Oleh: Taufiq Rahman MAP*

DI TENGAH menyeruaknya isu wabah corona yang tak kunjung usai membuat kecemasan dan kegelisahan setiap penduduk dunia khususnya warga Negara Indonesia. Sampai kapankah pandemi bencana masal ini akan berakhir? tentunya sebuah pertanyaan yang sampai sekarang belum bisa terjawab dengan pasti.

Sudah satu minggu ini pula kebijakan social distancing yang diterapkan oleh Pemerintah untuk empat belas hari meniadakan setiap kegiatan yang sifatnya adalah perkumpulan berjalan dan diterapkan. Bagaimana keamanan ekonomi Indonesia untuk beberapa dekade ke depan ini? Apakah pemerintah harus menerapakan kebijakan lock down? Siapa bilang UKM di masa krisis kali ini akan bisa survive?

Pada tahun 1997/1998 memang benar UKM bisa survive dan yang jebol hanyalah mereka yang berhutang dengan dollar, baik BUMN maupun swasta. Disikatnya ekonomi rupiah oleh economic hitman soros and the gank sehingga dalam sebulan dari 2.000 rupiah 1 nilai dollarnya terkerek menjadi 15.000 rupiahnya dan asset negara diambil murah oleh giant koorporasi dunia sehingga masuklah asing, aseng dan banyak lagi raksasa koorporasi lainya mengambil barang barang tersebut dengan harga murah dan sisi UKM waktu itu masih bisa survive.

Kemudian di tahun 2008 kembali terjadi gempa ekonomi dengan kekuatan seperempat dari tahun 1997/1998 UKM di Indonesia juga masih bisa survive. Mengapa UKM tetap survive? Sebab di tahun 1997/1998 dan di tahun 2008 UKM masih bisa impor dan ekspor, sementara di tahun 2020 ini karena banyak negara yang menerapakan kebijakan lock down, karena wabah corona dan low cost oil di bawah produksi mendadak membuat rupiah menjadi loyo, sehingga tidak mempunyai dollar untuk membeli minyak, dollar juga menjadi terbatas, sehingga produksi tekor.

UKM tidak bisa lagi impor bahan baku. Kita pastikan sekali lagi, saat ini krisis 2020 yang jatuh terlentang adalah mereka yang berhutang dan mereka yang bergantung impor. Dua masa krisis yang lalu yang jatuh terlentang adalah yang berhutang, namun sekarang ditambah mereka yang berimpor. Jadi mungkin UKM pun juga akan bermasalah di tahun ini dan tahun depan, rupiah bisa kekisaran Rp16 ribuan seakan-akan itu adalah kepastian. Namun kita harus tetap optimis, jika UKM tersenggol, maka BUMN akan mati suri dan koorporasi besar swasta akan dipindahkan bisnisnya ke luar Indonesia, maka sulit Indonesia untuk berdaulat.

Keadaan ekonomi yang cenderung super slow down saat ini dengan pemulihan ekonomi yang masih distimulus dan mengandalkan sektor relaksasi pajak, membuat negara semakin bergatung pada masyarakat. Secara logika sederhana tidaklah menyelesaikan masalah dan justru membebani negara. Kemudian sistem ekonomi yang saat ini mengacu pada modern monetary theory, di mana saat ini memainkan sektor fiskal namun berlawanan dengan pendekatan moneter yang tentu saja tidak menemukan titik persambungan yang belum ketemu solusi pemecahan masalahnya. Mungkin pendekatan yang diganakan harusnya adalah moneter dengan melakukan penekanan ke sistem, sehingga dari situ bisa dilihat apa yang akan terjadi di akhir tahun ini dan tahun depan.

Sama seperti analisa kita sejak dari tahun 2017 kemarin, di mana Rinso dijadikan ujung tombak ekonomi Indonesia. State kapitalisme yang jadi ujung tombak ekonomi berbasis pinjaman koorporasi BUMN yang membuat jumlah hutang naik secara tiga kali lipat untuk membiayai proyek yang mungkin kurang begitu produktif secara massal dan kemanfaatanya.  Lalu strategi nasionalisasi Freeport yang diambil lima puluh satu persen, blok rokan, blok Mahakam, dan berbagai lokasi lainnya diambil padahal kalau mau pendapatanya lebih tinggi mungkin tidak perlu kepemilikan sebuah usaha yang diambil. Negara tidak perlu berbisnis, mungkin cukup dipajaki saja dan jumlah nilai pajaknya ditinggikan sama juga dapat untungnya kalau dinasionalisasikan ini bertentangan dengan semangat FDI (Foreign Direct Investment).

Mengutip sedikit komentar teman-teman bisnis dari Eropa dan Asean, di mana mereka ternyata malas sekali untuk melakukan investasi di Indonesia dengan dalih dan pertimbangan takut perlahan diambil asetnya. Sehingga mungkin hingga tinggal separuh atas kepemilikan yang dimiliki. Seperti kita menyewakan tempat untuk usaha, di mana ketika si pedagang bisnisnya bagus tentu si tuan rumah akan berfikir “Kenapa saya sewakan? saya bisa membuat usaha sendiri, juga pasti untung lebih banyak.” Kemudian kontrak sewa tidak diperpanjang, si tuan rumah membuat usaha sendiri dan ternyata justru bangkrut.

Jadi, bagaimana uang masuk dengan cepat? ketika tuan rumah dagang, ya bubarlah karena bukan ahlinya, padahal jika mau uang gedean, sekali lagi cukup pajakin aja dengan nilai pajak yang besar semua asing-asing itu dan tambah lagi kewajiban sosial mereka, misalnya diminta untuk membangun sekolah, CSR, dan lain sebagainya karena pendekatan yang digunakan pemerintah kita kan pedekatan relaksasi pajak, jadi cukup pajakin aja. Dan ini usaha lokal malah tidak mendapatkan guyuran moneter melainkan sifatnya hutang atau pinjaman tetapi setoran pajak ke negara justru ditekan-tekan, sementara asing yang tidak dipajak malah diperpanjang kotraknya dengan harapan dikelola sendiri, untungnya lebih besar dan merupakan pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Dengan perilaku kebijakan ekonomi sejak 2017 kemarin hingga saat ini, maka secara analisa kita bisa melihat masalahnya, seperti bagaimana agar kita tidak bergantung pada Cina lagi? Kita sudah putus dengan Amerika dan sudah bukan lagi menjadi bagian dari global supply chain hegemoni lagi dan suatu apresiasi bahwa kita berani melawan hegemoni, lalu beralih dan 40% ekonomi kita berhubungan dengan Cina, yaitu impor sementara Indonesia tetap tidak jadi global supply chain-nya Cina. Indonesia tetap hanyah pasar marketnya Cina. Hal ini dapat dibuktikan dengan neraca perdangan kita dengan Cina selalu minus lebih banyak impornya dari pada ekspornya (baca defisit atau kata lainnya adalah tekor).

Sebuah rekaman video dan rekaman kamera nasa yang disebar di seluruh media sosial didapat fakta bahwa udara di Cina saat ini bersih alias banyak manufaktur yang tidak produksi karena shut down akibat wabah corona dan kita mulai lagi mungkin kira-kira hal ini di Cina akan memakan waktu mencapai pucaknya hingga enam bulanan. Jadi katakan Cina mulai bulan Juni di tahun ini kembali menaikkan kapasitasnya, maka puncaknya akan dicapai pada akhir Desember 2020.

Indonesia tidak akan bisa bertahan sampai Desember 2020 nanti. Inilah saat yang tepat untuk Indonesia bangkit, kemudian menjadi negara berdikari di atas kaki sendiri dengan hempasan sayap Garudanya sesuai dengan dawuh KH Anwar Iskandar Wakil Ro’is Syuriah NU Jawa Timur “Burung garuda terbang angkasa, Indonesia berjaya untuk bangsa”.

*Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Islam Malang.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry