Tri Deviasri Wulan – Dosen Prodi S1 Sistem Informasi, Fakultas Teknik

PADA dasarnya indera yang dimiliki oleh manusia adalah peralatan sensor alami yang paling canggih. Indera mata manusia dapat mengenali bentuk objek, telinga untuk mengenali suara, sedangkan alat perasa (lidah) seseorang dapat membedakan rasa. Ketika mata melihat sesuatu, saraf otak langsung bekerja untuk merekam objek yang telah dilihat, otak kita bekerja untuk merekam ciri-ciri objek.

 Indera lain, urutan pengenalannya serupa dengan proses penglihatan. Penglihatan adalah citra yang paling peka sehingga tidak mengejutkan bila citra memainkan peran paling penting dalam persepsi manusia. Bagaimanapun, tidak seperti manusia yang terbatas dalam band penglihatan spektrum elektromagnetik.

Mesin Pencitraan mencangkup hampir semua spektrum elektromagnetik dengan jangkauan sinar mulai sinar gamma sampai gelombang radio. Mesin tersebut dapat mengoperasikan citra yang dihasilkan oleh sumber yang manusia.

Citra digital adalah suatu fungsi dua dimensi yang didasarkan pada nilai intensitas atau grayscale. Nilai intensitas bentuknya adalah diskrit mulai dari 0 sampai 225. Citra yang ditangkap oleh kamera dan telah dikuantitasi dalam bentuk nilai diskrit disebut sebagai citra digital.

Sedangkan foto hasil cetak printer tidak dapat disebut sebagai citra digital, sedangkan foto yang disimpan dalam file gambar (bmp, jpg, png atau format lain) pada komputer dapat disebut sebagai citra digital. Jadi citra digital tersusun dari sejunlah tingkat keabuan yang dikenal sebagai piksel pada posisi tertentu.

Untuk melakukan pemrosesan citra digital, maka citra analog harus dikonversi terlebih dahulu ke dalam bentuk citra digital. Proses scanning menggunakan scanner merupakan salah satu proses konversi dari citra analog menjadi citra digital. Proses pengambilan atau penangkapan objek menggunakan kamera digital akan langsung menghasilkan citra digital.

Area aplikasi pengolahan citra digital ada bermacam-macam. Salah satu cara paling mudah untuk mengembangkan pemahaman dasar tingkat aplikasi pengolahan citra digital adalah dengan mengklasifikasikan citra menurut sumbernya. Sumber energi citra yang digunakan saat ini adalah energi spektrum elektromagnetik. Citra yang didasarkan pada radiasi elektromagnetik yang paling familier, seperti x-ray, sinar gamma, band ultraviolet, dan band radio.

Penggunaan utama dari pencitraan yang didasarkan dari sinar gamma adalah bidang nuklir, medis, dan observasi astronomi. Dalam dunia medis, pendekatannya adalah dengan menginjeksi pasien dengan isotop radioaktif yang memancarkan sinar gamma. Citra dihasilkan dari emisi yang dikumpulkan oleh detektor sinar gamma. Alat media yang memanfaatkan sinar gamma adalah Positron Emission Tomography (PET).

Sinar X (X-Ray) ada diantara sumber radiasi EM yang tertua yang digunakan untuk pencitraan. Penggunaan yang paling terkenal dari X-Ray adalah diagnosis medis, tetapi juga digunakan secara ekstensif dalam industri dan wilayah lain seperti astronomi. Pencitraan sinar X, yaitu tabung hampa dengan katode dan anode.

Katode yang dipanaskan menyebabkan elektron bebas dikeluarkan. Elektron-elektron ini mengalir dengan kecepatan tinggi ke anode yang bermuatan positif. Ketika elektron menabrak nukleus, energi yang dikeluarkan dalam bentuk radiasi sinar X. Energi sinar X dikontrol oleh tegangan yang diberikan pada anode dan oleh tegangan ada filamen katode.

Aplikasi sinar ultraviolet ada bermacam-macam, termasuk lithografi, inspeksi industri, mikroskopi, laser pencitraan biologi dan astronomi. Sinar ultraviolet digunakan dalam fluorensense microscopy, satu dari area mikroskopi yang paling cepat pertumbuhannya. Fluorensense adalah perwujudan yang ditemukan pada pertengahan abad 19.

Sinar ultraviolet tidak dapat dilihat, tetapi ketika photon radiasi ultraviolet bertabrakan dengan elektron dalam atom material fluorescent, mengangkat elektron ke level energi tinggi. Kemudian elektron yang naik tersebut mengendur ke level rendah dan memancarkan cahaya dalam bentuk energi photon yang lebih rendah dalam daerah cahaya yang dapat dilihat mata manusia. fluorensense microscopy adalah metode yang sangat bagus untuk mempelajari bahan-bahan menjadi fluorensense.  *

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry