“Dalam suasana ketidakpastian seperti inilah, rakyat seperti ayam kehilangan induk, karena tak ada konsistensi kebijakan yang bisa dijadikan rujukan bersama.”

Oleh: Mabrur Masmuh

PANDEMI Covid-19 benar-benar efektif dalam melakukan revolusi & perubahan tata kehidupan manusia. Mulai dari perubahan pergaulan, pekerjaan, tata kelola pendidikan hingga tata cara peribadatan.

Dari Pandemi ini, kita diajarkan tentang kebiasaan membersihkan tangan, menyaring udara dengan masker dan budaya antre yang tak berdesakan.

Kita pun dibiasakan untuk berintrospeksi diri, bahwa, kita yang sehat pun bisa menjadi penyebar virus. Oleh karena itu diserukan tidak mudik dalam lebaran tahun ini.

Pelajaran yang diberikan Corona benar-benar efektif, karena akibat yang ditimbulkan juga cukup mengerikan, jika kita bandel, tak mematuhi protokol kesehatan.

Dengan semangat memotong mata rantai penyebaran virus itulah, pusat-pusat peribadatan seperti Masjid, Gereja dan sejenisnya diminta tutup.

Namun, belakangan ini muncul berbagai keberatan karena pada saat bersamaan, ruang publik lainnya masih banyak yang buka, seperti Bandara, Mall, serta pasar.

Yang dipersoalkan, “Kenapa masjid ditutup, tapi Mall dan pasar tidak? Ini dianggap sebagai kebijakan diskriminatif, sehingga menimbulkan berbagai praduga. Meski digaan itu belum tentu benar adanya, tapi dugaan itu sudah tertata rapi & massif.

Tentu, narasi yang sangat sensitif seperti ini, mudah sekali menarik perhatian publik karena isunya cukup seksi, agama.

Yang mengundang tanda tanya, kenapa narasi yang mempertentangkan seruan penutupan rumah peribadatan terkesan banyak disuarakan oleh oknum-oknum yang selama ini dikenal sebagai 02?

Atau mungkin itu hanya kebetulan saja karena isu yang diangkat memang urgent & fundamental?

Atau bisa jadi hal ini diakibatkan berbagai kebijakan pemerintah yang menimbulkan kontroversi dalam menangani Pandemi Covid-19? Wallahu a’lam.

Pertentangan itu, makin menajam karena berbagai kebijakan pemerintah justru cenderung berbeda, antara pusat dengan daerah, antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Dalam suasana ketidakpastian seperti inilah, rakyat seperti ayam kehilangan induk, karena tak ada konsistensi kebijakan yang bisa dijadikan rujukan bersama. Antara kebijakan dan aturan pemerintah, cenderung ditafsirkan berbeda-beda oleh petugas di lapangan. Kalau seperti ini, apa salah bunda mengandung?

Yang lebih fatal lagi, dalam suasana yang cenderung disorientatif seperti itu, justru dijadikan lahan empuk oleh segelintir orang untuk menggoreng isu dengan narasi-narasi yang cukup provokatif.

Entah apa maksud dibalik semua itu? Semoga niatnya hanya semata-mata ingin mengontrol agar pemerintah tidak lupa diri, bukan yang lain.

Bahwa ada aroma kompetisi politik, baik untuk pemanasan menuju Pilkada serentak maupun Pilpres 2024, itu juga sulit dipungkiri.

Terlepas dari berbagai agenda dan kompetisi terselubung di balik perang narasi tersebut, sebetulnya hal itu juga dimaknai bahwa Pandemi Corona ini telah membangkitkan ‘kebingungan nasional’ dari berbagai lini masyakarat dan penyelenggara negara.

Masyarakat mulai jenuh dan frustasi karena Pandemi tak kunjung menunjukkan gejala menurun, tapi malah sebaliknya. Lebih parah lagi, harapan mereka kepada pemerintah juga seakan sirna karena negara tak memiliki kemampuan memadai untuk memastikan ‘kapan Pandemi mereda dan berakhir?’

Nyaris, semua sektor kehidupan publik dibuat panik oleh Pandemi atau pageblug abad XXII ini.

Betapa tidak, penghasilan terganggu bahkan nihil, lapangan pekerjaan raib ditelan bumi, sekolah anak-anak jadi terlantar, banyak orang tua yang tak siap rangkap jabatan sebagai guru sekaligus pembimbing belajar, akibat sekolah online.

Belum lagi soal ‘kapan dimulai tahun ajaran baru?’. Tak kalah sedihnya, rasa was-was juga dialami berbagai lembaga pendidikan swasta, termasuk Perguruan Tinggi.

Bahkan, atensi masyarakat juga berkurang terhadap dunia pendidikan karena fokus mereka masih berkutat bagi keberlangsungan penyediaan Sembako untuk kehidupan mereka sehari-hari.

Dalam kekalutan seperti itulah, biasanya “pelarian” paling mudah dilakukan adalah mengadu kepada Tuhan.

Bagi umat Islam, masjid menjadi salah satu sarana cukup memadai sebagai tempat mengadu sambil beri’tikaf atau salah berjamaah.

Di dalam masjid, suasana religiusitas seseorang akan mudah bangkit sehingga memudahkan mereka merasa khusyuk untuk Curhat kepada Allah.

Tapi kini sarana itu ditutup dengan dalih untuk memotong mata rantai penyebaran virus Corona agar Pandemi segera berakhir.

Mematikan Benih Provokasi

Sebaliknya, pemerintah terkesan abai terhadap berbagai pusat kerumunan massa seperti pasar tradisional, mall, maupun pusat perbelanjaan lainnya.

Benarkah demikian? Tentu pemerintah membela diri karena faktanya seluruh mall tutup, kecuali pasar tradisional.

“Serba Salah”. Itulah kalimat yang rasanya cukup mewakili dilema yang dihadapi pemerintah, apalagi menghadapi semangat mudik masyarakat. Kendati sudah ratusan kasus rombongan mudik disuruh balik kanan, tapi semua itu tak menyurutkan semangat sebagian masyarakat.

Dalam suasana kebatinan yang sama-sama dirasakan cukup berat inilah, alangkah bijaknya jika semua pihak termasuk tokoh masyarakat ikut menyejukkan hati masyarakat, bukan sebaliknya.

Jika memungkinkan, tak ada salahnya digelar forum silaturahim nasional -secara virtual- yang melibatkan semua elemen masyarakat agar bangsa kita bisa menyatukan persepsi sekaligus semangat melawan Pandemi ini.

Presiden bersama para elit politik duduk satu forum -virtual- dengan para pimpinan Ormas dan tokoh masyarakat.

Setidaknya, forum seperti itu akan bisa mematikan benih-benih provokasi yang selalu dikobarkan oleh segelintir oknum tak bertanggung jawab. Siapa dia? Wallahu a’lam. ###

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry