tiada guna dan manfaatnya, termasuk ciptaan Allah yang bernama corona. Dengan adanya corona, belajar mengajar dilakukan secara daring atau online di rumah di bawah pengawasan orang tua. Secara tidak langsung, orang tua disadarkan bahwa sesungguhnya tanggungjawab mendidik anak-anaknya bukanlah tanggungjawab guru-guru di sekolah dan ustadz-ustadz di pondok.

Bahwa tanggungjawab mengajarkan Alquran dan menanamkan akhlak Alquran terhadap anak-anaknya adalah tugas orang tua. Begitu juga dengan tanggungjawab menanamkan iman tauhid; seperti yang ditunjukkan oleh Nabiyullah Ibrahim as terhadap putera tercintanya, Ismail as.

Beliau mendidik ketauhidan puteranya dengan memberikan keteladanan yang luar biasa. Meski begitu cinta terhadap anak yang kehadirannya telah ia idam-idamkan selama berpuluh-puluh tahun, Nabiyullah Ibrahim AS tanpa ragu-ragu menerima dengan ikhlas perintah untuk menyembelih puteranya. Ia ingin memberikan pendidikan pada puteranya,  bahwa ketika berhadapan dengan perintah dan kehendak Allah, semuanya  harus kita kesampingkan, harus kita ikhlaskan,  walau harus melenyapkan sesuatu yang sangat kita cintai dan kita sayangi.

Meski demikian, Nabi Ibrahim tidak serta merta  melaksanakan apa yang beliau yakini, tapi lebih dulu beliau meminta pendapat dan pandangan anaknya. Sungguh itu adalah cerminan seorang Pendidik yang luar biasa, sehingga hasilnya menjadi luar biasa pula. Nabi Ismail akhirnya dengan penuh keikhlasan mempersilahkan ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah, sehingga pada akhirnya juga diangkat oleh Allah sebagai Nabi. Begitulah keteladan dan penghargaan orang tua terhadap anak adalah kunci kesuksesan Pendidikan dan penanaman Iman Tauhid.

 

 

Mudah-mudahan seluruh yang hadir di tempat ini, adalah orang-orang yang mampu mendidik dan menanamkan iman Tauhid terhadap seluruh keluarganya, sehingga anak keturunan kita mampu melakukan penghambaan yang tulus kepada Allah sebagaimana yang telah diteladankan oleh Bapak Kita Nabiyullah Ibrahim A.S. dan Nabiyullah Ismail A.S. Mudah-mudahan melalui sholat Id ini, melalui takbir, tahmid dan tasbih yang kita kumandangkan serta melalui daging-daging yang kita kurbankan  kita menjadi orang-orang yang kelak diselamatkan oleh Allah, orang-orang yang kelak mendapatkan payung perlindungan Allah di hari kiamat nanti. Semoga kita juga termasuk hamba Allah yang telah memiliki bekal yang cukup di akhirat nanti saat ajal tiba-tiba datang menjemput tanpa kita duga sebelumnya sebagaimana para korban virus corona.

Sesungguhnya maut bukanlah milik orang tua. Ia juga bukan milik orang sakit. Betapa banyak orang muda yang sehat wal afiat tiba-tiba saja mati mendadak. Sebaliknya, betapa banyak orang yang sakit bertahun-tahun tapi tak juga diambil nyawanya oleh Allah.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

 

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. ( QS:al-A’raf : 34)

 

Sungguh celaka orang yang menjemput ajal kala memenuhi panggilan syetan, karena tiada penderitaan yang luar biasa selain derita siksaan Allah di akhirat. Sebaliknya, sungguh beruntung orang yang menjemput ajal saat memenuhi panggilan Allah, karena tidak ada satupun kebahagiaan yang bisa menandingi kebahagiaan di akhirat.

 

Meninggalnya para korban corona atau covid 19 memang begitu menyedihkan kita, lebih-lebih bagi saudaranya, namun bagi yang meninggal, bisa jadi itu adalah sesuatu yang indah dan nikmat karena akan segera menemukan kebahagiaan sejati yang sesungguhnya.

 

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku. (Al-Fajr: 25-28 )

 

Alangkah indahnya jika di sisa umur ini kita menjadi orang yang selalu rindu bersujud kepada Allah, lidah ini selalu basah menyebut kalimah Allah. Alangkah indahnya jikalau saat malaikat maut menjemput kelak, tubuh kita sudah bersih dari aib dan dosa, orang-orang yang kita sakiti sudah mau memaafkan kita, dan tidak ada harta haram yang melekat pada tubuh kita. Namun sebaliknya sungguh malang orang yang mati dalam keadaan tidak terampuni dosanya, yang akan tertimpa kehinaan, nestapa dan siksa yang dahsyat. Naudzubillahi, tsumma naudzubillah !

 

Ya Allah, sesungguhnya hidup matiku hanya untukMu. Hanya kepadMu kami kembali, hanya kepada Engkau kami bergantung. Ya Allah, kami mohon perlindungan kepadaMu dari wabah corona ini ya Allah. Lenyapkanlah corona dari dunia ini khususnya di bumi Indonesia dan di tanah suciMu. Ya Allah, lindungilah kami dari siksa kubur yang pedih. Kami berlindung kepadaMu dari segala kejahatan dan kejelekan, baik yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Tak ada satupun rahasia kami yang dapat kami sembunyikan dari pandanganMu. Tidak ada setitikpun aib yang luput dari pandanganMu.

 

Ya Allah, kami sadar, betapa kami penuh berlumur dosa, tak pantas menikmati surgamu. Karena itu saat ini hamba merintih dan mengemis ampunanMu ya Allah, sebagaimana seseorang yang berada dalam bahaya dan ketakutan yang berharap pertolongan; sebagaimana orang lemah yang memohon perlindungan. Jangan biarkan kami celaka dan berkubang kehinaan di hadapan Allah. Sungguh kami tak kuat panasnya api neraka ya Allah.

Ya Allah sinarilah hati kami dengan cahaya hidayahMu, sebagaimana Engkau  telah menyinari bumi dengan cahaya matahari selama-lamanya. Ya Allah, balurkan cahaya hidayah di sekujur tubuh kami; di hati, dada, pendengaran dan penglihatan kami, agar kami selalu berada dalam jalanMu. Lapangkan dada kami ya Allah. Mudahkanlah urusan kami. Bukalah hati orang-orang yang kami sakiti agar dapat memaafkan kami. Lindungi dan ampuni orang tua kami, suami dan istri kami, anak-anak kami, cucu dan seluruh keturunan kami.  (*Penulis adalah Pengasuh Majelis Zikir Al Mumtaz Surabaya dan Dosen Pascsarjna IKHAC Pacet, Mojokerto)

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry